Mataram, 14 November 2013.
Kau...
Kala itu kau hadir tepat ketika petir menyambar
Kau datang tepat ketika ombak dilaut lepas itu surut
Kau datang laksana seorang tabib yang membawakanku
air segar ditengah teriknya padang pasir digurun
Aku sendiri...
Haus...
aku tak punya tempat untuk bernaung digurun sepanas ini
aku hilang arah untuk kembali pulang...
Kau....
Kau dengan begitu sabar menuntunku berjalan
tanpa sedikitpun kau menggenggam tanganku
kau hendak mengantarkanku kesuatu gerbang pembatas untuk aku kembali pulang.
Ditengah jalan,
kau laksana malaikat berbaju putih nan rupawan
yang dengan begitu hati-hati menjagaku
kau bunuh semua binatang buas yang hendak menerkamku
kau dirikan aku tenda ditengah gurun itu
hingga hujan & petir pun giliran mengiri hari
tapi, kau tak ikut berteduh didalamnya..
Hingga suatu hari,
tibalah saatnya kita dengan bersama menemukan jembatan itu
jembatan yang menghubungkan dengan sebuah gerbang
gerbang yang membatasi sebuah gurun pasir yang teramat panas dan gersang
dengan sebuah bukit hijau yang rindang dan sejuk..
Saat itu aku bertanya, "Kau mau ikut pulang bersamaku??"
Kau menjawab, " Tidak. Aku tidak bisa ikut, aku hanya ditakdirkan oleh Allah SWT untuk hidup digurun ini, bersama seorang bidadari Beliau pilihkan untuk aku, kelak."
Aku bertanya lagi, "Bidadari??????????? Dimana bidadari itu? Kenapa aku tak melihatnya disini??"
Kau dengan lembut kembali menjawab, "Bidadari itu suatu hari akan datang ditempat ini, disini, dia akan mengetuk gerbang ini untuk memanggilku. Kelak, kami akan merubah gurun ini menjadi sebuah taman & bukit yang begitu indah & sejuk yang akan tumbuh bunga & buah yang lebat."
Saat itu, aku begitu terkesima mendengarkan perkataanmu
sampai-sampai aku lupa bahwa cahaya pembatas diufuk barat akan segera terbenam
aku harus segera pulang.....
Lalu dengan pertama kalinya, kau memegang tanganku dengan hangat
kemudian aku berjalan menyusuri jembatan panjang itu, hingga kita pun saling melambaikan tangan dan tak terlihat lagi pundak masing-masing.
------
Berjalannya waktu,
aku tumbuh & semakin tumbuh menjadi aku
sendiri...
sepi....
sunyi...
hanya bertemankan dengan burung-burung ditepi pantai
hanya bertemankan cahaya diufuk timur, dan dia pulang keufuk barat lagi
setiap hari, seperti itu..
Hingga aku merasa kesendirian ini telah terlalu cukup lama mengiriku
membuatku rindu akan sosok kau digurun itu
apalah arti gunung & bukit yang indah
jika didalamnya hanya kita seorang diri??
aku terus bertanya hal itu pada cahaya senja
Hingga disuatu senja tiba,
aku saat itu duduk ditepi tanaman bakau pantai itu
ada segerombolan keluarga burung-burung, matahari, dan pelangi datang
mereka berkata, "Kau.. Kau adalah bidadari yang pemuda itu maksud, dia telah menjagamu jauh sebelum kau tersesat digurun itu, dia pun telah ditakdirkan hidup denganmu jauh sebelum kau lahir didunia ini. kehidupanmu ada disana bersamanya, gurun yang gersang itu akan berubah menjadi panorama gungung yang sejuk nan indah jika kalian tinggal bersama didalamnya... Kembalilah pada takdirmu."
Dengan perlahan matahari itu tenggelam diufuk barat
begitupun dengan pelangi yang semakin memudar ditelan gelap awan
aku menangis..
aku berlari...
aku ingin kesana lagi...
Lalu burung-burung itu menyuruhku kearah barat daya
aku berlari sekencang sekuat aku bisa pada senja itu
aku lemah, tapi hatiku lebih kuat
hingga burung-burung itu bentuknya kian memudar tersamarkan gelapnya hari
aku berteriak berulang kali memanggil matahari & pelangi
namun mereka nampaknya telah lenyap tertelan bumi
begitupun burung-burung itu, mereka sudah benar-benar tidak ada.
Aku sendiri...
bumi ini sudah benar-benar gelap
tidak ada satupun penerang
bulan dan bintang pun tak ada, benar-benar tak ada...
sepertinya mereka marah
karena aku sudah terlalu naif
aku munafik
aku pura-pura bodoh
aku terlalu membohongi perasaanku yang kala itu berkata "Aku Mencintainya"
Saat itu...
aku tak tahu harus kearah mana kubawakan langkakah kaki
untuk menemukan jembatan yang menghubungkan dengan gerbang pembatas itu
--------
Kemudian..
Diarah selatanku, datang bak seperti obor api yang begitu membara
aku takut, begitu takut..
semakin dekat, mereka semakin mendekat
---
Dan ternyata, itu bukan bola api
mereka keluarga kunang-kunang
belum pernah aku melihat kunang-kunang seterang itu
kunang-kunang seindah itu, cahayanya terang, bentunya indah..
kunang-kunang itu seolah mengajakku berdiri & berlari kembali mencari jembatan itu.
Tibalah aku ditujuan
tujuan yang hendak mempertemukanku dengan pemuda itu
tempat dimana pria itu hidup
tempat dimana pria itu menjanjikan sesuatu untukku
didalam hatiku menggebu berkata, "Aku datang... Tunggu aku... Aku datang... Bukakanlah gerbang itu!!!!!!"
lalu aku menyusuri jembatan itu dengan lari kakiku yang begitu bersemangat.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku mengetuknya satu kali,
aku mengetuknya duakali,
aku mengetuknya tiga kali,
aku terus mengetuknya sampai empat kali,
aku kembali mengetuknya untuk kesekian kalinya,
sampai tak terasa saat itu tangaku sampai terluka cukup parah
namun aku terus mengetuknya...
aku mengetuknya lagi, namun tak kunjung kau bukakan untukku...
Aku berteriak & menangis, hingga kala itu aku tak bisa menahan emosiku
kuluapkan semuanya pada kunang-kunang itu
aku berteriak dengan kencang, "DIMANA DIA??? KATAKAN SEKARANG DIMANA DIA?? "
Memang ini salahku, keliruku
kenapa aku dulu meninggalkanmu, menjauhimu.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kala itu.
Tepat dibibir jembatan
sosok sekeluarga kunang-kunang yang cahayanya menyinari aku dan alam ini
mereka terbang dengan begitu indah dan tinggi, semakin tinggi lagi..
mereka terbang tinggi
dan kembali lagi menghampiriku.
Kunang-kunang itu...........................
mereka berubah menjelma sosok "KAU"
kau, pemuda yang seumur hidup, akan aku cintai
kau, satu-satunya pemuda yang pernah memegang tanganku
kau, yang kala mampu menjagaku, menyayangi dan melindungiku.
pemuda yang pernah menjanjikan untuk menungguku digerbang ini.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Seperti biasa, sama seperti dulu
kau berkata dengan lembutmu, "Sayang.. Dinda.. Begaikan berabad-abad aku menunggumu kembali, asalkan kau tahu aku menunggumu dengan setia ditempat ini, berteman pasir dan matahari, hanya mereka yang dengan setia menemani aku duduk disini. Tapi, sekarang tidak hanya gurun yang gersang dan bukit yang indah yang membedakan kita, maafkan aku dindaku sayang, tempat kita hidup kini sudah berbeda, alamku kini harus berganti, tetapi.... mencintai & menunggumu dalam diamku adalah bentuk kesempurnaan hidupku sebelum aku mati. Jangan pernah kau merasa sedih, aku akan tetap menjagamu, aku berjanji kita akan bertemu di Surga nanti. Biarkanlah alam yang akan menghadiahi perjuangan kau, perjuanganku, perjuangan kita. Aku sangat sangat mencintaimu wanitaku, kau bidadariku, jika disurga nanti Allah menyaipkan bidadari lain aku akan menolaknya, sebab yang aku tunggu hanyalah bidadari ini, adinda. Jangan pernah tinggalkan ibadahmu, jaga Agamamu adinda"
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hingga untuk pertama kalinya
kau memeluk hangat tubuhku
sebelum kau benar-benar pergi kealam itu
Aku menangis dan terus menangis.
sungguhpun.............
aku tak sanggup melihatmu berkata hal itu tepat dihadapan mataku
Sayangku,
Priaku,
Jodohku,
Pemilik tulang rusukku,
Kini alammu sekarang lebih indah
Kau bisa dengan mudah melihatku disana
Kau masih bisa dengan mudah menjagaku disana
Dan akupun akan tetap menjagamu dengan do'aku
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Perlahan kemudian,
Kau terbang,
Cahaya ditubuhmu masih menerangiku yang masih menengadah melihat & melepaskanmu pergi...
Melepaskan cinta yang belum sempat aku perjuangkan,
Cinta yang belum sempat aku ataupun kau 'katakan' ketika kita masih hidup di Dunia yang sama..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar