“Bicaralah… Satu jam lagi kereta Gumarang akan tiba. Lalu apa lagi selanjutnya? Apa masih ada yang lain yang seharusnya aku tahu sejak dahulu?” – Shi Hue
Arloji hitam mungil di
tangan kiriku kini membidik pada angka 4. Di arah jam dua belas, di kursi ruang
tunggu VIP Stasiun Kereta Kota Cirebon, terdapat kelopak mata yang semakin
dibungkus oleh pilu. Ia mengerut dan terus hilang dengan disusuli pupil mata yang
kembang-kempis dengan menyedihkan.
Mata itu berbicara, seolah “Ayo…. Bicara! Saya jauh-jauh datang ke
Stasiun Kereta ini untuk menunggumu. Kamu akan pergi lagi setelah ini – dan kutakut
kau tak kembali lagi dengan sosok Shi Hue enam tahun yang lalu."
Lalu aku membuka
percakapan dan bertanya, “Liu Cheng....
Masih menyukai Hot Chocolate dan Green Tea Donuts seperti dahulu? Kalau iya
akan kupesankan.”
“Saya
masih menyukai Hot Chocolate dan Green Tea Donuts – Pun dengan seluruh kenangan
didalamnya enam tahun yang lalu”, Liu Cheng berujar.
Ketika mendengar apa
yang dikatakan Liu Cheng saat itu, saya hanya tersenyum lirih. Kubangkitkan
ragaku dari kursi empuk yang sengaja ia pesankan untuk menemaniku diruang
tunggu VIP tersebut.
Seketika kami menyeruput
minuman hangat ketika mereka tiba dihadapan masing-masing. Di luar jendela
tinggi disamping kami duduk, terlihat tetesan-tetesan air hujan menggenangi
kaca yang membalut potongan ukiran kayu klasik, membuat suasana kala itu
menjadi “BAPER-BAPERAN”. Lalu
ditengah tatapan ia bertanya, “Shi Hue
kapan akan kembali ke Cirebon lagi? Saya tak berbohong - - bahwa saya akan
menunggu. Saya ingin menebus kesalahan yang membuatmu pergi. Cukup untuk
menghukumku selama enam tahun ini. Saya dan Kim Tha tidak berbahagia.”, Liu
Cheng memancarkan sorot sesalnya.
Saya mendengarkannya
dan terus mendengarkannya sembari menyoroti cincin perak bepermata indah di
jari manisnya. “Xi, bukankah kita telah
berjanji untuk tak saling mengungkit lagi? Kim Tha adalah perempuan baik. Saya
telah mengenalnya semenjak kita duduk di bangku SMA. Ia mempunyai sesuatu yang
lebih dariku untuk membahagiakanmu --- dan itulah yang membuat Nyonya Wina
memilihkannya untuk hidupmu.”
.
.
.
.
Sekian puluh menit
telah berlalu dan sorot tatap menyedihkan yang dipancarkan oleh Liu Cheng tetap
sama --- sama seperti perdebatan hebat kami enam tahun lalu di Kota yang
berteman karib dengan Pantura itu. Saya sungguh mengerti apa yang ia rasakan
--- terlebih Liu Cheng tak pernah menunjukan perubahan keinginan sejak
bertunangan dengan Kim Tha. Saya mengetahuinya melalui postingan demi postingan
blog yang Liu Cheng tulis, melalui ujaran teman-teman dekat kala kami sedang
melakukan reuni sekolah, juga melalui Kim Tha --- tunangan Liu Cheng yang sekaligus sebagai
sahabat kami semasa sekolah SMA lalu.
Tentu… Saya, Liu Cheng,
dan Kim Tha adalah ketiga sahabat semasa SMA. Tak hanya kami saja, orangtua
kami bertiga pun bersahabat karib satu sama lain, itulah yang menyebabkan
perkenalan kami bertiga pada masa remaja. Namun pada enam tahun yang lalu,
bisnis properti yang dibangun oleh ketiga wanita paruh baya beretnis sama ini
mengalami gunjang-ganjing yang amat hebat, terlebih Nyonya Wina (Ibu dari Liu Cheng) berseteru sengit
dengan Ibuku, yang menyebabkan hubungan kami bertiga pun menjadi merenggang.
Pada saat itu Ibuku
tengah berada di masa tersulit dihidupnya. Ia terjerat penipuan investasi
bodong yang menyebabkan keadaan internal keluarga menjadi buyar. Buyarnya
internal di keluargaku saat itu menyebabkan buyarnya juga bisnis properti Ibuku
yang dibangun oleh Nyonya Wina dan Nyonya Xie Tha (Ibu Kim Tha). Hal ini menyebabkan mereka memusuhi Ibuku disaat
Ibuku tengah haus-hausnya akan support dari
rekan yang ia banggakan.
Bulan beralih bulan,
namun simpul permasalahan dari ketiganya tak menemukan muara yang menghangatkan
keadaan. Ditambah koalisi diam-diam antara Nyonya Wina dan Nyonya Xie Tha, yang menyebabkan Ibuku memuncakkan
kesedihan. Pada saat itu, aku dan ibuku memutuskan untuk pindah ke kampung
halaman kami di Porong Sidoardjo untuk memulai sesuatu baru yang tak
semenyengitkan di Kota Cirebon kala itu.
Dan enam tahun
kemudian, dengan segala kenangan buruk Kota Udang ini, saya kembali membawa
ingatan. Ingatan yang tak mudah dilupakan --- terlebih Si Pengisi Ingatan tersebut hadir dihadapan dan menemui saya di Stasiun Kota
Cirebon ini ketika saya hendak kembali ke Sidoardjo setelah mengurus berkas SMA
yang harus saya selesaikan.
.
.
.
Time keeps passing by
Ingatan-ingatan buruk
itu berusaha saya hentikan kala bercakap dengan Liu Cheng di Ruang Tunggu VIP
dengan meninggikan nada suara, “Cukup Xi…
Saya tak datang ke Kota ini karena kamu dan kenangan buruk orang tua kita.
Ribuan hari sebelum hari ini, saya sudah mengikis habis kamu dari ingatan
sebagai seorang Pria. Saya menyimpan ingatan tentangmu sebagai seorang sahabat
lama, lagi --- bersama Kim Tha.”
Dan tanpa sempat Liu
Cheng menjawab pernyataan pedas Shi Hue, terdengar alunan suara bel khas
stasiun kereta dan suara ajakan dari operator untuk memanggil para penumpang
dengan jurusan Surabaya Pasar Turi untuk mendekati jalur keberangkatan tiga.
Tentunya hal ini memaksakan saya untuk berdiri dan beralih diri tepat dari (yang sebenarnya) adalah zona nyaman di
detik itu.
Saya membangunkan raga
dan mengangkat tas ransel coklat dari meja tersebut. Liu Cheng ikut
membangkitkan raga dan merangkul punggung tanganku dengan sigap dan berkata;
“Kamu boleh pergi menjauh demi Saya dan Kim Tha, baik itu enam tahun yang lalu maupun hari ini. Tapi satu yang harus kamu camkan baik-baik diingatanmu yang masih penuh dengan ingatan buruk itu, bahwa kamu tak boleh menikah dengan siapapun kecuali aku --- karena saya akan datang mengejarmu sebagai Shi Hue enam tahun yang lalu sebagai seorang wanita. Dan satu lagi --- ada rahasia yang tak kau ketahui sejak dahulu; bahwa Nyonya Wina Ibuku telah meninggal dua tahun yang lalu. Sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, ia berwasiat untuk mencarimu dan Ibumu untuk menyampaikan maafnya. Selama beberapa tahun setelah kepergianmu dan Ibumu, saya tumbuh menjadi tak karuan dan tanpa arah. Ibuku menyalahkan dirinya atas hal itu, karena ia sempat menjadi salah satu alasan kamu dan Ibumu pergi menjauh mengasingkan diri dari kami. Dan di akhir percakapan terakhir kami, ia mengembalikan keinginanku, ia membatalkan pertunanganku bersama Kim Tha --- Cincin ini adalah cincin perak yang Ibuku pakai sebelum ia berpulang dan ia memintaku memberikannya kepada kamu; Shi Hue --- wanita yang saya pilih.”
Saya yang pada saat itu
tak bisa bersua apa-apa lagi, hanya mampu membalas genggaman erat tangan Liu
Cheng. Ia mencabutkan cincin perak ditangannya dan menyematkannya di jari kanan
tanganku.
Sang operator stasiun
terus memanggil para penumbang gerbong satu yang masih berada ditepian.
Perlahan saya menepikan diri dengan pintu keluar ruang tunggu --- dan saya
lihat ia melambaikan tangan kanannya sebagai bentuk perpisahan. Liu Cheng berjanji
akan menyusul menemuiku di Sidoardjo sebagai Seorang Pria di enam tahun yang
lalu.
