A: Tadi saya di gubuk
B: Lalu?
A: Saat itu saya haus dan ingin minum
B: Lantas?
A: Saya menemukan gelas yang cantik dan saya ambil air mata dari gunung itu
B: Lalu kau minum?
A: Tidak,saya lupa cara minum air dalam gelas, air itu selalu tumpah dan tumpah lagi.
B: Kenapa?
A: Karena kamu tidak ada disisi saya saat itu, semuanya terasa kacau karena kamu jauh
B: Hal kecil yang berdampak besar dan hal kecil yang berarti besar, "Itu yang saya tangkap dari perkataanmu"
- - -
Kata-kata saya kala itu belum sempurna,
karena saya bukanlah seorang penulis,
Saya hanya seolang calon arsitek yang mencoba untuk mencurahkan isi hatinya lewat tulisan, bukan lewat gambar seperti biasanya.
Karena dengan kata-kata lah yang bisa membuat dia paham,
karena dia seorang penulis.
Bandung, 30 November 2013.
01.30 WIB
Jumat, 29 November 2013
Semusim Bersemi Bunga
"Bandung, 30 November 2013.
Saya hanya merasa aneh, teramat begitu menyiksa diri saya sendiri.
Saya baru menyadari bahwa kau memang begitu berarti,
Kau berbeda dengan wanita lainnya yang saya kenal,
Waktu singkat ini lah yang menjawab,
Hanya beberapa bulan hidup saya terasa unik,
Butuh waktu yang lama untuk bisa memahami,
Dan butuh waktu yang lama untuk menyadarinya.
Saya harap,
Bunga itu bisa bersemi setiap hari,
Setiap bulan,
Bahkan setiap tahun,
tidak hanya semusim..
Tetapi saya sadar,
Bunga tidak seperti itu
Dia hanya bisa bertahan pada waktu musimnya
Tidak bisa bertahan dengan musim yang lain
Indahnya bunga
Manjanya bunga
Uniknya bunga
Manisnya bunga
Sakitnya bunga
Kembalilah......
Kembalilah pada pemuda ini,
pemuda yang bahkan pernah menyia-nyiakan ketika kau hendak mekar dengan kelopak bungamu yang berwarna indah.
Kembalilah....."
Saya hanya merasa aneh, teramat begitu menyiksa diri saya sendiri.
Saya baru menyadari bahwa kau memang begitu berarti,
Kau berbeda dengan wanita lainnya yang saya kenal,
Waktu singkat ini lah yang menjawab,
Hanya beberapa bulan hidup saya terasa unik,
Butuh waktu yang lama untuk bisa memahami,
Dan butuh waktu yang lama untuk menyadarinya.
Saya harap,
Bunga itu bisa bersemi setiap hari,
Setiap bulan,
Bahkan setiap tahun,
tidak hanya semusim..
Tetapi saya sadar,
Bunga tidak seperti itu
Dia hanya bisa bertahan pada waktu musimnya
Tidak bisa bertahan dengan musim yang lain
Indahnya bunga
Manjanya bunga
Uniknya bunga
Manisnya bunga
Sakitnya bunga
Kembalilah......
Kembalilah pada pemuda ini,
pemuda yang bahkan pernah menyia-nyiakan ketika kau hendak mekar dengan kelopak bungamu yang berwarna indah.
Kembalilah....."
Gelas Yang Kau Pecahkan Petang Itu
Petang itu,
Dipinggir tegalan padi menguning
Jingganya mentari sore
Angin yang mendesah pelah
Dan suara-suara burung kecil
Bersama dengan perempuan yang cantik nan jelita
Kau datang dengan sebuah mobil jazz berwarna merah
Aku yang kala itu terlihat begitu culun, lugu, bodoh
Tampak berbeda dengan perempuan yang kau gandeng
Rambutnya panjang terurai
Dengan sedikit warna pirang
Kulitnya yang putih
Dibalut dengan gaun silver berbunga
Tampak berbeda denganku
Yang kala itu hanya memakai kaos oblong
Dengan rok selutut
Dan rambut yang diikat dua
Seperti gadis desa yang sedang jadi penonton raja dan ratu didepannya.
Kau,,
Adam,,
Teman kecilku,,
Cinta pertamaku,,
Malam sebelumnya
Sebelum kau hendak pergi ke kota lagi
Aku memberikan sepucuk surat beramplopkan merah muda berbunga
Diakhir surat itu aku tuliskan "Untuk jawabanmu, aku tunggu kau di tepi sawah yang dahulu sering kita lewati bersama ketika berangkat sekolah"
Dan esok sorenya,
Kau datang,
Benar-benar datang,
Kau datang dengan jawabanmu,
Bahwa kau lebih mencintai perempuan bergaun silver itu
Dibandingkan untuk mencintaiku (lagi), cinta pertamamu.
Dipinggir tegalan padi menguning
Jingganya mentari sore
Angin yang mendesah pelah
Dan suara-suara burung kecil
Bersama dengan perempuan yang cantik nan jelita
Kau datang dengan sebuah mobil jazz berwarna merah
Aku yang kala itu terlihat begitu culun, lugu, bodoh
Tampak berbeda dengan perempuan yang kau gandeng
Rambutnya panjang terurai
Dengan sedikit warna pirang
Kulitnya yang putih
Dibalut dengan gaun silver berbunga
Tampak berbeda denganku
Yang kala itu hanya memakai kaos oblong
Dengan rok selutut
Dan rambut yang diikat dua
Seperti gadis desa yang sedang jadi penonton raja dan ratu didepannya.
Kau,,
Adam,,
Teman kecilku,,
Cinta pertamaku,,
Malam sebelumnya
Sebelum kau hendak pergi ke kota lagi
Aku memberikan sepucuk surat beramplopkan merah muda berbunga
Diakhir surat itu aku tuliskan "Untuk jawabanmu, aku tunggu kau di tepi sawah yang dahulu sering kita lewati bersama ketika berangkat sekolah"
Dan esok sorenya,
Kau datang,
Benar-benar datang,
Kau datang dengan jawabanmu,
Bahwa kau lebih mencintai perempuan bergaun silver itu
Dibandingkan untuk mencintaiku (lagi), cinta pertamamu.
“PAYUNG MERAH MUDA UNTUK MAURA”
“PAYUNG MERAH MUDA
UNTUK MAURA”
Namun,diarah
barat daya yang berlawanan tepat didepan buah yang hendak akan ia petik, disana
berdiri seorang pria bersweater biru tua, berarloji hitam yang mengkilat jika
cahaya memantulkan. Lelaki tampan yang terlihat modis juga memancarkan aura
berkelas. Sorot matanya kecil, namun tajam. Bayang-bayang lesung dikedua
pipinya membuat ia tampak mempertegas aura ketampanannya. Potongan rambutnya
seperti actor favorit film zaman kecilnya dulu. Ya, Fernando Hose Alta Mirano
Del Kastinyo difilm Mexico yang berjudul “Rossalinda” pada awal tahun 2004.
“Maaf, saya
sudah terlebih dahulu hendak memetik buah ini” Perkataan yang tiba-tiba
terlontarkan dari mulut perempuan berkerudung pashmina merah muda itu. Namanya
Maura Hallimatuzahra, wanita berkacamata dan berkulit putih yang terlihat
begitu cantik nan anggun.
“Maaf juga,
saya juga sudah terlebih dahulu akan memetik buah ini dari satu minggu yang
lalu.” Jawab pria gagah itu, Muhammad Azhar Heryan.
“Sungguh
bukankah seorang pria yang bijaksana bisa mengalah pada wanita? Di taman ini
begitu banyak buah stroberi lainnya, kenapa kau bersikeras untuk tidak mau
memberiku ruang untuk memetik buah ini?” Lontaran Maura yang memancarkan binar
mata yang cukup kecewa kepada pemuda itu.
“Baik, kau
bisa lihat sosok wanita di kursi roda di arah jam 3 di arloji mu?” Azhar
bertanya pada Maura.
“Kau! Apa
maksudnya dengan wanita itu?” Maura kembali bertanya.
“Dia ibu
saya, saya dan beliau menanam buah yang hendak kamu ingin petik ini sekitar
satu minggu yang lalu, dia terkena stroke,
sebelum seluruh organ tubuhnya tak bisa bekerja lagi kami sering datang ke
kebun ini setiap akhir pekan, dia pencinta tanaman stroberi. Jadi, jika bukan
karena Ibu saya alasannya, pasti saya beri padamu semua buah merah terang ini”
Ujar Azhar dengan begitu lembutnya caranya berbicara.
“Boleh saya
memetiknya sekarang dan memberikannya langsung untuk ibumu?” Rona wajah Maura
yang berubah 180 derajat, binar matanya kini berubah menjadi pancaran lemah nan
lembut. Wajarlah, dia begitu lemah jika berhadapan dengan seorang ‘Ibu’.
“Tentu”
Senyuman Azhar terpancar dari bayang-bayang biru pipinya.
Yaa..
Maura memang
hidup dipanti asuhan sejak ia masih sangat kecil, untuk sekedar tahu bentuk
muka orangtua kandungnya pun dia tak mampu, seumur hidupnya mungkin ia terlahir
untuk tidak akan bertemu mereka yang menjadi perantara ia dilahirkan dimuka
bumi ini. Dia tinggal di panti asuhan didaerah Provinsi Kota Mataram, Nusa
Tenggara Barat. Disana ia dibesarkan dan di didik oleh seorang Ibu &
kakak-kakak panti yang menjadikannya tumbuh menjadi wanita yang soleha, wanita
yang berbeda dari wanita lain pada umumnya, lemah lembut sikapnya, pancaran
mata yang selalu kokoh tertanam dikedua bola matanya yang berwarna coklat pekat.
Maura berusia 23 tahun, ia kini duduk di
semester akhir di salah satu Universitas Negeri di Provinsi ini.
“Ibu, saya
petikkan buah ini untuk anda, semoga anda suka” Maura yang membungkukan badan
mungilnya kepada sosok wanita paruh baya di kursi roda itu.
Didalam
kedua bola mata wanita paruh baya itu dia mengamati rona wajah sosok wanita
cantik dihadapannya, ditambah dengan garis lengkungan wajah oval yang
diperindah dengan bentuk mata yang bulat berwarna coklat pekat & bulu mata
yang begitu lentik yang mengingatkan dia pada seseorang di masa lalunya. Tampak
Ibu Azhar itu tak bisa melepaskan pandangannya pada mata Maura yang saat itu
masih terlihat begitu anggun membersihkan daun stroberi dan hendak membantu
menyuapkan pada ibu Azhar. Nyonya Wina.
“Oh iya, kita
belum berkenalan, nama saya Muhammad Azhar Heryan” Azhar memberikan jemari
tangan kanannya kepada Maura yang masih terlihat sedang membantu menyuapi
nyonya Wina.
“Syukron,
nama saya Maura Halimatulzahra” Maura yang terlihat hanya mengangkat kedua
tangannya kedepan dagu nya yang terlihat terbelah manis itu.
“Kau tinggal
disekitar taman ini?” Tanya Azhar.
“Tidak, saya
tinggal disebuah panti asuhan di Kota” Jawab Maura yang sesekali memalingkan
pandangannya kepada lelaki gagah yang usianya sekitar 25 tahun itu.
“Oya? Panti
asuhan didaerah mana kalau boleh saya tahu? Saya juga tinggal di Kota, lebih
tepatnya saya tinggal di perumahan sekitar Taman Udayana sebelum Bandara Lama
itu” Terlihat pancaran mata Azhar yang begitu antusias untuk mengetahui lebih
dalam tentang perempuan indah didepan matanya itu.
“Semenjak
kecil saya tinggal di panti asuhan Kasih Bunda didaerah sekitar Universitas
Mataram” Jawaban Maura yang begitu singkat menggambarkan bahwa ia mempunyai
sifat yang dingin. Justru disana letak keistimewaan bagi seorang Azhar untuk
mengenal lebih jauh perempuan yang berkerudungkan pashmina merah muda yang
sedang membelakangi tubuhnya itu.
Ketika
pembicaraan yang begitu anggun dari keduanya tiba-tiba gerimis bersenandungkan
kilat & petir menarungi mereka yang kala itu berada di tengah-tengah kebun
stroberi yang lahannya cukup luas. Untunglah Maura yang kala itu membawa payung
berukuran kecil berwarna merah muda dengan segera memberikan kepada Azhar
dengan isyarat payungilah nyonya Wina yang masih terlihat begitu seksama
menyelidiki rona tatapan kedua mata Maura.
“Baik, saya
harus kembali ke Kota,mungkin saya sebaiknya mengambil buah-buang stroberi yang
lain untuk adik-adik saya dipanti asuhan. Kau segera bawa ibumu pulang, disini
akan hujan besar” Ujarnya pada Azhar.
Tampak
terlihat rona wajah yang begitu kusut yang dipancarkan oleh seorang wanita
paruh baya dibalkon rumah mewah berwarna peach
itu. Yaa, nyonya Wina adalah salah satu pengusaha wanita yang sukses,
cabang-cabang usahanya diberbagai sektor di Nusa Tenggara, Bali, bahkan sampai
ke pulau-pulau lainnya. Dia membangun usahanya sejak 27 tahun yang lalu bersama
adik kandungnya yang bernama Nina dan Almarhum Andi Heryan yang secara tidak
langsung adalah suami dari nyonya Wina, Ayah dari Azhar.
Dia teringat
ketika awal perkenalan dengan Andi. Andi adalah mantan kekasih dari adiknya
sendiri yang bernama Nina. Ia tak tahu jika Nina adalah orang yang pernah
begitu dicintai oleh pria yang sangat dia cintai saat itu. Hal itu ia tahu
ketika usia pernikahannya menginjak 2 tahun tepat ketika Azhar masih hangat
dengan tangisan bak seorang bayi pada umumnya. Wina begitu down saat mengetahui
bahwa ternyata suami & adik yang dia bangga-banggakan ternyata bermain
dibelakangnya, membual cerita yang begitu amat memilukan bagi seorang orang
yang bernotabenkan punya intelektual yang tinggi.
Saat itu ia
melihat dibibir pintu yang menghubungkan ruang makan dengan kolam renang,
berdirilah dua orang anak manusia yang ditakdirkan untuk hadir menggores tinta
merah di lembaran cerita dimasa itu.
“Bagaimana
mungkin aku menyakiti perasaan kakak kandung aku sendiri mas? Sudah
bertahun-tahun aku menutupi rahasia kita, aku mengalah untuk kebahagiaan
kakakku, apakah itu belum cukup dimata mu? Sekarang kamu memintaku untuk
mengatakan pernikahan siri ini kepada kak wina? Kemana arah pikiranmu??” Ucapan
lirih lembut yang di ucapkan oleh wanita bertubuh mungil yang bermata coklat
pekat itu.
“Nina..
Sudah saya bilang semenjak 2 tahun yang lalu sebelum kau memaksa saya untuk
menikahi kakakmu itu , saya hanya mencintai kamu nina, saya hanya mencintai
kamu, tapi kamu tetap bersikeras memaksaku untuk menikahi Wina. Sekarang saya
kira sudah cukup, saya tidak bisa membohongi perasaan saya, satu rumah dengan
kamu tetapi kita harus berpura-pura bukan menjadi suami istri.” Tangan Andi
menggenggam jemari putih Nina.
“Kakak saya
punya penyakit yang dulu tidak bisa sembuh sebelum kau hadir didalam hidupnya,
sudah sering saya bilang ini, tolonglah mas.. Saya juga sangat mencintai kamu,
tapi kebahagiaan kakak saya lebih penting saat ini” Jawab Nina yang dengan
sergap melepaskan jemari Andi yang terlihat memakai cincin pernikahan Sah nya
dengan Wina, kakaknya.
“Apapun yang
kau katakan, aku akan tetap bilang tentang pernikahan siri kita pada Wina,
bagaimanapun juga kau sekarang sedang mengandung darah dagingku, calon adik
untuk Azhar.” Pancaran mata yang kokoh tertanam pada mata bulat hitam Andi.
Diarah
selatan mereka, keluar suara lirih tak berdaya dari perempuan berambut sebahu
dengan gaun berwarna hijau tosca dibalut dengan syall putih;
“Kenapa
kalian baru berbincang akan hal ini sekarang? Kenapa kalian biarkan terlahir
seorang Azhar ditengah-tengah cerita hidup keluarga ini yang begitu biadab,
bagaimana dengan tumbuh kembang Azhar kelak?” Terlihat mata yang berkaca-kaca
yang seolah sekerumunan air dibola mata itu ingin berlarian membasahi pipi
seorang Wina yang sedang berdiri di tepi anak tangga sambil memegang dadanya.
“Maafkan aku
Wina, aku keliru ketika dua tahun lalu menuruti paksaan permintaan adikmu Nina,
sebenarnya kita telah menikah 3 tahun lalu jauh sebelum aku menikahimu, ketika
aku dan nina sama-sama kuliah di Bogor. Tetapi baru 6 bulan usia pernikahan
kita Nina mengajakku untuk pindah tugas ke Rumah Sakit di Pulau ini, sekaligus
untuk merawat kakaknya yang sedang sakit parah, kamu. Tetapi ditengah jalan di
awal pertemuanku denganmu yang tak sengaja di
rumah sakit itu, kau bercerita bahwa kau menyukai salah satu dokter baru
yang merawatmu dirumah sakit itu kepada Nina. Nina yang pada itu posisinya amat
terjepit ditengah rimbunan duri-duri hidup, dia tak mungkin mengatakan kepadamu
bahwa aku adalah suaminya, tak mungkin disaat kondisimu masih sangat lemah.
Hingga waktu berjalan, dan kau semakin menginginkanku, setiap hari kau
bercerita pada Nina tentang pria yang sangat kau cintai yang secara tidak
langsung adalah suami sahnya sendiri. Jika kau jadi Nina, bagaimana perasaanmu?
Bertahun-tahun memendam rasa sakit rumah tangganya hancur, dia harus berbagi
suami dengan kakak kandungnya sendiri, apakah kau merasakan perasaannya?” Suara
Andi yang saat itu terasa setengah bergetar, membuat seisi rumah sunyi sepi,
tiga orang dirumah mewah itu berkaca-kaca penuh haru meluapkan emosi
masing-masing.
Dengan
setengah berlari Nina meninggalkan mereka menuju kamarnya, dengan menutupi rasa
bersalah juga rasa kecewanya, entah saat itu apakah ia harus marah atau harus
merasa bersalah kepada orang-orang dirumah itu, dia menangis dan terus menangis
hingga datanglah sosok laki-laki kecil tampan berbaju tidur stroberi merah
terang dengan cara merangkak penuh binar tawa. Yaa dia Azhar, semenjak Azhar
lahir dia diurus oleh Nina, dia yang setiap pagi memandikan dan member makanan
untuk Azhar hingga malam tiba, hingga Wina pulang bekerja mengurusi bisnis
besarnya. Setiap hari Wina pergi keluar kota untuk mengontrol kemajuan usaha
mereka. Dan Nina, Nina lah yang berjuang mengurus seisi rumah besar itu,
bagaikan ibu rumah tangga yang Andi harapkan.
Hingga hal
itu berlangsung sampai rahasia mereka terbongkar, setelah kejadian itu Nina
pergi dari rumah Wina dan Andi, tanpa mereka tahu kemana Nina pergi.
Nina pergi
bersama janin dikandungannya yang berusia 4 bulan setelah 3 tahun menikah
dengan Andi. Dia pergi ke sebuah Panti Asuhan milik sahabat kecilnya Ani Mulya
Dewi di daerah Kota Mataram, disana dia bekerja tanpa digaji untuk mengurus
anak-anak yatim piatu, dia begitu suka dengan anak kecil.
Hal itu
berlangsung bertahun-tahun sampai dia melahirkan bayi perempuan yang cantik nan
jelita yang mewariskan anugerah bola mata yang coklat pekat nan tajam. Bayi
perempuan darah daging dari seorang Pria yang begitu dia sayangi & cintai,
Andi Heryan.
Pikiran yang
jauh melayang ke masa lalu yang sudah berlalu berpuluh-puluh tahun itu membuat hati
wina sakit kembali, dia teringat lagi tentang sosok Nina dimasa lalunya, dia
tidak tahu dimana Nina dan anaknya sekarang. Semenjak kejadian Nina yang pergi
meninggalkan kehidupannya bersama Andi dan Azhar, Andi yang menjadi salah satu
dokter spesialis penyakit jantung pun menjadi frustasi dan akhirnya hilang
kesadarannya, semenjak Azhar berumur 4 tahun Andi berubah menjadi Orang gila
yang siap menyelakai orang-orang yang berada didekatnya. Setiap ada siapapun
perempuan disekitar dia, dia langsung menerkam, mencekik dan menampar perempuan
itu, dia pasti berteriak “Dimana Nina, kau sembunyikan dimana Nina? Nina
Istriku, Nina dia sedang mengandung anakku”
Hingga sudah
sekitar 20 tahun Andi dirawat di Rumah Sakit Jiwa di daerah Lombok Barat.
Setiap akhir pekan Azhar pasti datang menjenguk Ayahnya bersama nyonya Wina,
semenjak ia kecil ia tak pernah melihat Ayahnya senyum sempurna kepadanya, anak
kandungnya. Tapi ia percaya suatu hari nanti Ayahnya akan sembuh, begitupun
dengan Ibunya. Mereka akan tinggal bahagia bersama istana mereka.
Azhar kini
bekerja sebagai direktur utama diperusahaan property milik orang tuanya. Hingga
saat ini belum sempat dia memikirkan kehidupan pribadinya untuk lebih mengenal
wanita lebih dalam karena terlalu sibuknya dia mengurus perusahaan besar milik
orangtuanya dan mengurus Ayah dan Ibunya yang sama-sama sakit parah, padahal
jika dilihat dari segi kematangan usianya, Azhar telah cukup pantas untuk
memulai kehidupan baru bersama wanita pilihannya.
Sore itu,
dengan rasa yang bercampur aduk menjadi satu, Azhar memberanikan diri untuk
datang ke salah satu Panti Asuhan yang Maura katakan ketika pertemuan pertama
mereka ditaman stroberi bulan lalu. Sesampainya Azhar dibibir pintu gerbang,
diseberang taman halaman panti terlihat sosok wanita berkulit putih berjilbab
hitam panjang sedang mengajari adik-adik kecil membuat lipatan dari kertas
origami. Terlihat cantik nan anggunnya ditambah dengan senyuman yang tak lepas
dari binar bayang-bayang merah muda rona pipinya. Perlahan Azhar menghampiri
Maura, lalu dengan langsung dia membantu Maura member contoh lipatan burung
kecil dari kertas origami.
Adik-adik
panti terlihat begitu bahagia dengan rona senyum yang terpancarkan disetiap
mereka menatap sepasang Raja dan Ratu seperti dicerita-cerita dongeng mereka
sebelum tidur.
“Nah
adik-adik kakak yang manis-manis, latihan membuat hasta karyanya cukup sampai
disini ya, besok sore kita lanjutkan lagi, jangan lupa nanti dikamar
masing-masing belajar lagi membuat bunga matahari yang kakak ajarkan tadi”
Lemah lembut bicara Maura kepada adik-adik kecil itu.
“Kak Maura,
siapa pemuda itu? Pemuda itu pasti yang suka kakak ceritakan pada bunda Ani
kan? Yang bertemu di kebun stroberi itu?? Hehehehe” Celotehan anak berumur
sekitar 7 tahunan yang suka menguping cerita dia pada bunda Ani.
“ Naufaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaal! !!!!!!
Ayo adik-adik boleh pergi kekamar masing-masing” Salang tingkah Maura yang
terlihat dari wajahnya yang memerah seperti tomat yang sudah masak.
“Kau….
Ternyata kau…” Goda Azhar pada Maura.
“Mas
Muhammad Azhar Heryan, berbicaranya jangan disini, mari kita keruang tamu
panti” Tatapan menunduk Maura yang langkahnya lebih cepat meninggalkan Azhar.
Di ruang
tamu panti, Maura beserta bunda Ani datang menghampiri Azhar yang sedang duduk
menunggu pujaan hatinya duduk untuk diarah utara dikursi itu. Dan ternyata dugaannya tepat, dengan
membawakan secangkir the hijau hangat untuknya, Maura duduk tepat di kursi arah
utara, tepat diarah jam 12 arlojinya itu. Dengan tatapan yang menunduk Maura
hanya dapat mencuri-curi pandangan sesaat, begitupun dengan Azhar.
“Ada
keperluan apa anak muda datang kemari? Apakah bunda bisa membantumu nak?” Bunda
Ani membuka percakapan ditengah saling curi tatap sepasang anak muda disamping
kanan dan kirinya itu.
“Saya ingin
melamar Adinda Maura, jika bunda mengizinkan saya untuk menikahinya” Ucapan
Azhar yang tak ia sangka-sangka keluar dari vita suaranya.
“Anak muda…
Anda adalah orang yang kesekian kali yang datang untuk melamar adinda Maura,
tapi bunda sendiri tidak paham yang seperti apa yang Maura inginkan, bagaimana
dengan nak Muhammad Azhar Heryan ini, kau mau menerima lamarannya nak?” Tanya
bunda Ani pada Maura.
Maura
memberikan respon positif kepada Bunda Ani dan Azhar, dia hanya tersenyum
menunduk mengisyaratkan bahwa ia menerima lamaran Azhar.
Pagi itu
suasana rumah mewah Azhar tampak ramai dengan orang yang berhilir mudik
memasangkan berbagai dekorasi tatanan untuk hari pernikahannya minggu depan.
Ibunya yang duduk tak bisa berkata apa-apa dikursi roda hanya mampu melihat
rona kebahagiaan putra semata wayangnya itu. Azhar terlihat tak tersiratkan
lelah diwajahnya, dengan bersemangat dia menunjuk kesana kemari mengubah
tatanan yang tak sesuai dengan keinginannya.
Azhar pun
menghampiri wanita setengah paruh baya dikursi roda sudut ruangan.
“Ibu..
Sebentar lagi aku akan mempunyai keluargaku, mudah-mudahan ibu bisa cepat
sembuh dengan hadirnya sosok daging yang bernafas kelak” Tatapan mata Azhar
yang terlihat berkaca-kaca yang ia transferkan pada mata lelah ibunya.
Didalam hati
nyonya Wina, tersirat prasangka buruk pada wanita berpayung merah muda yang dia
temui di kebun stroberi dahulu. Maura, mata Maura tak berbeda jauh seperti
tatapan mata Nina adik kandungnya yang hilang sejak kejadian 24 tahun silam.
Namun ia tak bisa berkata sepatah katapun pada Azhar, dia tak mampu hanya
sekedar menulis atau memberikan isyarat tatapan pada Azhar. Dia takut dugaannya
benar, bahwa Maura adalah adik satu darah dengan Azhar, anak dari Andi dan
Nina, sang suami dan adik kandungnya sendiri.
Pernikahan
pun tinggal menghitung jari, tak terasa besok lusa waktu dimana Azhar merasakan
indahnya keluarga. Dikamar atas, terdapat sosok tuan Andi Heryan yang sedang
terlihat duduk melamun didepan cermin yang terlapisi perak ukiran kayu yang
ditempeli beberapa Kristal.
Di kota
Mataram, panti asuhan terasa begitu ramai lebih dari biasanya. Hari ini adalah
hari pernikahan Maura dengan Azhar. Mobil
yang mengangkut rombongan
keluarga Panti pun satu demi satu berjalan pelan kearah bandara lama, perumahan
elit yang dimiliki oleh perusahaan property milik keluarga Azhar. Tak
terkecuali rombongan mobil adik-adik
panti, mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba mogok ditepi jalan didepan jalan
Majapahit. Yang menyebabkan bunda Ani harus berpindah haluan berada dirombongan
ini. Dimobil yang berlawanan duduklah pengantin cantik bergaunkan sutera &
payet berwarna putih gold duduk dimobil Nissan hitam itu, dibelakangnya duduk 2
orang sahabat yang menggantikan Bunda Ani yang seharusnya ada disampingnya.
06, 05, 03,
02, 01… Dan lampu hijau pun menyala.
Lalu mobil
Nisaan berwarna hitam yang berada pada barisan paling depan pun menancapkan gas
dengan kecepatan sedangnya.
Namun tak
disadari, dari arah selatan ada mobil truk berwarna kuning yang dengan
kecepatan tinggi menerobos lampu yang sudah memerah, denga supir yang terlihat
sedang mabuk, mobil yang ugal-ugalan itupun menabrak dengan kencang mobil
Nissan dan beberapa kendaraan didepannya. Namun yang begitu parah adalah mobil
Nissan itu, tak terduga mobil yang ditumpangi oleh Maura didalamnya terseret
dan terguling selama beberapa kali sejauh 15 Meter dan akhirnya menabrak
pembatas jalan. Dari kecelakaan ini menyebabkan kecelakaan beruntun yang sangat
parah didaerah lampu merah rembiga pada awal Januari lalu.
Hingga
berita ini terdengar oleh seluruh kediaman mempelai pria beserta para tamu undangan
dikawasan perumahan elit itu. Dengan begitu scock, hampir setengah pingsan
Azhar membuka kembali matanya. Ia tak percaya hal ini bisa terjadi tepat dihari
yang harusnya menjadi bahagia untuknya.
Diruang IGD
rumah sakit umum, berpuluh-puluh orang yang terkapar tak berdaya sampai tak
bernyawa yang disebabkan kecelakaan beruntun itu, termasuk didalamnya Maura.
Azzhar yang dengan begitu panik menangis tersendu-sendu sekaligus mendorong
kursi roda Ibunya nyonya Wina, mereka masih memakai pakaian pengantin, hingga
orang-orang dirumah sakit itu melihat dengan haru kisah pilu pengantin yang
tidak disetujui alam untuk bersatu itu.
Dibelakang,
berjalanlah sosok tuan Andi Heryan dilorong ruang IGD, bersama kerumunan
tangisan para keluarga. Dia tampak tak seperti orang gila, ia berjalan penuh
langkah yakin menghampiri wanita bergaun sutera putih gold yang terkapar sudah
tak bernyawa disudut ruang IGD. Tak disangka-sangka ia menangis memeluk wanita
itu, dia beranggapan bahwa dia Nina, istrinya yang hilang 24 tahun silam. Dia
menangis histeris hingga membuat Azhar dan ibunya datang menghampiri ayahnya.
“Ayah, apa
yang ayah lakukan??” Sentak Azhar pada ayahnya
“Nak… Dia
Nina, dia Nina………….” Tangis haru seorang Andi yang mulai sadar dari hilangnya
pikiran jernihnya.
“Bukan. Dia
bukan Nina, tapi dia Maura, calon Istri saya yang sekarang meninggalkan saya”
Sentak Azhar pada ayahnya, dia meluapkan emosinya disudut IGD rumah sakit itu.
Ditengah
suasana haru, datanglah Bunda Ani yang hendak ingin melihat jenazah Maura dan 2
sahabatnya itu.
Didepan
kedua bola matanya terlihat sosok Wina yang duduk dikursi roda dengan keadaan Stroke, dan Andi Heryan yang terlihat
terlunta-lunta seperti orang gila.
“Wina?
Andi?, apa yang kalian lakukan disini?” Tanya Bunda Ani pada sekeliling orang
dilingkaran sana.
“Bunda kenal
sama ayah dan ibu saya?” Tanya Azhar dengan nada lirih seperti tak ada suara
lagi.
“Ayah?
Ibu???????????????????????? Jadi kamu adalah anak dari Wina dan Andi? Katakan
itu, apakah itu benar???????????” Tanya Bunda Ani kepada Azhar dengan sedikit
memukul pundaknya dengan penuh emosi.
“Saya anak
kandung dari mereka” Jawab Azhar dengan nada yang kembali semakin melirih.
Ditempat
itu, Bunda Ani menjatuhkan badannya kelantai.
Dan nyonya
Wina berteriak dengan sekencang-kencangnya didalam hati, “Perempuan itu, dia
sahabat karibnya Nina yang orangtuanya mempunyai yayasan panti asuhan, kenapa
dia kenal dengan Maura? Apakah Maura dititipkan pada Ani? Apakah Nina
menitipkan Muara pada panti asuhan Ani? Dimana Nina sekarang?????” Jeritan yang
tak bisa dikeluarkan dari dalam sanubari hati nyonya Wina.
Dan disudut
IGD, masih terlihat tuan Andi Heryan memeluk dan mengusap pelipis jenazah
Maura, dengan isak tangis yang semakin sendu membisingi ruang itu.
Dimakam itu,
terlihat 4 orang anak manusia yang saling menunduk memanjatkan do’a untuk
menjaga Maura dialam sana.
Azhar
beserta ayah dan ibunya, dan bunda Ani.
Disana bunda
Ani juga menunjuk satu makam yang bernisankan:
Nina Ayu
Ratnasari
Binti H.
Zaenudin
Wafat 20
Januari 1990
-
- -
“Maura
Halimatuzahra adalah nama yang dititipkan oleh Nina sebelum dia meninggal
ketika melahirkan bayi cantik itu. Dia berpesan untuk saya menjaga, merawat,
dan mendidik Maura menjadi wanita yang baik. Saya rawat Maura dengan sepenuh
kasih sayang saya, sampai dia tumbuh menjadi wanita seperti harapan alharhum
ibundanya. Perjalanan kisah orang tuamu amat begitu pilu, begitu haru untuk
saya ceritakan. Maura adalah adik kandungmu sendiri, dia terlahir dari seorang
wanita yang secara langsung yaitu adik kandung dari ibumu, nyonya Wina. Allah
SWT tidak mungkin mengijinkan saudara satu darah untuk bersatu dalam ikatan
pernikahan, mungkin itu sebabnya Maura dipanggil terlebih dahulu. Yakinlah nak,
dia akan baik-baik disana, semoga amal ibadahnya bisa menolong dia dialam lain.
Dia begitu menyayangi payung berwarna merah mudanya. Jagalah titipan
terakhirnya itu.
Jumat, 22 November 2013
Mercusuar Pantai Ampenan pukul 11.30 WITA
Created by Dennisa Dianita
Mataram, 23 November 2013
Disamping mercusuar ditepi pantai Ampenan
Angin siang yang mendesah pelah
Seolah memintaku untuk ikut berdansa pada siang hari
Mercusuar ini dibangun dengan bangunan yang tak begitu tinggi
Juga tak begitu menakutkan bak mercusuar ditepi pantai lainnya
Begitu singkatnya aku bermanja dengan anak tangga
Berawarna peach yang begitu soft
Membuat setiap mata anak manusia enggan meninggalkannya
Lalu diarah barat dayaku
Ada pemuda yang bersweaterkan abu-abu gelap itu
Dia tersenyum dengan bermilyaran arti
Seolah menyuruhku untuk secepatnya turun dari istana bagi Kerajaan Nelayan
Dan secepatnya berlayar kelaut lepas itu
Hidup bersama ditengah indahnya suasana ombak
Bersama beribu macam ikan yang Allah SWT anugerahi
Saat itu kami tampak begitu serasi
Dengan pakaian yang berwarna senada
Dia membawakan satu kotak makanan
Yang berisi campuran sayuran lalu dibalutlah dengan saus kacang yang rasanya amat begitu gurih
Ini adalah makanan yang kesekian kalinya dia buatkan
Aku tersipu malu
Aku wanita
Padahal aku wanita
Namun ternyata dia yang lebih mampu membuat cerita kisah yang indah
Dia yang lebih pintar memasak
Menjaga
Melindungi
Menyayangi....
Dibawah Pohon yang tak berdaun juga tak berbunga ataupun berbuah
Pohon itu hanya sebatang kara
Hidup sendiri dengan batang-batang yang tak ada arti
Namun ketahuilah
Entah mengapa,
Suasana pantai saat itu begitu sejuk
Melihat arah utara terdampar sekoci para nelayan yang jauh dibawa laut lepas
Indah sekali...
Dia bercanda, "Bayangkan saja para sekoci nelayan itu bagaikan Kapal Titanic pada awal abad ke 20 lalu, betapa macetnya jalan raya dilaut ini, mungkin akan muncul sesuatu seperti lampu pengatur jalanan, andaikan saja"
Lalu dengan begitu sulitnya aku mencubit punggung tangannya, lalu kita tertawa lepas ditemani alunan merdu sang ombak dan kokohnya mercusuar itu.
Mataram, 23 November 2013
Disamping mercusuar ditepi pantai Ampenan
Angin siang yang mendesah pelah
Seolah memintaku untuk ikut berdansa pada siang hari
Mercusuar ini dibangun dengan bangunan yang tak begitu tinggi
Juga tak begitu menakutkan bak mercusuar ditepi pantai lainnya
Begitu singkatnya aku bermanja dengan anak tangga
Berawarna peach yang begitu soft
Membuat setiap mata anak manusia enggan meninggalkannya
Lalu diarah barat dayaku
Ada pemuda yang bersweaterkan abu-abu gelap itu
Dia tersenyum dengan bermilyaran arti
Seolah menyuruhku untuk secepatnya turun dari istana bagi Kerajaan Nelayan
Dan secepatnya berlayar kelaut lepas itu
Hidup bersama ditengah indahnya suasana ombak
Bersama beribu macam ikan yang Allah SWT anugerahi
Saat itu kami tampak begitu serasi
Dengan pakaian yang berwarna senada
Dia membawakan satu kotak makanan
Yang berisi campuran sayuran lalu dibalutlah dengan saus kacang yang rasanya amat begitu gurih
Ini adalah makanan yang kesekian kalinya dia buatkan
Aku tersipu malu
Aku wanita
Padahal aku wanita
Namun ternyata dia yang lebih mampu membuat cerita kisah yang indah
Dia yang lebih pintar memasak
Menjaga
Melindungi
Menyayangi....
Dibawah Pohon yang tak berdaun juga tak berbunga ataupun berbuah
Pohon itu hanya sebatang kara
Hidup sendiri dengan batang-batang yang tak ada arti
Namun ketahuilah
Entah mengapa,
Suasana pantai saat itu begitu sejuk
Melihat arah utara terdampar sekoci para nelayan yang jauh dibawa laut lepas
Indah sekali...
Dia bercanda, "Bayangkan saja para sekoci nelayan itu bagaikan Kapal Titanic pada awal abad ke 20 lalu, betapa macetnya jalan raya dilaut ini, mungkin akan muncul sesuatu seperti lampu pengatur jalanan, andaikan saja"
Lalu dengan begitu sulitnya aku mencubit punggung tangannya, lalu kita tertawa lepas ditemani alunan merdu sang ombak dan kokohnya mercusuar itu.
Kunang-kunang Terindah
Created by 'Dennisa Dianita'
Mataram, 14 November 2013.
Kau...
Kala itu kau hadir tepat ketika petir menyambar
Kau datang tepat ketika ombak dilaut lepas itu surut
Kau datang laksana seorang tabib yang membawakanku
air segar ditengah teriknya padang pasir digurun
Aku sendiri...
Haus...
aku tak punya tempat untuk bernaung digurun sepanas ini
aku hilang arah untuk kembali pulang...
Kau....
Kau dengan begitu sabar menuntunku berjalan
tanpa sedikitpun kau menggenggam tanganku
kau hendak mengantarkanku kesuatu gerbang pembatas untuk aku kembali pulang.
Ditengah jalan,
kau laksana malaikat berbaju putih nan rupawan
yang dengan begitu hati-hati menjagaku
kau bunuh semua binatang buas yang hendak menerkamku
kau dirikan aku tenda ditengah gurun itu
hingga hujan & petir pun giliran mengiri hari
tapi, kau tak ikut berteduh didalamnya..
Hingga suatu hari,
tibalah saatnya kita dengan bersama menemukan jembatan itu
jembatan yang menghubungkan dengan sebuah gerbang
gerbang yang membatasi sebuah gurun pasir yang teramat panas dan gersang
dengan sebuah bukit hijau yang rindang dan sejuk..
Saat itu aku bertanya, "Kau mau ikut pulang bersamaku??"
Kau menjawab, " Tidak. Aku tidak bisa ikut, aku hanya ditakdirkan oleh Allah SWT untuk hidup digurun ini, bersama seorang bidadari Beliau pilihkan untuk aku, kelak."
Aku bertanya lagi, "Bidadari??????????? Dimana bidadari itu? Kenapa aku tak melihatnya disini??"
Kau dengan lembut kembali menjawab, "Bidadari itu suatu hari akan datang ditempat ini, disini, dia akan mengetuk gerbang ini untuk memanggilku. Kelak, kami akan merubah gurun ini menjadi sebuah taman & bukit yang begitu indah & sejuk yang akan tumbuh bunga & buah yang lebat."
Saat itu, aku begitu terkesima mendengarkan perkataanmu
sampai-sampai aku lupa bahwa cahaya pembatas diufuk barat akan segera terbenam
aku harus segera pulang.....
Lalu dengan pertama kalinya, kau memegang tanganku dengan hangat
kemudian aku berjalan menyusuri jembatan panjang itu, hingga kita pun saling melambaikan tangan dan tak terlihat lagi pundak masing-masing.
------
Berjalannya waktu,
aku tumbuh & semakin tumbuh menjadi aku
sendiri...
sepi....
sunyi...
hanya bertemankan dengan burung-burung ditepi pantai
hanya bertemankan cahaya diufuk timur, dan dia pulang keufuk barat lagi
setiap hari, seperti itu..
Hingga aku merasa kesendirian ini telah terlalu cukup lama mengiriku
membuatku rindu akan sosok kau digurun itu
apalah arti gunung & bukit yang indah
jika didalamnya hanya kita seorang diri??
aku terus bertanya hal itu pada cahaya senja
Hingga disuatu senja tiba,
aku saat itu duduk ditepi tanaman bakau pantai itu
ada segerombolan keluarga burung-burung, matahari, dan pelangi datang
mereka berkata, "Kau.. Kau adalah bidadari yang pemuda itu maksud, dia telah menjagamu jauh sebelum kau tersesat digurun itu, dia pun telah ditakdirkan hidup denganmu jauh sebelum kau lahir didunia ini. kehidupanmu ada disana bersamanya, gurun yang gersang itu akan berubah menjadi panorama gungung yang sejuk nan indah jika kalian tinggal bersama didalamnya... Kembalilah pada takdirmu."
Dengan perlahan matahari itu tenggelam diufuk barat
begitupun dengan pelangi yang semakin memudar ditelan gelap awan
aku menangis..
aku berlari...
aku ingin kesana lagi...
Lalu burung-burung itu menyuruhku kearah barat daya
aku berlari sekencang sekuat aku bisa pada senja itu
aku lemah, tapi hatiku lebih kuat
hingga burung-burung itu bentuknya kian memudar tersamarkan gelapnya hari
aku berteriak berulang kali memanggil matahari & pelangi
namun mereka nampaknya telah lenyap tertelan bumi
begitupun burung-burung itu, mereka sudah benar-benar tidak ada.
Aku sendiri...
bumi ini sudah benar-benar gelap
tidak ada satupun penerang
bulan dan bintang pun tak ada, benar-benar tak ada...
sepertinya mereka marah
karena aku sudah terlalu naif
aku munafik
aku pura-pura bodoh
aku terlalu membohongi perasaanku yang kala itu berkata "Aku Mencintainya"
Saat itu...
aku tak tahu harus kearah mana kubawakan langkakah kaki
untuk menemukan jembatan yang menghubungkan dengan gerbang pembatas itu
--------
Kemudian..
Diarah selatanku, datang bak seperti obor api yang begitu membara
aku takut, begitu takut..
semakin dekat, mereka semakin mendekat
---
Dan ternyata, itu bukan bola api
mereka keluarga kunang-kunang
belum pernah aku melihat kunang-kunang seterang itu
kunang-kunang seindah itu, cahayanya terang, bentunya indah..
kunang-kunang itu seolah mengajakku berdiri & berlari kembali mencari jembatan itu.
Tibalah aku ditujuan
tujuan yang hendak mempertemukanku dengan pemuda itu
tempat dimana pria itu hidup
tempat dimana pria itu menjanjikan sesuatu untukku
didalam hatiku menggebu berkata, "Aku datang... Tunggu aku... Aku datang... Bukakanlah gerbang itu!!!!!!"
lalu aku menyusuri jembatan itu dengan lari kakiku yang begitu bersemangat.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku mengetuknya satu kali,
aku mengetuknya duakali,
aku mengetuknya tiga kali,
aku terus mengetuknya sampai empat kali,
aku kembali mengetuknya untuk kesekian kalinya,
sampai tak terasa saat itu tangaku sampai terluka cukup parah
namun aku terus mengetuknya...
aku mengetuknya lagi, namun tak kunjung kau bukakan untukku...
Aku berteriak & menangis, hingga kala itu aku tak bisa menahan emosiku
kuluapkan semuanya pada kunang-kunang itu
aku berteriak dengan kencang, "DIMANA DIA??? KATAKAN SEKARANG DIMANA DIA?? "
Memang ini salahku, keliruku
kenapa aku dulu meninggalkanmu, menjauhimu.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kala itu.
Tepat dibibir jembatan
sosok sekeluarga kunang-kunang yang cahayanya menyinari aku dan alam ini
mereka terbang dengan begitu indah dan tinggi, semakin tinggi lagi..
mereka terbang tinggi
dan kembali lagi menghampiriku.
Kunang-kunang itu...........................
mereka berubah menjelma sosok "KAU"
kau, pemuda yang seumur hidup, akan aku cintai
kau, satu-satunya pemuda yang pernah memegang tanganku
kau, yang kala mampu menjagaku, menyayangi dan melindungiku.
pemuda yang pernah menjanjikan untuk menungguku digerbang ini.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Seperti biasa, sama seperti dulu
Hingga untuk pertama kalinya
kau memeluk hangat tubuhku
sebelum kau benar-benar pergi kealam itu
Aku menangis dan terus menangis.
sungguhpun.............
aku tak sanggup melihatmu berkata hal itu tepat dihadapan mataku
Perlahan kemudian,
Kau terbang,
Cahaya ditubuhmu masih menerangiku yang masih menengadah melihat & melepaskanmu pergi...
Melepaskan cinta yang belum sempat aku perjuangkan,
Mataram, 14 November 2013.
Kau...
Kala itu kau hadir tepat ketika petir menyambar
Kau datang tepat ketika ombak dilaut lepas itu surut
Kau datang laksana seorang tabib yang membawakanku
air segar ditengah teriknya padang pasir digurun
Aku sendiri...
Haus...
aku tak punya tempat untuk bernaung digurun sepanas ini
aku hilang arah untuk kembali pulang...
Kau....
Kau dengan begitu sabar menuntunku berjalan
tanpa sedikitpun kau menggenggam tanganku
kau hendak mengantarkanku kesuatu gerbang pembatas untuk aku kembali pulang.
Ditengah jalan,
kau laksana malaikat berbaju putih nan rupawan
yang dengan begitu hati-hati menjagaku
kau bunuh semua binatang buas yang hendak menerkamku
kau dirikan aku tenda ditengah gurun itu
hingga hujan & petir pun giliran mengiri hari
tapi, kau tak ikut berteduh didalamnya..
Hingga suatu hari,
tibalah saatnya kita dengan bersama menemukan jembatan itu
jembatan yang menghubungkan dengan sebuah gerbang
gerbang yang membatasi sebuah gurun pasir yang teramat panas dan gersang
dengan sebuah bukit hijau yang rindang dan sejuk..
Saat itu aku bertanya, "Kau mau ikut pulang bersamaku??"
Kau menjawab, " Tidak. Aku tidak bisa ikut, aku hanya ditakdirkan oleh Allah SWT untuk hidup digurun ini, bersama seorang bidadari Beliau pilihkan untuk aku, kelak."
Aku bertanya lagi, "Bidadari??????????? Dimana bidadari itu? Kenapa aku tak melihatnya disini??"
Kau dengan lembut kembali menjawab, "Bidadari itu suatu hari akan datang ditempat ini, disini, dia akan mengetuk gerbang ini untuk memanggilku. Kelak, kami akan merubah gurun ini menjadi sebuah taman & bukit yang begitu indah & sejuk yang akan tumbuh bunga & buah yang lebat."
Saat itu, aku begitu terkesima mendengarkan perkataanmu
sampai-sampai aku lupa bahwa cahaya pembatas diufuk barat akan segera terbenam
aku harus segera pulang.....
Lalu dengan pertama kalinya, kau memegang tanganku dengan hangat
kemudian aku berjalan menyusuri jembatan panjang itu, hingga kita pun saling melambaikan tangan dan tak terlihat lagi pundak masing-masing.
------
Berjalannya waktu,
aku tumbuh & semakin tumbuh menjadi aku
sendiri...
sepi....
sunyi...
hanya bertemankan dengan burung-burung ditepi pantai
hanya bertemankan cahaya diufuk timur, dan dia pulang keufuk barat lagi
setiap hari, seperti itu..
Hingga aku merasa kesendirian ini telah terlalu cukup lama mengiriku
membuatku rindu akan sosok kau digurun itu
apalah arti gunung & bukit yang indah
jika didalamnya hanya kita seorang diri??
aku terus bertanya hal itu pada cahaya senja
Hingga disuatu senja tiba,
aku saat itu duduk ditepi tanaman bakau pantai itu
ada segerombolan keluarga burung-burung, matahari, dan pelangi datang
mereka berkata, "Kau.. Kau adalah bidadari yang pemuda itu maksud, dia telah menjagamu jauh sebelum kau tersesat digurun itu, dia pun telah ditakdirkan hidup denganmu jauh sebelum kau lahir didunia ini. kehidupanmu ada disana bersamanya, gurun yang gersang itu akan berubah menjadi panorama gungung yang sejuk nan indah jika kalian tinggal bersama didalamnya... Kembalilah pada takdirmu."
Dengan perlahan matahari itu tenggelam diufuk barat
begitupun dengan pelangi yang semakin memudar ditelan gelap awan
aku menangis..
aku berlari...
aku ingin kesana lagi...
Lalu burung-burung itu menyuruhku kearah barat daya
aku berlari sekencang sekuat aku bisa pada senja itu
aku lemah, tapi hatiku lebih kuat
hingga burung-burung itu bentuknya kian memudar tersamarkan gelapnya hari
aku berteriak berulang kali memanggil matahari & pelangi
namun mereka nampaknya telah lenyap tertelan bumi
begitupun burung-burung itu, mereka sudah benar-benar tidak ada.
Aku sendiri...
bumi ini sudah benar-benar gelap
tidak ada satupun penerang
bulan dan bintang pun tak ada, benar-benar tak ada...
sepertinya mereka marah
karena aku sudah terlalu naif
aku munafik
aku pura-pura bodoh
aku terlalu membohongi perasaanku yang kala itu berkata "Aku Mencintainya"
Saat itu...
aku tak tahu harus kearah mana kubawakan langkakah kaki
untuk menemukan jembatan yang menghubungkan dengan gerbang pembatas itu
--------
Kemudian..
Diarah selatanku, datang bak seperti obor api yang begitu membara
aku takut, begitu takut..
semakin dekat, mereka semakin mendekat
---
Dan ternyata, itu bukan bola api
mereka keluarga kunang-kunang
belum pernah aku melihat kunang-kunang seterang itu
kunang-kunang seindah itu, cahayanya terang, bentunya indah..
kunang-kunang itu seolah mengajakku berdiri & berlari kembali mencari jembatan itu.
Tibalah aku ditujuan
tujuan yang hendak mempertemukanku dengan pemuda itu
tempat dimana pria itu hidup
tempat dimana pria itu menjanjikan sesuatu untukku
didalam hatiku menggebu berkata, "Aku datang... Tunggu aku... Aku datang... Bukakanlah gerbang itu!!!!!!"
lalu aku menyusuri jembatan itu dengan lari kakiku yang begitu bersemangat.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku mengetuknya satu kali,
aku mengetuknya duakali,
aku mengetuknya tiga kali,
aku terus mengetuknya sampai empat kali,
aku kembali mengetuknya untuk kesekian kalinya,
sampai tak terasa saat itu tangaku sampai terluka cukup parah
namun aku terus mengetuknya...
aku mengetuknya lagi, namun tak kunjung kau bukakan untukku...
Aku berteriak & menangis, hingga kala itu aku tak bisa menahan emosiku
kuluapkan semuanya pada kunang-kunang itu
aku berteriak dengan kencang, "DIMANA DIA??? KATAKAN SEKARANG DIMANA DIA?? "
Memang ini salahku, keliruku
kenapa aku dulu meninggalkanmu, menjauhimu.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kala itu.
Tepat dibibir jembatan
sosok sekeluarga kunang-kunang yang cahayanya menyinari aku dan alam ini
mereka terbang dengan begitu indah dan tinggi, semakin tinggi lagi..
mereka terbang tinggi
dan kembali lagi menghampiriku.
Kunang-kunang itu...........................
mereka berubah menjelma sosok "KAU"
kau, pemuda yang seumur hidup, akan aku cintai
kau, satu-satunya pemuda yang pernah memegang tanganku
kau, yang kala mampu menjagaku, menyayangi dan melindungiku.
pemuda yang pernah menjanjikan untuk menungguku digerbang ini.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Seperti biasa, sama seperti dulu
kau berkata dengan lembutmu, "Sayang.. Dinda.. Begaikan berabad-abad aku menunggumu kembali, asalkan kau tahu aku menunggumu dengan setia ditempat ini, berteman pasir dan matahari, hanya mereka yang dengan setia menemani aku duduk disini. Tapi, sekarang tidak hanya gurun yang gersang dan bukit yang indah yang membedakan kita, maafkan aku dindaku sayang, tempat kita hidup kini sudah berbeda, alamku kini harus berganti, tetapi.... mencintai & menunggumu dalam diamku adalah bentuk kesempurnaan hidupku sebelum aku mati. Jangan pernah kau merasa sedih, aku akan tetap menjagamu, aku berjanji kita akan bertemu di Surga nanti. Biarkanlah alam yang akan menghadiahi perjuangan kau, perjuanganku, perjuangan kita. Aku sangat sangat mencintaimu wanitaku, kau bidadariku, jika disurga nanti Allah menyaipkan bidadari lain aku akan menolaknya, sebab yang aku tunggu hanyalah bidadari ini, adinda. Jangan pernah tinggalkan ibadahmu, jaga Agamamu adinda"
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hingga untuk pertama kalinya
kau memeluk hangat tubuhku
sebelum kau benar-benar pergi kealam itu
Aku menangis dan terus menangis.
sungguhpun.............
aku tak sanggup melihatmu berkata hal itu tepat dihadapan mataku
Sayangku,
Priaku,
Jodohku,
Pemilik tulang rusukku,
Kini alammu sekarang lebih indah
Kau bisa dengan mudah melihatku disana
Kau masih bisa dengan mudah menjagaku disana
Dan akupun akan tetap menjagamu dengan do'aku
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Perlahan kemudian,
Kau terbang,
Cahaya ditubuhmu masih menerangiku yang masih menengadah melihat & melepaskanmu pergi...
Melepaskan cinta yang belum sempat aku perjuangkan,
Cinta yang belum sempat aku ataupun kau 'katakan' ketika kita masih hidup di Dunia yang sama..
"Kurma Pertama Dennisa"
19 November 2013 pukul 20:56
Mataram, 19 November 2013.
Created by Dennis Dianita.
- - -
Disudut taman
Diatas rerumputan yang hijau
Bersama embun yang masih terasa manja melekat pekat
Bersama suara burung-burung kecil yang seolah ikut berbincang
Kita saling menengadah bersama melihat cerahnya hari itu.
Semut-semut merah beserta keluarganya pun ikut menghadiri
Ada salah satu darinya yang dengan sengaja mengigit betisku
lalu semut-semut itu datang pada satu kotak makanan berwarna merah muda.
Aku tersipu malu
Diapun membuka kotak makanan secara perlahan.
Dia tersenyum begitu lama :(
Entah dia hendak memuji ataukah membully ini :(
Tampilan coklat yang pekat
dengan sedikit potongan keju mozarella didalamnya
Dia lalu tersenyum lagi
Bersama keluarga semut-semut merah
Bersama embun & kesejukannya
Bersama nyanyian burung-burung pagi
Dia berkata "Kurma pertamamu,,,,,,,,,,,, Enak"
Hari itu. Ditaman Fakultas. Mataram, Rabu 13 November 2013.

Created by Dennis Dianita.
- - -
Disudut taman
Diatas rerumputan yang hijau
Bersama embun yang masih terasa manja melekat pekat
Bersama suara burung-burung kecil yang seolah ikut berbincang
Kita saling menengadah bersama melihat cerahnya hari itu.
Semut-semut merah beserta keluarganya pun ikut menghadiri
Ada salah satu darinya yang dengan sengaja mengigit betisku
lalu semut-semut itu datang pada satu kotak makanan berwarna merah muda.
Aku tersipu malu
Diapun membuka kotak makanan secara perlahan.
Dia tersenyum begitu lama :(
Entah dia hendak memuji ataukah membully ini :(
Tampilan coklat yang pekat
dengan sedikit potongan keju mozarella didalamnya
Dia lalu tersenyum lagi
Bersama keluarga semut-semut merah
Bersama embun & kesejukannya
Bersama nyanyian burung-burung pagi
Dia berkata "Kurma pertamamu,,,,,,,,,,,, Enak"
Hari itu. Ditaman Fakultas. Mataram, Rabu 13 November 2013.

SAYAPKU, Jagalah Dia!!!!!!!!!!
Created by Dennisa Dianita.
Mataram, 18 November 2013.
Sepasang mata itu berbicara
Jauh ketika saya duduk ditepi ombak..
Ada ukiran senyuman yang tak biasanya
Seakan ia tak menginginkan sesuatu..
Ada sepasang langkah kaki yang ragu untuk mendekat
Hanya sekedar mendekat untuk bermain ombak bersama..
Disana..
Setiap detik saya menangkap tatapan mata yang dipalingkan dengan sengaja..
Sungguhpun!!!!
Saya tak bisa sekedar merasakan makna getar tubuhnya..
Saya tak bisa sekedar menyimpulkan tatapannya..
Saya tak bisa sekedar membaca raut wajahnya..
Saya pun tak bisa untuk sekedar mendengar bisikan hatinya.
Kenapa?????? ----
Iya..
Saya hanya takut untuk kembali "Jatuh Cinta"
Saya hanya takut untuk kembali "Dikecewakan cinta yang saya bangga-banggakan"
Saya hanya membatasi diri untuk "TERLALU" mencintai sesuatu hal (lagi)..
MUNAFIK jika saya katakan "SAYA TIDAK BUTUH PENYEMANGAT"
MUNAFIK jika saya katakan "SAYA TIDAK INGIN JATUH CINTA LAGI"
MUNAFIK jika saya katakan "SAYA BAHAGIA DENGAN KESEPIAN"
MUNAFIK jika saya katakan "SAYA TIDAK MEMIKIRKAN INI"
Atas cerita indahmu
Saya mampu menghapuskan derita
Beban dan kisah ini..
Kau mampu, sebenarnya kau mampu mengalahkan rasa takut itu..
Tapi...
Saya ingin tetap seperti ini
Menjadi "KITA" yang berbeda dengan manusia lainnya
Menjadi "KITA" yang hanya mampu saling memandang dengan jarak
Menjadi kita....
Tetaplah seperti ini!
Simpanlah sayapku yang kau temukan jatuh & patah
Rawatlah dia baik-baik
Dan berikan kembali padaku, jika waktu itu sudah tiba.
- Dennisa Dianita.
Mataram, 18 November 2013.

Mataram, 18 November 2013.
Sepasang mata itu berbicara
Jauh ketika saya duduk ditepi ombak..
Ada ukiran senyuman yang tak biasanya
Seakan ia tak menginginkan sesuatu..
Ada sepasang langkah kaki yang ragu untuk mendekat
Hanya sekedar mendekat untuk bermain ombak bersama..
Disana..
Setiap detik saya menangkap tatapan mata yang dipalingkan dengan sengaja..
Sungguhpun!!!!
Saya tak bisa sekedar merasakan makna getar tubuhnya..
Saya tak bisa sekedar menyimpulkan tatapannya..
Saya tak bisa sekedar membaca raut wajahnya..
Saya pun tak bisa untuk sekedar mendengar bisikan hatinya.
Kenapa?????? ----
Iya..
Saya hanya takut untuk kembali "Jatuh Cinta"
Saya hanya takut untuk kembali "Dikecewakan cinta yang saya bangga-banggakan"
Saya hanya membatasi diri untuk "TERLALU" mencintai sesuatu hal (lagi)..
MUNAFIK jika saya katakan "SAYA TIDAK BUTUH PENYEMANGAT"
MUNAFIK jika saya katakan "SAYA TIDAK INGIN JATUH CINTA LAGI"
MUNAFIK jika saya katakan "SAYA BAHAGIA DENGAN KESEPIAN"
MUNAFIK jika saya katakan "SAYA TIDAK MEMIKIRKAN INI"
Atas cerita indahmu
Saya mampu menghapuskan derita
Beban dan kisah ini..
Kau mampu, sebenarnya kau mampu mengalahkan rasa takut itu..
Tapi...
Saya ingin tetap seperti ini
Menjadi "KITA" yang berbeda dengan manusia lainnya
Menjadi "KITA" yang hanya mampu saling memandang dengan jarak
Menjadi kita....
Tetaplah seperti ini!
Simpanlah sayapku yang kau temukan jatuh & patah
Rawatlah dia baik-baik
Dan berikan kembali padaku, jika waktu itu sudah tiba.
- Dennisa Dianita.
Mataram, 18 November 2013.

"Hari Terakhir UTS dan Sunset Pertama Itu"
Matahari bau pasir
Mencium laut, perlahan
Menghirupnya dalam dalam.
Memerah tenggelam ----
Dipantai itu, ada sepasang mata yang berbicara dari radius yang tak begitu jauh dari tempat saya duduk ditepi ombak.
Kita hanya mampu tersenyum dari jarak bersama teman-teman lain.
Saya membawakannya satu kotak nasi yang berisi soup, nasi goreng, bihun dan potongan ayam balado.
Masakan saya habis dimakan teman-teman tanpa saya makan sedikitpun, saya hanya tersenyum miris kepadanya... ^_^ (Sabaaar yaaa)
Disana...
Sunset pertama bagi hidup saya.
Kita berlari dari ujung pantai ketepi villa tua itu, dipagar yang berwarna hijau saya selipkan badan kecil saya untuk melihat anugerah alam dari Tuhan saya.
Matahari senjapun lenyap. Dan kita pulang dengan hati yang berbunga-bunga setelah piknik pertama kita.
- Dennisa Dianita. Dipantai sengigi & malimbu. Mataram, 30 Oktober 2013.

Mencium laut, perlahan
Menghirupnya dalam dalam.
Memerah tenggelam ----
Dipantai itu, ada sepasang mata yang berbicara dari radius yang tak begitu jauh dari tempat saya duduk ditepi ombak.
Kita hanya mampu tersenyum dari jarak bersama teman-teman lain.
Saya membawakannya satu kotak nasi yang berisi soup, nasi goreng, bihun dan potongan ayam balado.
Masakan saya habis dimakan teman-teman tanpa saya makan sedikitpun, saya hanya tersenyum miris kepadanya... ^_^ (Sabaaar yaaa)
Disana...
Sunset pertama bagi hidup saya.
Kita berlari dari ujung pantai ketepi villa tua itu, dipagar yang berwarna hijau saya selipkan badan kecil saya untuk melihat anugerah alam dari Tuhan saya.
Matahari senjapun lenyap. Dan kita pulang dengan hati yang berbunga-bunga setelah piknik pertama kita.
- Dennisa Dianita. Dipantai sengigi & malimbu. Mataram, 30 Oktober 2013.

Langganan:
Komentar (Atom)
