“PAYUNG MERAH MUDA
UNTUK MAURA”
Namun,diarah
barat daya yang berlawanan tepat didepan buah yang hendak akan ia petik, disana
berdiri seorang pria bersweater biru tua, berarloji hitam yang mengkilat jika
cahaya memantulkan. Lelaki tampan yang terlihat modis juga memancarkan aura
berkelas. Sorot matanya kecil, namun tajam. Bayang-bayang lesung dikedua
pipinya membuat ia tampak mempertegas aura ketampanannya. Potongan rambutnya
seperti actor favorit film zaman kecilnya dulu. Ya, Fernando Hose Alta Mirano
Del Kastinyo difilm Mexico yang berjudul “Rossalinda” pada awal tahun 2004.
“Maaf, saya
sudah terlebih dahulu hendak memetik buah ini” Perkataan yang tiba-tiba
terlontarkan dari mulut perempuan berkerudung pashmina merah muda itu. Namanya
Maura Hallimatuzahra, wanita berkacamata dan berkulit putih yang terlihat
begitu cantik nan anggun.
“Maaf juga,
saya juga sudah terlebih dahulu akan memetik buah ini dari satu minggu yang
lalu.” Jawab pria gagah itu, Muhammad Azhar Heryan.
“Sungguh
bukankah seorang pria yang bijaksana bisa mengalah pada wanita? Di taman ini
begitu banyak buah stroberi lainnya, kenapa kau bersikeras untuk tidak mau
memberiku ruang untuk memetik buah ini?” Lontaran Maura yang memancarkan binar
mata yang cukup kecewa kepada pemuda itu.
“Baik, kau
bisa lihat sosok wanita di kursi roda di arah jam 3 di arloji mu?” Azhar
bertanya pada Maura.
“Kau! Apa
maksudnya dengan wanita itu?” Maura kembali bertanya.
“Dia ibu
saya, saya dan beliau menanam buah yang hendak kamu ingin petik ini sekitar
satu minggu yang lalu, dia terkena stroke,
sebelum seluruh organ tubuhnya tak bisa bekerja lagi kami sering datang ke
kebun ini setiap akhir pekan, dia pencinta tanaman stroberi. Jadi, jika bukan
karena Ibu saya alasannya, pasti saya beri padamu semua buah merah terang ini”
Ujar Azhar dengan begitu lembutnya caranya berbicara.
“Boleh saya
memetiknya sekarang dan memberikannya langsung untuk ibumu?” Rona wajah Maura
yang berubah 180 derajat, binar matanya kini berubah menjadi pancaran lemah nan
lembut. Wajarlah, dia begitu lemah jika berhadapan dengan seorang ‘Ibu’.
“Tentu”
Senyuman Azhar terpancar dari bayang-bayang biru pipinya.
Yaa..
Maura memang
hidup dipanti asuhan sejak ia masih sangat kecil, untuk sekedar tahu bentuk
muka orangtua kandungnya pun dia tak mampu, seumur hidupnya mungkin ia terlahir
untuk tidak akan bertemu mereka yang menjadi perantara ia dilahirkan dimuka
bumi ini. Dia tinggal di panti asuhan didaerah Provinsi Kota Mataram, Nusa
Tenggara Barat. Disana ia dibesarkan dan di didik oleh seorang Ibu &
kakak-kakak panti yang menjadikannya tumbuh menjadi wanita yang soleha, wanita
yang berbeda dari wanita lain pada umumnya, lemah lembut sikapnya, pancaran
mata yang selalu kokoh tertanam dikedua bola matanya yang berwarna coklat pekat.
Maura berusia 23 tahun, ia kini duduk di
semester akhir di salah satu Universitas Negeri di Provinsi ini.
“Ibu, saya
petikkan buah ini untuk anda, semoga anda suka” Maura yang membungkukan badan
mungilnya kepada sosok wanita paruh baya di kursi roda itu.
Didalam
kedua bola mata wanita paruh baya itu dia mengamati rona wajah sosok wanita
cantik dihadapannya, ditambah dengan garis lengkungan wajah oval yang
diperindah dengan bentuk mata yang bulat berwarna coklat pekat & bulu mata
yang begitu lentik yang mengingatkan dia pada seseorang di masa lalunya. Tampak
Ibu Azhar itu tak bisa melepaskan pandangannya pada mata Maura yang saat itu
masih terlihat begitu anggun membersihkan daun stroberi dan hendak membantu
menyuapkan pada ibu Azhar. Nyonya Wina.
“Oh iya, kita
belum berkenalan, nama saya Muhammad Azhar Heryan” Azhar memberikan jemari
tangan kanannya kepada Maura yang masih terlihat sedang membantu menyuapi
nyonya Wina.
“Syukron,
nama saya Maura Halimatulzahra” Maura yang terlihat hanya mengangkat kedua
tangannya kedepan dagu nya yang terlihat terbelah manis itu.
“Kau tinggal
disekitar taman ini?” Tanya Azhar.
“Tidak, saya
tinggal disebuah panti asuhan di Kota” Jawab Maura yang sesekali memalingkan
pandangannya kepada lelaki gagah yang usianya sekitar 25 tahun itu.
“Oya? Panti
asuhan didaerah mana kalau boleh saya tahu? Saya juga tinggal di Kota, lebih
tepatnya saya tinggal di perumahan sekitar Taman Udayana sebelum Bandara Lama
itu” Terlihat pancaran mata Azhar yang begitu antusias untuk mengetahui lebih
dalam tentang perempuan indah didepan matanya itu.
“Semenjak
kecil saya tinggal di panti asuhan Kasih Bunda didaerah sekitar Universitas
Mataram” Jawaban Maura yang begitu singkat menggambarkan bahwa ia mempunyai
sifat yang dingin. Justru disana letak keistimewaan bagi seorang Azhar untuk
mengenal lebih jauh perempuan yang berkerudungkan pashmina merah muda yang
sedang membelakangi tubuhnya itu.
Ketika
pembicaraan yang begitu anggun dari keduanya tiba-tiba gerimis bersenandungkan
kilat & petir menarungi mereka yang kala itu berada di tengah-tengah kebun
stroberi yang lahannya cukup luas. Untunglah Maura yang kala itu membawa payung
berukuran kecil berwarna merah muda dengan segera memberikan kepada Azhar
dengan isyarat payungilah nyonya Wina yang masih terlihat begitu seksama
menyelidiki rona tatapan kedua mata Maura.
“Baik, saya
harus kembali ke Kota,mungkin saya sebaiknya mengambil buah-buang stroberi yang
lain untuk adik-adik saya dipanti asuhan. Kau segera bawa ibumu pulang, disini
akan hujan besar” Ujarnya pada Azhar.
Tampak
terlihat rona wajah yang begitu kusut yang dipancarkan oleh seorang wanita
paruh baya dibalkon rumah mewah berwarna peach
itu. Yaa, nyonya Wina adalah salah satu pengusaha wanita yang sukses,
cabang-cabang usahanya diberbagai sektor di Nusa Tenggara, Bali, bahkan sampai
ke pulau-pulau lainnya. Dia membangun usahanya sejak 27 tahun yang lalu bersama
adik kandungnya yang bernama Nina dan Almarhum Andi Heryan yang secara tidak
langsung adalah suami dari nyonya Wina, Ayah dari Azhar.
Dia teringat
ketika awal perkenalan dengan Andi. Andi adalah mantan kekasih dari adiknya
sendiri yang bernama Nina. Ia tak tahu jika Nina adalah orang yang pernah
begitu dicintai oleh pria yang sangat dia cintai saat itu. Hal itu ia tahu
ketika usia pernikahannya menginjak 2 tahun tepat ketika Azhar masih hangat
dengan tangisan bak seorang bayi pada umumnya. Wina begitu down saat mengetahui
bahwa ternyata suami & adik yang dia bangga-banggakan ternyata bermain
dibelakangnya, membual cerita yang begitu amat memilukan bagi seorang orang
yang bernotabenkan punya intelektual yang tinggi.
Saat itu ia
melihat dibibir pintu yang menghubungkan ruang makan dengan kolam renang,
berdirilah dua orang anak manusia yang ditakdirkan untuk hadir menggores tinta
merah di lembaran cerita dimasa itu.
“Bagaimana
mungkin aku menyakiti perasaan kakak kandung aku sendiri mas? Sudah
bertahun-tahun aku menutupi rahasia kita, aku mengalah untuk kebahagiaan
kakakku, apakah itu belum cukup dimata mu? Sekarang kamu memintaku untuk
mengatakan pernikahan siri ini kepada kak wina? Kemana arah pikiranmu??” Ucapan
lirih lembut yang di ucapkan oleh wanita bertubuh mungil yang bermata coklat
pekat itu.
“Nina..
Sudah saya bilang semenjak 2 tahun yang lalu sebelum kau memaksa saya untuk
menikahi kakakmu itu , saya hanya mencintai kamu nina, saya hanya mencintai
kamu, tapi kamu tetap bersikeras memaksaku untuk menikahi Wina. Sekarang saya
kira sudah cukup, saya tidak bisa membohongi perasaan saya, satu rumah dengan
kamu tetapi kita harus berpura-pura bukan menjadi suami istri.” Tangan Andi
menggenggam jemari putih Nina.
“Kakak saya
punya penyakit yang dulu tidak bisa sembuh sebelum kau hadir didalam hidupnya,
sudah sering saya bilang ini, tolonglah mas.. Saya juga sangat mencintai kamu,
tapi kebahagiaan kakak saya lebih penting saat ini” Jawab Nina yang dengan
sergap melepaskan jemari Andi yang terlihat memakai cincin pernikahan Sah nya
dengan Wina, kakaknya.
“Apapun yang
kau katakan, aku akan tetap bilang tentang pernikahan siri kita pada Wina,
bagaimanapun juga kau sekarang sedang mengandung darah dagingku, calon adik
untuk Azhar.” Pancaran mata yang kokoh tertanam pada mata bulat hitam Andi.
Diarah
selatan mereka, keluar suara lirih tak berdaya dari perempuan berambut sebahu
dengan gaun berwarna hijau tosca dibalut dengan syall putih;
“Kenapa
kalian baru berbincang akan hal ini sekarang? Kenapa kalian biarkan terlahir
seorang Azhar ditengah-tengah cerita hidup keluarga ini yang begitu biadab,
bagaimana dengan tumbuh kembang Azhar kelak?” Terlihat mata yang berkaca-kaca
yang seolah sekerumunan air dibola mata itu ingin berlarian membasahi pipi
seorang Wina yang sedang berdiri di tepi anak tangga sambil memegang dadanya.
“Maafkan aku
Wina, aku keliru ketika dua tahun lalu menuruti paksaan permintaan adikmu Nina,
sebenarnya kita telah menikah 3 tahun lalu jauh sebelum aku menikahimu, ketika
aku dan nina sama-sama kuliah di Bogor. Tetapi baru 6 bulan usia pernikahan
kita Nina mengajakku untuk pindah tugas ke Rumah Sakit di Pulau ini, sekaligus
untuk merawat kakaknya yang sedang sakit parah, kamu. Tetapi ditengah jalan di
awal pertemuanku denganmu yang tak sengaja di
rumah sakit itu, kau bercerita bahwa kau menyukai salah satu dokter baru
yang merawatmu dirumah sakit itu kepada Nina. Nina yang pada itu posisinya amat
terjepit ditengah rimbunan duri-duri hidup, dia tak mungkin mengatakan kepadamu
bahwa aku adalah suaminya, tak mungkin disaat kondisimu masih sangat lemah.
Hingga waktu berjalan, dan kau semakin menginginkanku, setiap hari kau
bercerita pada Nina tentang pria yang sangat kau cintai yang secara tidak
langsung adalah suami sahnya sendiri. Jika kau jadi Nina, bagaimana perasaanmu?
Bertahun-tahun memendam rasa sakit rumah tangganya hancur, dia harus berbagi
suami dengan kakak kandungnya sendiri, apakah kau merasakan perasaannya?” Suara
Andi yang saat itu terasa setengah bergetar, membuat seisi rumah sunyi sepi,
tiga orang dirumah mewah itu berkaca-kaca penuh haru meluapkan emosi
masing-masing.
Dengan
setengah berlari Nina meninggalkan mereka menuju kamarnya, dengan menutupi rasa
bersalah juga rasa kecewanya, entah saat itu apakah ia harus marah atau harus
merasa bersalah kepada orang-orang dirumah itu, dia menangis dan terus menangis
hingga datanglah sosok laki-laki kecil tampan berbaju tidur stroberi merah
terang dengan cara merangkak penuh binar tawa. Yaa dia Azhar, semenjak Azhar
lahir dia diurus oleh Nina, dia yang setiap pagi memandikan dan member makanan
untuk Azhar hingga malam tiba, hingga Wina pulang bekerja mengurusi bisnis
besarnya. Setiap hari Wina pergi keluar kota untuk mengontrol kemajuan usaha
mereka. Dan Nina, Nina lah yang berjuang mengurus seisi rumah besar itu,
bagaikan ibu rumah tangga yang Andi harapkan.
Hingga hal
itu berlangsung sampai rahasia mereka terbongkar, setelah kejadian itu Nina
pergi dari rumah Wina dan Andi, tanpa mereka tahu kemana Nina pergi.
Nina pergi
bersama janin dikandungannya yang berusia 4 bulan setelah 3 tahun menikah
dengan Andi. Dia pergi ke sebuah Panti Asuhan milik sahabat kecilnya Ani Mulya
Dewi di daerah Kota Mataram, disana dia bekerja tanpa digaji untuk mengurus
anak-anak yatim piatu, dia begitu suka dengan anak kecil.
Hal itu
berlangsung bertahun-tahun sampai dia melahirkan bayi perempuan yang cantik nan
jelita yang mewariskan anugerah bola mata yang coklat pekat nan tajam. Bayi
perempuan darah daging dari seorang Pria yang begitu dia sayangi & cintai,
Andi Heryan.
Pikiran yang
jauh melayang ke masa lalu yang sudah berlalu berpuluh-puluh tahun itu membuat hati
wina sakit kembali, dia teringat lagi tentang sosok Nina dimasa lalunya, dia
tidak tahu dimana Nina dan anaknya sekarang. Semenjak kejadian Nina yang pergi
meninggalkan kehidupannya bersama Andi dan Azhar, Andi yang menjadi salah satu
dokter spesialis penyakit jantung pun menjadi frustasi dan akhirnya hilang
kesadarannya, semenjak Azhar berumur 4 tahun Andi berubah menjadi Orang gila
yang siap menyelakai orang-orang yang berada didekatnya. Setiap ada siapapun
perempuan disekitar dia, dia langsung menerkam, mencekik dan menampar perempuan
itu, dia pasti berteriak “Dimana Nina, kau sembunyikan dimana Nina? Nina
Istriku, Nina dia sedang mengandung anakku”
Hingga sudah
sekitar 20 tahun Andi dirawat di Rumah Sakit Jiwa di daerah Lombok Barat.
Setiap akhir pekan Azhar pasti datang menjenguk Ayahnya bersama nyonya Wina,
semenjak ia kecil ia tak pernah melihat Ayahnya senyum sempurna kepadanya, anak
kandungnya. Tapi ia percaya suatu hari nanti Ayahnya akan sembuh, begitupun
dengan Ibunya. Mereka akan tinggal bahagia bersama istana mereka.
Azhar kini
bekerja sebagai direktur utama diperusahaan property milik orang tuanya. Hingga
saat ini belum sempat dia memikirkan kehidupan pribadinya untuk lebih mengenal
wanita lebih dalam karena terlalu sibuknya dia mengurus perusahaan besar milik
orangtuanya dan mengurus Ayah dan Ibunya yang sama-sama sakit parah, padahal
jika dilihat dari segi kematangan usianya, Azhar telah cukup pantas untuk
memulai kehidupan baru bersama wanita pilihannya.
Sore itu,
dengan rasa yang bercampur aduk menjadi satu, Azhar memberanikan diri untuk
datang ke salah satu Panti Asuhan yang Maura katakan ketika pertemuan pertama
mereka ditaman stroberi bulan lalu. Sesampainya Azhar dibibir pintu gerbang,
diseberang taman halaman panti terlihat sosok wanita berkulit putih berjilbab
hitam panjang sedang mengajari adik-adik kecil membuat lipatan dari kertas
origami. Terlihat cantik nan anggunnya ditambah dengan senyuman yang tak lepas
dari binar bayang-bayang merah muda rona pipinya. Perlahan Azhar menghampiri
Maura, lalu dengan langsung dia membantu Maura member contoh lipatan burung
kecil dari kertas origami.
Adik-adik
panti terlihat begitu bahagia dengan rona senyum yang terpancarkan disetiap
mereka menatap sepasang Raja dan Ratu seperti dicerita-cerita dongeng mereka
sebelum tidur.
“Nah
adik-adik kakak yang manis-manis, latihan membuat hasta karyanya cukup sampai
disini ya, besok sore kita lanjutkan lagi, jangan lupa nanti dikamar
masing-masing belajar lagi membuat bunga matahari yang kakak ajarkan tadi”
Lemah lembut bicara Maura kepada adik-adik kecil itu.
“Kak Maura,
siapa pemuda itu? Pemuda itu pasti yang suka kakak ceritakan pada bunda Ani
kan? Yang bertemu di kebun stroberi itu?? Hehehehe” Celotehan anak berumur
sekitar 7 tahunan yang suka menguping cerita dia pada bunda Ani.
“ Naufaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaal! !!!!!!
Ayo adik-adik boleh pergi kekamar masing-masing” Salang tingkah Maura yang
terlihat dari wajahnya yang memerah seperti tomat yang sudah masak.
“Kau….
Ternyata kau…” Goda Azhar pada Maura.
“Mas
Muhammad Azhar Heryan, berbicaranya jangan disini, mari kita keruang tamu
panti” Tatapan menunduk Maura yang langkahnya lebih cepat meninggalkan Azhar.
Di ruang
tamu panti, Maura beserta bunda Ani datang menghampiri Azhar yang sedang duduk
menunggu pujaan hatinya duduk untuk diarah utara dikursi itu. Dan ternyata dugaannya tepat, dengan
membawakan secangkir the hijau hangat untuknya, Maura duduk tepat di kursi arah
utara, tepat diarah jam 12 arlojinya itu. Dengan tatapan yang menunduk Maura
hanya dapat mencuri-curi pandangan sesaat, begitupun dengan Azhar.
“Ada
keperluan apa anak muda datang kemari? Apakah bunda bisa membantumu nak?” Bunda
Ani membuka percakapan ditengah saling curi tatap sepasang anak muda disamping
kanan dan kirinya itu.
“Saya ingin
melamar Adinda Maura, jika bunda mengizinkan saya untuk menikahinya” Ucapan
Azhar yang tak ia sangka-sangka keluar dari vita suaranya.
“Anak muda…
Anda adalah orang yang kesekian kali yang datang untuk melamar adinda Maura,
tapi bunda sendiri tidak paham yang seperti apa yang Maura inginkan, bagaimana
dengan nak Muhammad Azhar Heryan ini, kau mau menerima lamarannya nak?” Tanya
bunda Ani pada Maura.
Maura
memberikan respon positif kepada Bunda Ani dan Azhar, dia hanya tersenyum
menunduk mengisyaratkan bahwa ia menerima lamaran Azhar.
Pagi itu
suasana rumah mewah Azhar tampak ramai dengan orang yang berhilir mudik
memasangkan berbagai dekorasi tatanan untuk hari pernikahannya minggu depan.
Ibunya yang duduk tak bisa berkata apa-apa dikursi roda hanya mampu melihat
rona kebahagiaan putra semata wayangnya itu. Azhar terlihat tak tersiratkan
lelah diwajahnya, dengan bersemangat dia menunjuk kesana kemari mengubah
tatanan yang tak sesuai dengan keinginannya.
Azhar pun
menghampiri wanita setengah paruh baya dikursi roda sudut ruangan.
“Ibu..
Sebentar lagi aku akan mempunyai keluargaku, mudah-mudahan ibu bisa cepat
sembuh dengan hadirnya sosok daging yang bernafas kelak” Tatapan mata Azhar
yang terlihat berkaca-kaca yang ia transferkan pada mata lelah ibunya.
Didalam hati
nyonya Wina, tersirat prasangka buruk pada wanita berpayung merah muda yang dia
temui di kebun stroberi dahulu. Maura, mata Maura tak berbeda jauh seperti
tatapan mata Nina adik kandungnya yang hilang sejak kejadian 24 tahun silam.
Namun ia tak bisa berkata sepatah katapun pada Azhar, dia tak mampu hanya
sekedar menulis atau memberikan isyarat tatapan pada Azhar. Dia takut dugaannya
benar, bahwa Maura adalah adik satu darah dengan Azhar, anak dari Andi dan
Nina, sang suami dan adik kandungnya sendiri.
Pernikahan
pun tinggal menghitung jari, tak terasa besok lusa waktu dimana Azhar merasakan
indahnya keluarga. Dikamar atas, terdapat sosok tuan Andi Heryan yang sedang
terlihat duduk melamun didepan cermin yang terlapisi perak ukiran kayu yang
ditempeli beberapa Kristal.
Di kota
Mataram, panti asuhan terasa begitu ramai lebih dari biasanya. Hari ini adalah
hari pernikahan Maura dengan Azhar. Mobil
yang mengangkut rombongan
keluarga Panti pun satu demi satu berjalan pelan kearah bandara lama, perumahan
elit yang dimiliki oleh perusahaan property milik keluarga Azhar. Tak
terkecuali rombongan mobil adik-adik
panti, mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba mogok ditepi jalan didepan jalan
Majapahit. Yang menyebabkan bunda Ani harus berpindah haluan berada dirombongan
ini. Dimobil yang berlawanan duduklah pengantin cantik bergaunkan sutera &
payet berwarna putih gold duduk dimobil Nissan hitam itu, dibelakangnya duduk 2
orang sahabat yang menggantikan Bunda Ani yang seharusnya ada disampingnya.
06, 05, 03,
02, 01… Dan lampu hijau pun menyala.
Lalu mobil
Nisaan berwarna hitam yang berada pada barisan paling depan pun menancapkan gas
dengan kecepatan sedangnya.
Namun tak
disadari, dari arah selatan ada mobil truk berwarna kuning yang dengan
kecepatan tinggi menerobos lampu yang sudah memerah, denga supir yang terlihat
sedang mabuk, mobil yang ugal-ugalan itupun menabrak dengan kencang mobil
Nissan dan beberapa kendaraan didepannya. Namun yang begitu parah adalah mobil
Nissan itu, tak terduga mobil yang ditumpangi oleh Maura didalamnya terseret
dan terguling selama beberapa kali sejauh 15 Meter dan akhirnya menabrak
pembatas jalan. Dari kecelakaan ini menyebabkan kecelakaan beruntun yang sangat
parah didaerah lampu merah rembiga pada awal Januari lalu.
Hingga
berita ini terdengar oleh seluruh kediaman mempelai pria beserta para tamu undangan
dikawasan perumahan elit itu. Dengan begitu scock, hampir setengah pingsan
Azhar membuka kembali matanya. Ia tak percaya hal ini bisa terjadi tepat dihari
yang harusnya menjadi bahagia untuknya.
Diruang IGD
rumah sakit umum, berpuluh-puluh orang yang terkapar tak berdaya sampai tak
bernyawa yang disebabkan kecelakaan beruntun itu, termasuk didalamnya Maura.
Azzhar yang dengan begitu panik menangis tersendu-sendu sekaligus mendorong
kursi roda Ibunya nyonya Wina, mereka masih memakai pakaian pengantin, hingga
orang-orang dirumah sakit itu melihat dengan haru kisah pilu pengantin yang
tidak disetujui alam untuk bersatu itu.
Dibelakang,
berjalanlah sosok tuan Andi Heryan dilorong ruang IGD, bersama kerumunan
tangisan para keluarga. Dia tampak tak seperti orang gila, ia berjalan penuh
langkah yakin menghampiri wanita bergaun sutera putih gold yang terkapar sudah
tak bernyawa disudut ruang IGD. Tak disangka-sangka ia menangis memeluk wanita
itu, dia beranggapan bahwa dia Nina, istrinya yang hilang 24 tahun silam. Dia
menangis histeris hingga membuat Azhar dan ibunya datang menghampiri ayahnya.
“Ayah, apa
yang ayah lakukan??” Sentak Azhar pada ayahnya
“Nak… Dia
Nina, dia Nina………….” Tangis haru seorang Andi yang mulai sadar dari hilangnya
pikiran jernihnya.
“Bukan. Dia
bukan Nina, tapi dia Maura, calon Istri saya yang sekarang meninggalkan saya”
Sentak Azhar pada ayahnya, dia meluapkan emosinya disudut IGD rumah sakit itu.
Ditengah
suasana haru, datanglah Bunda Ani yang hendak ingin melihat jenazah Maura dan 2
sahabatnya itu.
Didepan
kedua bola matanya terlihat sosok Wina yang duduk dikursi roda dengan keadaan Stroke, dan Andi Heryan yang terlihat
terlunta-lunta seperti orang gila.
“Wina?
Andi?, apa yang kalian lakukan disini?” Tanya Bunda Ani pada sekeliling orang
dilingkaran sana.
“Bunda kenal
sama ayah dan ibu saya?” Tanya Azhar dengan nada lirih seperti tak ada suara
lagi.
“Ayah?
Ibu???????????????????????? Jadi kamu adalah anak dari Wina dan Andi? Katakan
itu, apakah itu benar???????????” Tanya Bunda Ani kepada Azhar dengan sedikit
memukul pundaknya dengan penuh emosi.
“Saya anak
kandung dari mereka” Jawab Azhar dengan nada yang kembali semakin melirih.
Ditempat
itu, Bunda Ani menjatuhkan badannya kelantai.
Dan nyonya
Wina berteriak dengan sekencang-kencangnya didalam hati, “Perempuan itu, dia
sahabat karibnya Nina yang orangtuanya mempunyai yayasan panti asuhan, kenapa
dia kenal dengan Maura? Apakah Maura dititipkan pada Ani? Apakah Nina
menitipkan Muara pada panti asuhan Ani? Dimana Nina sekarang?????” Jeritan yang
tak bisa dikeluarkan dari dalam sanubari hati nyonya Wina.
Dan disudut
IGD, masih terlihat tuan Andi Heryan memeluk dan mengusap pelipis jenazah
Maura, dengan isak tangis yang semakin sendu membisingi ruang itu.
Dimakam itu,
terlihat 4 orang anak manusia yang saling menunduk memanjatkan do’a untuk
menjaga Maura dialam sana.
Azhar
beserta ayah dan ibunya, dan bunda Ani.
Disana bunda
Ani juga menunjuk satu makam yang bernisankan:
Nina Ayu
Ratnasari
Binti H.
Zaenudin
Wafat 20
Januari 1990
-
- -
“Maura
Halimatuzahra adalah nama yang dititipkan oleh Nina sebelum dia meninggal
ketika melahirkan bayi cantik itu. Dia berpesan untuk saya menjaga, merawat,
dan mendidik Maura menjadi wanita yang baik. Saya rawat Maura dengan sepenuh
kasih sayang saya, sampai dia tumbuh menjadi wanita seperti harapan alharhum
ibundanya. Perjalanan kisah orang tuamu amat begitu pilu, begitu haru untuk
saya ceritakan. Maura adalah adik kandungmu sendiri, dia terlahir dari seorang
wanita yang secara langsung yaitu adik kandung dari ibumu, nyonya Wina. Allah
SWT tidak mungkin mengijinkan saudara satu darah untuk bersatu dalam ikatan
pernikahan, mungkin itu sebabnya Maura dipanggil terlebih dahulu. Yakinlah nak,
dia akan baik-baik disana, semoga amal ibadahnya bisa menolong dia dialam lain.
Dia begitu menyayangi payung berwarna merah mudanya. Jagalah titipan
terakhirnya itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar