Adalah
sebuah tulisan yang masih dengan tema “Maaf-Memaafkan”. Ide pokok tulisan ini diangkat
dari sebuah International Movie yang booming di tahun 2004 lalu. Film favorit
saya bersama Para Sahabat (masih dengan nama Naya dan Caca) yang doyan
nongkrong di industri perfilman online. Tahun 2013 adalah tahun pertama saya
dipertemukan dengan film ini. Dulu kondisinya masih hambar, masih belum jelas
saya sedang bersama siapa (HAHAHA), jadi rada baper kalo nonotn film ini
sendirian. Ckckck…Filmnya udah ketinggalan zaman sih, tapi jangan salah, moral lesson-nya tadjem banget,
film ini juga berasal dari Negeri Oppa-Oppaku diseberang sana, (OPPA RI
HONGKONG!!)
Ya, A Moment to Remember, yang diperankan
oleh Su-Jin dan Chul-Soo, sepasang Dua Pesakitan yang ditemukan karena sebotol
minuman c*ca-cola di salah satu supermarket. Baik Su-Jin maupun Chul-Soo mempunyai
cerita kelam masing-masing. Su Jin yang hampir dibawa lari oleh suami orang,
dan Chul-Soo yang tak kunjung bisa memaafkan perbuatan Ibu Kandungnya yang
menelantarkannya sejak kecil.
Make
everything turn a fresh, keduanya kembali memulai sesuatu
dengan cara yang segar, Su Jin pun tertarik pada Chul-Soo yang pada saat itu
tengah mengikuti Architecture Licence
Test.
Berikut,
saya share-kan pesan-pesan segar yang
tertuang di fim jadul ini. Film yang mengajarkan kita bagaimana cara sepasang
manusia saling menyayangi dengan baik, dengan sejuta ketegasan Chul-Soo dalam
menjaga Su Jin yang pada cerita ini menderita penyakit Alzheimer; sebuah penyakit yang menyerang ingatan. A mental death will come before a physical
one . Su-Jin’ll forget everything.
All Her memories will disapper completely.
Memang, melupakan dengan mudah adalah sebuah hadiah indah dari Tuhan, karena lupa-melupakan adalah cara mudah untuk menghilangkan luka. Dan inilah yang dirasakan oleh Su-Jin & Chul-Soo. Dengan segenap hatinya, Chul-Soo menerima masa lalu Su-Jin bersama Young-Min yang telah beristri. Intinya ya, jempol buat Chul-Soo deh, karena dia selalu bilang, “Gapapa, lupain aja. Bersama adalah telah cukup”. Jadi, beginilah sikap orang dewasa, yang ga terlalu meributkan hal-hal kecil, yang ga akan takut untuk kehilangan ini-itu yang telah baik-baik dia jaga. Bersama adalah telah cukup, masa bodo apa yang telah berlalu, it’s basi.
2. Getting a cut doen’t help forget the past. Don’t get caught up in it, time heals everything
Kadang perempuan yah, dikit-dikit ada masalah larinya ke rambut, rasanya pengen ngebabat habis mahkota hitam lebatnya, dengan nyanyian kalau sesuatu yang baru bisa dimulai dengan tatanan rambut yang baru juga. HEY, DON’T GET CAUGHT UP IN IT, jangan terlalu berlebihan mengaplikasikan kekesalan/kesedihan pada obyek-obyek disamping kita. Believe me, that time heals everything. Kalau kita rasa sumpek terhadap sesuatu hal yang kita hadapi, percaya, bahwa waktu akan menyebuhkannya sendiri. Kita punya Tuhan, kita punya keluarga dan sahabat. It’s more enough for healing.
3. Do you have any saving at all? Stop
spending and start saving. It’s about time you got a married
Aww…. Ngeri ya quotes-nya? Bagian ini adalah best favorit yang super banget-pol diantara kutipan yang saya rangkup di film ini. Haha… ‘Cause its about saving for something you find in a way, apalagi kalau bukan nikah? Satu hal yang membuat manusia tertarik pada lawan jenis adalah yah tentang yang satu ini, berlanjut, lanjut-melanjutkan untuk bisa lanjut-lanjutan dengan terkejut. Wkwkwk (Bingung sama bahasa sendiri).
Ini juga kayak self-reminder buat saya juga sih, kalau mulai sekarang itu kudu Stop spending and start saving, karena sudah dewasa, sudah banyak yang harus dipertimbangkan. Dan ini juga yang diceritakan di film ini, bahwa Chul-Soo itu pinter berjuang dan ngumpulin uang. Jempol lagi untuk Chul-Soo.
4. A true architect fears a blank
canvas
Untuk kutipan keempat ini, saya merubah ide pokok dari Arsitek menjadi Pujangga. Banyak yang saya temui bahwa terdapat segelintir orang yang suka comat-comot karya oranglain tanpa menyertainya dengan kode etik kutipan yang benar. Ini pun berlaku disini, bahwa, a true Poet fears a blank paper. Alangkah senang pembaca jika apa yang kita tulis adalah apa yang menjadi diri kita, bukan memaksakan menjadi pihak lain yang pernah berkontribusi. Berkarya secara sehat. Semoga, kita bisa banyak belajar dari hal ini.
5. My wife was an inspiration
Kembali lagi pada Chul-Soo, bahwa kita bisa banyak belajar dari Pria Gondrong menggemaskan ini. Chul-Soo pandai bersyukur atas apapun yang telah Ia terima dari hadiah Tuhan. Bahwa Ia memiliki Su-Jin yang selalu ia banggakan sebagai objek atas karya-karya arsitekturnya, (PLEASE JANGAN BAPER!). Bahwa terkadang, menanggap seseorang itu ada dan menjadikannya sebuah berharga adalah suatu keharusan. Bahwa terkadang, ketika Chul-Soo membahagiakan Su-Jin, Ia akan turut bahagia juga setelahnya. Begitulah cinta bekerja.
6. Wait
for a little time. I’ve been eyeing this lot for three years now
Kita tidak bisa berada di lantai sepuluh jika tak memulainya pada lantai satu, bukan? Begitulah juga dengan perjuangan. Banyak hal yang saya temui di beberapa lingkungan, yang menuntut orang-orangnya untuk langsung *duar* jadi luar biasa. Orang luar biasa pun pada awalnya menjadi biasa dulu, berasah tanpa pasrah hingga pantas dijadikan luar biasa.
7. Forgving?
It’s just, giving away just one plain room in your heart
Memaafkan itu bukanlah hal yang sulit. Kita hanya perlu menyediakan suatu tempat di hati kecil kita. Saya paham, bahwa untuk beberapa pihak (termasuk saya), memaafka ketika sedang marah adalah hal yang sangat sukar kita lakukan, ini pun yang dirasakan Chul-Soo ketika Su-Jin memintanya untuk menemui Ibu Kandungnya, dan memaafkannya dengan tulus. Caranya Su- Ji dalam merayu Chul-Soo itu asyik banget. Dia langsung luluh, walau tangannya berlumur darah, karena apa? Karena memaafkan adalah hanya perlu menyediakan ruang kecil di hati kecil kita.
8. Sould I quit my job? Why don’t I
stay home and do the chores?
Saya mau saya mau saya mau saya mauuuuuuuuu. Hehe… Mau apa? Mau melaksanakan pekerjaan rumah seperti Su-Jin. Bangun terlebih dahulu untuk memasak sarapan, dan tidur lebih telat untuk memanjakan kepenatan hari Chul-Soo. Nikmat ya? Tapi, nampaknya cerita ini sudah mulai pada klimaks, bahwa Su-Jin telah terindikasi dengan penyakit Alzheimer yang menyerangnya.
9.A mental death will come before a
physical one . Su-Jin’ll forget everything. All Her memories will
disapper completely
Im sorry, I never meant to break your heart. Are you crying now? God, what have I done? I didn’t want to see you crying or in pain. I wanted to make you happy. But all I’ve done is put you in agony. Chul-soo! Oh my love Chul-Soo. Don’t get me wrong. I only love you and only you. How badly do I wish to show you in my heart. Is there any way I can do that while my memory remains? I don’t want to forget that. I’m afraid my just-returned memory will leave me again, before I tell you everything I have to say. I love you. I met you because I was forgetful. Im leaving you because Im forgetful, too. You were the best thing that ever happened to me. How thankful I am to God for having sent you as a gift to me. I don’t have to remember you. You are a part of me. I smile, laugh, and smell like you do. I might forget yo, but nothing can drive you out of my body. – Su-Jin.
Ini
bagian surat yang dituliskan Su-Jin untuk Chul-Soo ketika ia tengah mengingat
ingatannya. Sedih memang jika sepasang manusia harus berpisah dengan cara yang
seperti ini. No, tidak ada perpisahan
yang indah.
I said I’d remember everyhthing for you. You know that I’m smart. I passed the architect test on the first day. You didn’t foget that. If you forget everything, I will pop up out of nowhere. Im your memory, I’m your heart. No more tears. – Chul Soo.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar