Rabu, 28 September 2016

10 Things Forget & Forgive by A Moment to Remember




Adalah sebuah tulisan yang masih dengan tema “Maaf-Memaafkan”. Ide pokok tulisan ini diangkat dari sebuah International Movie yang booming di tahun 2004 lalu. Film favorit saya bersama Para Sahabat (masih dengan nama Naya dan Caca) yang doyan nongkrong di industri perfilman online. Tahun 2013 adalah tahun pertama saya dipertemukan dengan film ini. Dulu kondisinya masih hambar, masih belum jelas saya sedang bersama siapa (HAHAHA), jadi rada baper kalo nonotn film ini sendirian. Ckckck…Filmnya udah ketinggalan zaman sih, tapi jangan salah, moral lesson-nya tadjem banget, film ini juga berasal dari Negeri Oppa-Oppaku diseberang sana, (OPPA RI HONGKONG!!)
 Ya, A Moment to Remember, yang diperankan oleh Su-Jin dan Chul-Soo, sepasang Dua Pesakitan yang ditemukan karena sebotol minuman c*ca-cola di salah satu supermarket. Baik Su-Jin maupun Chul-Soo mempunyai cerita kelam masing-masing. Su Jin yang hampir dibawa lari oleh suami orang, dan Chul-Soo yang tak kunjung bisa memaafkan perbuatan Ibu Kandungnya yang menelantarkannya sejak kecil.
Make everything turn a fresh, keduanya kembali memulai sesuatu dengan cara yang segar, Su Jin pun tertarik pada Chul-Soo yang pada saat itu tengah mengikuti Architecture Licence Test

Berikut, saya share-kan pesan-pesan segar yang tertuang di fim jadul ini. Film yang mengajarkan kita bagaimana cara sepasang manusia saling menyayangi dengan baik, dengan sejuta ketegasan Chul-Soo dalam menjaga Su Jin yang pada cerita ini menderita penyakit Alzheimer; sebuah penyakit yang menyerang ingatan. A mental death will come before a physical one . Su-Jin’ll forget everything. All Her memories will disapper completely.

1. To forget easily is a gift. So, make everything turn a fresh

Memang, melupakan dengan mudah adalah sebuah hadiah indah dari Tuhan, karena lupa-melupakan adalah cara mudah untuk menghilangkan luka. Dan inilah yang dirasakan oleh Su-Jin & Chul-Soo. Dengan segenap hatinya, Chul-Soo menerima masa lalu Su-Jin bersama Young-Min yang telah beristri. Intinya ya, jempol buat Chul-Soo deh, karena dia selalu bilang, “Gapapa, lupain aja. Bersama adalah telah cukup”. Jadi, beginilah sikap orang dewasa, yang ga terlalu meributkan hal-hal kecil, yang ga akan takut untuk kehilangan ini-itu yang telah baik-baik dia jaga. Bersama adalah telah cukup, masa bodo apa yang telah berlalu, it’s basi.

2. Getting a cut doen’t help forget the past. Don’t get caught up in it, time heals everything
     Kadang perempuan yah, dikit-dikit ada masalah larinya ke rambut, rasanya pengen ngebabat habis mahkota hitam lebatnya, dengan nyanyian kalau sesuatu yang baru bisa dimulai dengan tatanan rambut yang baru juga. HEY, DON’T GET CAUGHT UP IN IT, jangan terlalu berlebihan mengaplikasikan kekesalan/kesedihan pada obyek-obyek disamping kita. Believe me, that time heals everything. Kalau kita rasa sumpek terhadap sesuatu hal yang kita hadapi, percaya, bahwa waktu akan menyebuhkannya sendiri. Kita punya Tuhan, kita punya keluarga dan sahabat. It’s more enough for healing.
 3. Do you have any saving at all? Stop spending and start saving. It’s about time you got a married

     Aww…. Ngeri ya quotes-nya? Bagian ini adalah best favorit yang super banget-pol diantara kutipan yang saya rangkup di film ini. Haha… ‘Cause its about saving for something you find in a way, apalagi kalau bukan nikah? Satu hal yang membuat manusia tertarik pada lawan jenis adalah yah tentang yang satu ini, berlanjut, lanjut-melanjutkan untuk bisa lanjut-lanjutan dengan terkejut. Wkwkwk (Bingung sama bahasa sendiri).
     Ini juga kayak self-reminder buat saya juga sih, kalau mulai sekarang itu kudu Stop spending and start saving, karena sudah dewasa, sudah banyak yang harus dipertimbangkan. Dan ini juga yang diceritakan di film ini, bahwa Chul-Soo itu pinter berjuang dan ngumpulin uang. Jempol lagi untuk Chul-Soo.

4. A true architect fears a blank canvas

      Untuk kutipan keempat ini, saya merubah ide pokok dari Arsitek menjadi Pujangga. Banyak yang saya temui bahwa terdapat segelintir orang yang suka comat-comot karya oranglain tanpa menyertainya dengan kode etik kutipan yang benar. Ini pun berlaku disini, bahwa, a true Poet fears a blank paper. Alangkah senang pembaca jika apa yang kita tulis adalah apa yang menjadi diri kita, bukan memaksakan menjadi pihak lain yang pernah berkontribusi. Berkarya secara sehat.  Semoga, kita bisa banyak belajar dari hal ini.

5. My wife was an inspiration
    Kembali lagi pada Chul-Soo, bahwa kita bisa banyak belajar dari Pria Gondrong menggemaskan ini. Chul-Soo pandai bersyukur atas apapun yang telah Ia terima dari hadiah Tuhan. Bahwa Ia memiliki Su-Jin yang selalu ia banggakan sebagai objek atas karya-karya arsitekturnya, (PLEASE JANGAN BAPER!). Bahwa terkadang, menanggap seseorang itu ada dan menjadikannya sebuah berharga adalah suatu keharusan. Bahwa terkadang, ketika Chul-Soo membahagiakan Su-Jin, Ia akan turut bahagia juga setelahnya. Begitulah cinta bekerja.

6. Wait for a little time. I’ve been eyeing this lot for three years now

     Kita tidak bisa berada di lantai sepuluh jika tak memulainya pada lantai satu, bukan? Begitulah juga dengan perjuangan. Banyak hal yang saya temui di beberapa lingkungan, yang menuntut orang-orangnya untuk langsung *duar* jadi luar biasa. Orang luar biasa pun pada awalnya menjadi biasa dulu, berasah tanpa pasrah hingga pantas dijadikan luar biasa. 

 7. Forgving? It’s just, giving away just one plain room in your heart
     Memaafkan itu bukanlah hal yang sulit. Kita hanya perlu menyediakan suatu tempat di hati kecil kita. Saya paham, bahwa untuk beberapa pihak (termasuk saya), memaafka ketika sedang marah adalah hal yang sangat sukar kita lakukan, ini pun yang dirasakan Chul-Soo ketika Su-Jin memintanya untuk menemui Ibu Kandungnya, dan memaafkannya dengan tulus. Caranya Su- Ji dalam merayu Chul-Soo itu asyik banget. Dia langsung luluh, walau tangannya berlumur darah, karena apa? Karena memaafkan adalah hanya perlu menyediakan ruang kecil di hati kecil kita.
 8. Sould I quit my job? Why don’t I stay home and do the chores?


      Saya mau saya mau saya mau saya mauuuuuuuuu. Hehe… Mau apa? Mau melaksanakan pekerjaan rumah seperti Su-Jin. Bangun terlebih dahulu untuk memasak sarapan, dan tidur lebih telat untuk memanjakan kepenatan hari Chul-Soo. Nikmat ya? Tapi, nampaknya cerita ini sudah mulai pada klimaks, bahwa Su-Jin telah terindikasi dengan penyakit Alzheimer yang menyerangnya.
 9.A mental death will come before a physical one . Su-Jin’ll forget everything. All Her memories will disapper completely

    Im sorry, I never meant to break your heart. Are you crying now? God, what have I done? I didn’t want to see you crying or in pain. I wanted to make you happy. But all I’ve done is put you in agony. Chul-soo! Oh my love Chul-Soo. Don’t get me wrong. I only love you and only you. How badly do I wish to show you in my heart. Is there any way I can do that while my memory remains? I don’t want to forget that. I’m afraid my just-returned memory will leave me again, before I tell you everything I have to say. I love you. I met you because I was forgetful. Im leaving you because Im forgetful, too. You were the best thing that ever happened to me. How thankful I am to God for having sent you as a gift to me. I don’t have to remember you. You are a part of me. I smile, laugh, and smell like you do. I might forget yo, but nothing can drive you out of my body. – Su-Jin.
Ini bagian surat yang dituliskan Su-Jin untuk Chul-Soo ketika ia tengah mengingat ingatannya. Sedih memang jika sepasang manusia harus berpisah dengan cara yang seperti ini. No, tidak ada perpisahan yang indah.

10.   If you forget everything, I will pop up out of nowhere. Im your memory, I’m your heart. No more tears 
   
I said I’d remember everyhthing for you. You know that I’m smart.  I passed the architect test on the first day. You didn’t foget that. If you forget everything, I will pop up out of nowhere. Im your memory, I’m your heart. No more tears. – Chul Soo.




Jumat, 16 September 2016

13 Ingatan bersama Naya dan Caca



“Naya, Caca, kelak jika kita hidup di Pulau berbeda, tetaplah mengunjungiku sebagai teman baik, yang pernah memimpikan bernene-nenek dengan baik bersama, di Pulau yang sama.” – Rere (Dennisa)

Naya dan Caca. Masih dengan nama yang sama. Aku mengenal mereka melalui Pulau ini. Pulau yang sama sekali tak pernah terlintas untuk kusinggahi walau hanya sekejap. Pulau yang memberikan banyak kesan baik-buruk dalam ingatan. Pulau yang banyak mendidikku menjadi tegar dan segar. Pulau yang memperkenalkanku pada orang-orang asing, yang kemudian menjadi penting. Pulau yang, maaf, (ongkos pesawatnya mahal banget dari Bandung ataupun Jakarta) Hahahaa… *serius ah*
Naya dan Caca. Masih dengan kepribadian yang sama. Kami berbeda watak, sangat berbeda. Bukan tak pernah, kami mengalami berbagai konflik, jangka pendek maupun jangka panjang. Konflik yang hanya sebatas adu mulut, sampai konflik yang main tendang-guling-gulingan badan. Itulah cinta, seberapa pun menyebalkannya mereka, kalian akan selalu punya alasan untuk memaafkan. Dalam hal ini, teori “Loving can Heal” adalah mutlak.
Naya dan Caca. Masih dengan tujuan hidup yang sama. Ada yang ingin melanjutkan sekolah setinggi-tingginya dan tumbuh menjadi pengabdi Negara (Caca). Ada juga yang ingin melanjutkan bisnis perhotelan keluarga dengan orientasi turis-dolar-turis-dolar (Naya).
Naya dan Caca. Masih dengan gaya belajar yang sama. Ada yang bandel, susah diatur, main terus, bolos terus, tapi pinter. Ada yang flat, enggak rajin-enggak malas, tapi bah….. peka banget sama waktu, nurut banget sama prosedur-prosedur.
Naya dan Caca. Masih dengan kekasih-kekasihnya yang sama (YAELAAAAH, NGAPA BAHAS INI YA). Walau berbeda nama penjudulan, tapi mereka masih mengingat orang yang sama. Ada yang betah putus nyambung, tapi selalu terlihat romantis (Caca), ada juga yang betah nunggu mantan putus dengan gebetan barunya, tapi sok-sokan kuat kayak wonder woman (Naya). Hahaaa.. Tapi, bagaimanapun cara mereka menjudulkan rasa, aku tetap menyayangi dan mendukung apapun keputusan mereka, mereka sudah dewasa!!!
Naya dan Caca. Masih dengan Aku, Penulis tulisan yang sama. Tak terasa, telah hampir tiga tahun setengah kita saling mengenal seperti ini. Sungguh sangat egois, jika aku sama sekali tak menulis tentang kalian di tahun terakhirku di Pulau ini. Aku ingin menyampaikan rasa terimakasihku, karena kalian telah terlahir ke dunia, menemaniku berjalan dengan baik, disini.
Ini adalah 13 Ingatan Baik bersama Naya dan Caca:
1.  Hari Pertama Paska Ospek Bersapa di Tangga Gedung C Fakultas Pertanian Universitas Mataram
Yang paling kiri, pakai kerudung pink adalah Astika. Pernah menjadi bagian dari kita, yang sekarang menghilang ditelan misteri-misteri.
2.Tradisi yang Tak Pernah Terlupa, Berfoto bersama Dosen di Hari Terakhir Perkuliahan Sebelum Ujian
"Pak, boleh minta waktunya sebentar? untuk kenang-kenangan kami suatu hari nanti pak" Hahaha... Memalukan mengingatnya ih --"
3. Ketika Caca Memperkenalkan Orang Asing yang Menjadi Penting; Pandu Taura Dewantara
"Hi Re! sini, daftar kegiatan dong, gabung sama kita.. ini, Pandu yang sering aku cerita-ceritain" - Caca
4. Piknik Bersama di Pulau Gili Air

Kita difasilitasi full akomodasi sama si Empunya Pulau, Pemilik salah satu hotel di pulau ini, Naya.
5. Piknik ke Jakarta

Foto ini diambil oleh Wakil Dekan III, loh. Kita bertemu di bandara dan diberi bekal-bekal gitu. hehe ^_^
Hari itu juga, hari pertama Naya mengenakan kerudung cantiknya. Oh bahagianya.
6. Lebaran di Kuningan

Ruang tamu rumah Rere yang sempit
7. Piknik ke Borobodur, Magelang-Yogyakarta.

Muka-muka lesu yang harus hemat uang jajan.
8. Piknik ke Malioboro

Demi sahabat, aku rela bulak-balik Kaliurang-Malioboro setiap hari. Ngapain? BELANJA OLEH-OLEH!
9. Surprise Ulang Tahun Rere yang ke 21

Ini surprise yang paling kurang ajar, kelebihan sebulan.
10. Les Peramalan Bisnis di Sayang-Sayang

Di rumah Bude Rere
11. Surprise Ulang Tahun Naya

Di Pelabuhan Bangsal, Lombok Utara.
12. Piknik ke 2.300 mdpl

Di Bukit Nanggi, Sembalun, Lombok Timur
13. Jenguk si yang paling manja, Caca.

Di posko KKN Caca.


Sabtu, 13 Februari 2016

Gumarang’s Train to Leave Java





“Bicaralah… Satu jam lagi kereta Gumarang akan tiba. Lalu apa lagi selanjutnya? Apa masih ada yang lain yang seharusnya aku tahu sejak dahulu?” – Shi Hue


Arloji hitam mungil di tangan kiriku kini membidik pada angka 4. Di arah jam dua belas, di kursi ruang tunggu VIP Stasiun Kereta Kota Cirebon, terdapat kelopak mata yang semakin dibungkus oleh pilu. Ia mengerut dan terus hilang dengan disusuli pupil mata yang kembang-kempis dengan menyedihkan. 

Mata itu berbicara, seolah “Ayo…. Bicara! Saya jauh-jauh datang ke Stasiun Kereta ini untuk menunggumu. Kamu akan pergi lagi setelah ini – dan kutakut kau tak kembali lagi dengan sosok Shi Hue enam tahun yang lalu."

Lalu aku membuka percakapan dan bertanya, “Liu Cheng.... Masih menyukai Hot Chocolate dan Green Tea Donuts seperti dahulu? Kalau iya akan kupesankan.”


“Saya masih menyukai Hot Chocolate dan Green Tea Donuts – Pun dengan seluruh kenangan didalamnya enam tahun yang lalu”, Liu Cheng berujar.

Ketika mendengar apa yang dikatakan Liu Cheng saat itu, saya hanya tersenyum lirih. Kubangkitkan ragaku dari kursi empuk yang sengaja ia pesankan untuk menemaniku diruang tunggu VIP tersebut.

Seketika kami menyeruput minuman hangat ketika mereka tiba dihadapan masing-masing. Di luar jendela tinggi disamping kami duduk, terlihat tetesan-tetesan air hujan menggenangi kaca yang membalut potongan ukiran kayu klasik, membuat suasana kala itu menjadi “BAPER-BAPERAN”. Lalu ditengah tatapan ia bertanya, “Shi Hue kapan akan kembali ke Cirebon lagi? Saya tak berbohong - - bahwa saya akan menunggu. Saya ingin menebus kesalahan yang membuatmu pergi. Cukup untuk menghukumku selama enam tahun ini. Saya dan Kim Tha tidak berbahagia.”, Liu Cheng memancarkan sorot sesalnya.


Saya mendengarkannya dan terus mendengarkannya sembari menyoroti cincin perak bepermata indah di jari manisnya. “Xi, bukankah kita telah berjanji untuk tak saling mengungkit lagi? Kim Tha adalah perempuan baik. Saya telah mengenalnya semenjak kita duduk di bangku SMA. Ia mempunyai sesuatu yang lebih dariku untuk membahagiakanmu --- dan itulah yang membuat Nyonya Wina memilihkannya untuk hidupmu.”
.
.
.
.

Sekian puluh menit telah berlalu dan sorot tatap menyedihkan yang dipancarkan oleh Liu Cheng tetap sama --- sama seperti perdebatan hebat kami enam tahun lalu di Kota yang berteman karib dengan Pantura itu. Saya sungguh mengerti apa yang ia rasakan --- terlebih Liu Cheng tak pernah menunjukan perubahan keinginan sejak bertunangan dengan Kim Tha. Saya mengetahuinya melalui postingan demi postingan blog yang Liu Cheng tulis, melalui ujaran teman-teman dekat kala kami sedang melakukan reuni sekolah, juga melalui Kim Tha ---  tunangan Liu Cheng yang sekaligus sebagai sahabat kami semasa sekolah SMA lalu.


Tentu… Saya, Liu Cheng, dan Kim Tha adalah ketiga sahabat semasa SMA. Tak hanya kami saja, orangtua kami bertiga pun bersahabat karib satu sama lain, itulah yang menyebabkan perkenalan kami bertiga pada masa remaja. Namun pada enam tahun yang lalu, bisnis properti yang dibangun oleh ketiga wanita paruh baya beretnis sama ini mengalami gunjang-ganjing yang amat hebat, terlebih Nyonya Wina (Ibu dari Liu Cheng) berseteru sengit dengan Ibuku, yang menyebabkan hubungan kami bertiga pun menjadi merenggang. 


Pada saat itu Ibuku tengah berada di masa tersulit dihidupnya. Ia terjerat penipuan investasi bodong yang menyebabkan keadaan internal keluarga menjadi buyar. Buyarnya internal di keluargaku saat itu menyebabkan buyarnya juga bisnis properti Ibuku yang dibangun oleh Nyonya Wina dan Nyonya Xie Tha (Ibu Kim Tha). Hal ini menyebabkan mereka memusuhi Ibuku disaat Ibuku tengah haus-hausnya akan support dari rekan yang ia banggakan.


Bulan beralih bulan, namun simpul permasalahan dari ketiganya tak menemukan muara yang menghangatkan keadaan. Ditambah koalisi diam-diam antara Nyonya Wina dan Nyonya Xie Tha, yang menyebabkan Ibuku memuncakkan kesedihan. Pada saat itu, aku dan ibuku memutuskan untuk pindah ke kampung halaman kami di Porong Sidoardjo untuk memulai sesuatu baru yang tak semenyengitkan di Kota Cirebon kala itu.


Dan enam tahun kemudian, dengan segala kenangan buruk Kota Udang ini, saya kembali membawa ingatan. Ingatan yang tak mudah dilupakan --- terlebih Si Pengisi Ingatan tersebut hadir dihadapan dan menemui saya di Stasiun Kota Cirebon ini ketika saya hendak kembali ke Sidoardjo setelah mengurus berkas SMA yang harus saya selesaikan.
.
.
.
Time keeps passing by
Ingatan-ingatan buruk itu berusaha saya hentikan kala bercakap dengan Liu Cheng di Ruang Tunggu VIP dengan meninggikan nada suara, “Cukup Xi… Saya tak datang ke Kota ini karena kamu dan kenangan buruk orang tua kita. Ribuan hari sebelum hari ini, saya sudah mengikis habis kamu dari ingatan sebagai seorang Pria. Saya menyimpan ingatan tentangmu sebagai seorang sahabat lama, lagi --- bersama Kim Tha.”


Dan tanpa sempat Liu Cheng menjawab pernyataan pedas Shi Hue, terdengar alunan suara bel khas stasiun kereta dan suara ajakan dari operator untuk memanggil para penumpang dengan jurusan Surabaya Pasar Turi untuk mendekati jalur keberangkatan tiga. Tentunya hal ini memaksakan saya untuk berdiri dan beralih diri tepat dari (yang sebenarnya) adalah zona nyaman di detik itu.


Saya membangunkan raga dan mengangkat tas ransel coklat dari meja tersebut. Liu Cheng ikut membangkitkan raga dan merangkul punggung tanganku dengan sigap dan berkata;

“Kamu boleh pergi menjauh demi Saya dan Kim Tha, baik itu enam tahun yang lalu maupun hari ini. Tapi satu yang harus kamu camkan baik-baik diingatanmu yang masih penuh dengan ingatan buruk itu, bahwa kamu tak boleh menikah dengan siapapun kecuali aku --- karena saya akan datang mengejarmu sebagai Shi Hue enam tahun yang lalu sebagai seorang wanita. Dan satu lagi --- ada rahasia yang tak kau ketahui sejak dahulu; bahwa Nyonya Wina Ibuku telah meninggal dua tahun yang lalu. Sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, ia berwasiat untuk mencarimu dan Ibumu untuk menyampaikan maafnya. Selama beberapa tahun setelah kepergianmu dan Ibumu, saya tumbuh menjadi tak karuan dan tanpa arah. Ibuku menyalahkan dirinya atas hal itu, karena ia sempat menjadi salah satu alasan kamu dan Ibumu pergi menjauh mengasingkan diri dari kami. Dan di akhir percakapan terakhir kami, ia mengembalikan keinginanku, ia membatalkan pertunanganku bersama Kim Tha --- Cincin ini adalah cincin perak yang Ibuku pakai sebelum ia berpulang dan ia memintaku memberikannya kepada kamu; Shi Hue --- wanita yang saya pilih.”


Saya yang pada saat itu tak bisa bersua apa-apa lagi, hanya mampu membalas genggaman erat tangan Liu Cheng. Ia mencabutkan cincin perak ditangannya dan menyematkannya di jari kanan tanganku.

Sang operator stasiun terus memanggil para penumbang gerbong satu yang masih berada ditepian. Perlahan saya menepikan diri dengan pintu keluar ruang tunggu --- dan saya lihat ia melambaikan tangan kanannya sebagai bentuk perpisahan. Liu Cheng berjanji akan menyusul menemuiku di Sidoardjo sebagai Seorang Pria di enam tahun yang lalu.