Created by Dennisa Dianita
Mataram, 23 November 2013
Disamping mercusuar ditepi pantai Ampenan
Angin siang yang mendesah pelah
Seolah memintaku untuk ikut berdansa pada siang hari
Mercusuar ini dibangun dengan bangunan yang tak begitu tinggi
Juga tak begitu menakutkan bak mercusuar ditepi pantai lainnya
Begitu singkatnya aku bermanja dengan anak tangga
Berawarna peach yang begitu soft
Membuat setiap mata anak manusia enggan meninggalkannya
Lalu diarah barat dayaku
Ada pemuda yang bersweaterkan abu-abu gelap itu
Dia tersenyum dengan bermilyaran arti
Seolah menyuruhku untuk secepatnya turun dari istana bagi Kerajaan Nelayan
Dan secepatnya berlayar kelaut lepas itu
Hidup bersama ditengah indahnya suasana ombak
Bersama beribu macam ikan yang Allah SWT anugerahi
Saat itu kami tampak begitu serasi
Dengan pakaian yang berwarna senada
Dia membawakan satu kotak makanan
Yang berisi campuran sayuran lalu dibalutlah dengan saus kacang yang rasanya amat begitu gurih
Ini adalah makanan yang kesekian kalinya dia buatkan
Aku tersipu malu
Aku wanita
Padahal aku wanita
Namun ternyata dia yang lebih mampu membuat cerita kisah yang indah
Dia yang lebih pintar memasak
Menjaga
Melindungi
Menyayangi....
Dibawah Pohon yang tak berdaun juga tak berbunga ataupun berbuah
Pohon itu hanya sebatang kara
Hidup sendiri dengan batang-batang yang tak ada arti
Namun ketahuilah
Entah mengapa,
Suasana pantai saat itu begitu sejuk
Melihat arah utara terdampar sekoci para nelayan yang jauh dibawa laut lepas
Indah sekali...
Dia bercanda, "Bayangkan saja para sekoci nelayan itu bagaikan Kapal Titanic pada awal abad ke 20 lalu, betapa macetnya jalan raya dilaut ini, mungkin akan muncul sesuatu seperti lampu pengatur jalanan, andaikan saja"
Lalu dengan begitu sulitnya aku mencubit punggung tangannya, lalu kita tertawa lepas ditemani alunan merdu sang ombak dan kokohnya mercusuar itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar