Sabtu, 13 Februari 2016

Gumarang’s Train to Leave Java





“Bicaralah… Satu jam lagi kereta Gumarang akan tiba. Lalu apa lagi selanjutnya? Apa masih ada yang lain yang seharusnya aku tahu sejak dahulu?” – Shi Hue


Arloji hitam mungil di tangan kiriku kini membidik pada angka 4. Di arah jam dua belas, di kursi ruang tunggu VIP Stasiun Kereta Kota Cirebon, terdapat kelopak mata yang semakin dibungkus oleh pilu. Ia mengerut dan terus hilang dengan disusuli pupil mata yang kembang-kempis dengan menyedihkan. 

Mata itu berbicara, seolah “Ayo…. Bicara! Saya jauh-jauh datang ke Stasiun Kereta ini untuk menunggumu. Kamu akan pergi lagi setelah ini – dan kutakut kau tak kembali lagi dengan sosok Shi Hue enam tahun yang lalu."

Lalu aku membuka percakapan dan bertanya, “Liu Cheng.... Masih menyukai Hot Chocolate dan Green Tea Donuts seperti dahulu? Kalau iya akan kupesankan.”


“Saya masih menyukai Hot Chocolate dan Green Tea Donuts – Pun dengan seluruh kenangan didalamnya enam tahun yang lalu”, Liu Cheng berujar.

Ketika mendengar apa yang dikatakan Liu Cheng saat itu, saya hanya tersenyum lirih. Kubangkitkan ragaku dari kursi empuk yang sengaja ia pesankan untuk menemaniku diruang tunggu VIP tersebut.

Seketika kami menyeruput minuman hangat ketika mereka tiba dihadapan masing-masing. Di luar jendela tinggi disamping kami duduk, terlihat tetesan-tetesan air hujan menggenangi kaca yang membalut potongan ukiran kayu klasik, membuat suasana kala itu menjadi “BAPER-BAPERAN”. Lalu ditengah tatapan ia bertanya, “Shi Hue kapan akan kembali ke Cirebon lagi? Saya tak berbohong - - bahwa saya akan menunggu. Saya ingin menebus kesalahan yang membuatmu pergi. Cukup untuk menghukumku selama enam tahun ini. Saya dan Kim Tha tidak berbahagia.”, Liu Cheng memancarkan sorot sesalnya.


Saya mendengarkannya dan terus mendengarkannya sembari menyoroti cincin perak bepermata indah di jari manisnya. “Xi, bukankah kita telah berjanji untuk tak saling mengungkit lagi? Kim Tha adalah perempuan baik. Saya telah mengenalnya semenjak kita duduk di bangku SMA. Ia mempunyai sesuatu yang lebih dariku untuk membahagiakanmu --- dan itulah yang membuat Nyonya Wina memilihkannya untuk hidupmu.”
.
.
.
.

Sekian puluh menit telah berlalu dan sorot tatap menyedihkan yang dipancarkan oleh Liu Cheng tetap sama --- sama seperti perdebatan hebat kami enam tahun lalu di Kota yang berteman karib dengan Pantura itu. Saya sungguh mengerti apa yang ia rasakan --- terlebih Liu Cheng tak pernah menunjukan perubahan keinginan sejak bertunangan dengan Kim Tha. Saya mengetahuinya melalui postingan demi postingan blog yang Liu Cheng tulis, melalui ujaran teman-teman dekat kala kami sedang melakukan reuni sekolah, juga melalui Kim Tha ---  tunangan Liu Cheng yang sekaligus sebagai sahabat kami semasa sekolah SMA lalu.


Tentu… Saya, Liu Cheng, dan Kim Tha adalah ketiga sahabat semasa SMA. Tak hanya kami saja, orangtua kami bertiga pun bersahabat karib satu sama lain, itulah yang menyebabkan perkenalan kami bertiga pada masa remaja. Namun pada enam tahun yang lalu, bisnis properti yang dibangun oleh ketiga wanita paruh baya beretnis sama ini mengalami gunjang-ganjing yang amat hebat, terlebih Nyonya Wina (Ibu dari Liu Cheng) berseteru sengit dengan Ibuku, yang menyebabkan hubungan kami bertiga pun menjadi merenggang. 


Pada saat itu Ibuku tengah berada di masa tersulit dihidupnya. Ia terjerat penipuan investasi bodong yang menyebabkan keadaan internal keluarga menjadi buyar. Buyarnya internal di keluargaku saat itu menyebabkan buyarnya juga bisnis properti Ibuku yang dibangun oleh Nyonya Wina dan Nyonya Xie Tha (Ibu Kim Tha). Hal ini menyebabkan mereka memusuhi Ibuku disaat Ibuku tengah haus-hausnya akan support dari rekan yang ia banggakan.


Bulan beralih bulan, namun simpul permasalahan dari ketiganya tak menemukan muara yang menghangatkan keadaan. Ditambah koalisi diam-diam antara Nyonya Wina dan Nyonya Xie Tha, yang menyebabkan Ibuku memuncakkan kesedihan. Pada saat itu, aku dan ibuku memutuskan untuk pindah ke kampung halaman kami di Porong Sidoardjo untuk memulai sesuatu baru yang tak semenyengitkan di Kota Cirebon kala itu.


Dan enam tahun kemudian, dengan segala kenangan buruk Kota Udang ini, saya kembali membawa ingatan. Ingatan yang tak mudah dilupakan --- terlebih Si Pengisi Ingatan tersebut hadir dihadapan dan menemui saya di Stasiun Kota Cirebon ini ketika saya hendak kembali ke Sidoardjo setelah mengurus berkas SMA yang harus saya selesaikan.
.
.
.
Time keeps passing by
Ingatan-ingatan buruk itu berusaha saya hentikan kala bercakap dengan Liu Cheng di Ruang Tunggu VIP dengan meninggikan nada suara, “Cukup Xi… Saya tak datang ke Kota ini karena kamu dan kenangan buruk orang tua kita. Ribuan hari sebelum hari ini, saya sudah mengikis habis kamu dari ingatan sebagai seorang Pria. Saya menyimpan ingatan tentangmu sebagai seorang sahabat lama, lagi --- bersama Kim Tha.”


Dan tanpa sempat Liu Cheng menjawab pernyataan pedas Shi Hue, terdengar alunan suara bel khas stasiun kereta dan suara ajakan dari operator untuk memanggil para penumpang dengan jurusan Surabaya Pasar Turi untuk mendekati jalur keberangkatan tiga. Tentunya hal ini memaksakan saya untuk berdiri dan beralih diri tepat dari (yang sebenarnya) adalah zona nyaman di detik itu.


Saya membangunkan raga dan mengangkat tas ransel coklat dari meja tersebut. Liu Cheng ikut membangkitkan raga dan merangkul punggung tanganku dengan sigap dan berkata;

“Kamu boleh pergi menjauh demi Saya dan Kim Tha, baik itu enam tahun yang lalu maupun hari ini. Tapi satu yang harus kamu camkan baik-baik diingatanmu yang masih penuh dengan ingatan buruk itu, bahwa kamu tak boleh menikah dengan siapapun kecuali aku --- karena saya akan datang mengejarmu sebagai Shi Hue enam tahun yang lalu sebagai seorang wanita. Dan satu lagi --- ada rahasia yang tak kau ketahui sejak dahulu; bahwa Nyonya Wina Ibuku telah meninggal dua tahun yang lalu. Sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, ia berwasiat untuk mencarimu dan Ibumu untuk menyampaikan maafnya. Selama beberapa tahun setelah kepergianmu dan Ibumu, saya tumbuh menjadi tak karuan dan tanpa arah. Ibuku menyalahkan dirinya atas hal itu, karena ia sempat menjadi salah satu alasan kamu dan Ibumu pergi menjauh mengasingkan diri dari kami. Dan di akhir percakapan terakhir kami, ia mengembalikan keinginanku, ia membatalkan pertunanganku bersama Kim Tha --- Cincin ini adalah cincin perak yang Ibuku pakai sebelum ia berpulang dan ia memintaku memberikannya kepada kamu; Shi Hue --- wanita yang saya pilih.”


Saya yang pada saat itu tak bisa bersua apa-apa lagi, hanya mampu membalas genggaman erat tangan Liu Cheng. Ia mencabutkan cincin perak ditangannya dan menyematkannya di jari kanan tanganku.

Sang operator stasiun terus memanggil para penumbang gerbong satu yang masih berada ditepian. Perlahan saya menepikan diri dengan pintu keluar ruang tunggu --- dan saya lihat ia melambaikan tangan kanannya sebagai bentuk perpisahan. Liu Cheng berjanji akan menyusul menemuiku di Sidoardjo sebagai Seorang Pria di enam tahun yang lalu.