Jumat, 29 November 2013

“PAYUNG MERAH MUDA UNTUK MAURA”

“PAYUNG MERAH MUDA UNTUK MAURA”

1)   Pertemuan Singkat bersama nyonya Wina dan Putranya.

Disuatu gerimis pada senja akhir pekan di taman stroberi di daerah utara kota Lombok, pandangan wanita berjilbab pashmina merah muda tertuju pada sebentuk buah indah diseberang pohon itu. Buah berwarna merah terang dengan bentuk yang menarik, yang membuat langkah kakinya menyusuri tak peduli akan buah demi buah yang lainnya. Dari kejauhan ia sudah menginginkan untuk memetik buah yang bentuknya berbeda dengan buah stroberi lainnya.
Namun,diarah barat daya yang berlawanan tepat didepan buah yang hendak akan ia petik, disana berdiri seorang pria bersweater biru tua, berarloji hitam yang mengkilat jika cahaya memantulkan. Lelaki tampan yang terlihat modis juga memancarkan aura berkelas. Sorot matanya kecil, namun tajam. Bayang-bayang lesung dikedua pipinya membuat ia tampak mempertegas aura ketampanannya. Potongan rambutnya seperti actor favorit film zaman kecilnya dulu. Ya, Fernando Hose Alta Mirano Del Kastinyo difilm Mexico yang berjudul “Rossalinda” pada awal tahun 2004.

“Maaf, saya sudah terlebih dahulu hendak memetik buah ini” Perkataan yang tiba-tiba terlontarkan dari mulut perempuan berkerudung pashmina merah muda itu. Namanya Maura Hallimatuzahra, wanita berkacamata dan berkulit putih yang terlihat begitu cantik nan anggun.
“Maaf juga, saya juga sudah terlebih dahulu akan memetik buah ini dari satu minggu yang lalu.” Jawab pria gagah itu, Muhammad Azhar Heryan.

“Sungguh bukankah seorang pria yang bijaksana bisa mengalah pada wanita? Di taman ini begitu banyak buah stroberi lainnya, kenapa kau bersikeras untuk tidak mau memberiku ruang untuk memetik buah ini?” Lontaran Maura yang memancarkan binar mata yang cukup kecewa kepada pemuda itu.
“Baik, kau bisa lihat sosok wanita di kursi roda di arah jam 3 di arloji mu?” Azhar bertanya pada Maura.
“Kau! Apa maksudnya dengan wanita itu?” Maura kembali bertanya.
“Dia ibu saya, saya dan beliau menanam buah yang hendak kamu ingin petik ini sekitar satu minggu yang lalu, dia terkena stroke, sebelum seluruh organ tubuhnya tak bisa bekerja lagi kami sering datang ke kebun ini setiap akhir pekan, dia pencinta tanaman stroberi. Jadi, jika bukan karena Ibu saya alasannya, pasti saya beri padamu semua buah merah terang ini” Ujar Azhar dengan begitu lembutnya caranya berbicara.
“Boleh saya memetiknya sekarang dan memberikannya langsung untuk ibumu?” Rona wajah Maura yang berubah 180 derajat, binar matanya kini berubah menjadi pancaran lemah nan lembut. Wajarlah, dia begitu lemah jika berhadapan dengan seorang ‘Ibu’.

“Tentu” Senyuman Azhar terpancar dari bayang-bayang biru pipinya.

Yaa..
Maura memang hidup dipanti asuhan sejak ia masih sangat kecil, untuk sekedar tahu bentuk muka orangtua kandungnya pun dia tak mampu, seumur hidupnya mungkin ia terlahir untuk tidak akan bertemu mereka yang menjadi perantara ia dilahirkan dimuka bumi ini. Dia tinggal di panti asuhan didaerah Provinsi Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Disana ia dibesarkan dan di didik oleh seorang Ibu & kakak-kakak panti yang menjadikannya tumbuh menjadi wanita yang soleha, wanita yang berbeda dari wanita lain pada umumnya, lemah lembut sikapnya, pancaran mata yang selalu kokoh tertanam dikedua bola matanya yang berwarna coklat pekat. Maura berusia 23 tahun, ia kini  duduk di semester akhir di salah satu Universitas Negeri di Provinsi ini.

“Ibu, saya petikkan buah ini untuk anda, semoga anda suka” Maura yang membungkukan badan mungilnya kepada sosok wanita paruh baya di kursi roda itu.
Didalam kedua bola mata wanita paruh baya itu dia mengamati rona wajah sosok wanita cantik dihadapannya, ditambah dengan garis lengkungan wajah oval yang diperindah dengan bentuk mata yang bulat berwarna coklat pekat & bulu mata yang begitu lentik yang mengingatkan dia pada seseorang di masa lalunya. Tampak Ibu Azhar itu tak bisa melepaskan pandangannya pada mata Maura yang saat itu masih terlihat begitu anggun membersihkan daun stroberi dan hendak membantu menyuapkan pada ibu Azhar. Nyonya Wina.

“Oh iya, kita belum berkenalan, nama saya Muhammad Azhar Heryan” Azhar memberikan jemari tangan kanannya kepada Maura yang masih terlihat sedang membantu menyuapi nyonya Wina.

“Syukron, nama saya Maura Halimatulzahra” Maura yang terlihat hanya mengangkat kedua tangannya kedepan dagu nya yang terlihat terbelah manis itu.

“Kau tinggal disekitar taman ini?” Tanya Azhar.
“Tidak, saya tinggal disebuah panti asuhan di Kota” Jawab Maura yang sesekali memalingkan pandangannya kepada lelaki gagah yang usianya sekitar 25 tahun itu.
“Oya? Panti asuhan didaerah mana kalau boleh saya tahu? Saya juga tinggal di Kota, lebih tepatnya saya tinggal di perumahan sekitar Taman Udayana sebelum Bandara Lama itu” Terlihat pancaran mata Azhar yang begitu antusias untuk mengetahui lebih dalam tentang perempuan indah didepan matanya itu.
“Semenjak kecil saya tinggal di panti asuhan Kasih Bunda didaerah sekitar Universitas Mataram” Jawaban Maura yang begitu singkat menggambarkan bahwa ia mempunyai sifat yang dingin. Justru disana letak keistimewaan bagi seorang Azhar untuk mengenal lebih jauh perempuan yang berkerudungkan pashmina merah muda yang sedang membelakangi tubuhnya itu.

Ketika pembicaraan yang begitu anggun dari keduanya tiba-tiba gerimis bersenandungkan kilat & petir menarungi mereka yang kala itu berada di tengah-tengah kebun stroberi yang lahannya cukup luas. Untunglah Maura yang kala itu membawa payung berukuran kecil berwarna merah muda dengan segera memberikan kepada Azhar dengan isyarat payungilah nyonya Wina yang masih terlihat begitu seksama menyelidiki rona tatapan kedua mata Maura.
“Baik, saya harus kembali ke Kota,mungkin saya sebaiknya mengambil buah-buang stroberi yang lain untuk adik-adik saya dipanti asuhan. Kau segera bawa ibumu pulang, disini akan hujan besar” Ujarnya pada Azhar.
                                                -           -           -           -


2)   Ratapan Sesal seorang wanita paruh baya dibalkon rumah yang berwarna peach.
Tampak terlihat rona wajah yang begitu kusut yang dipancarkan oleh seorang wanita paruh baya dibalkon rumah mewah berwarna peach itu. Yaa, nyonya Wina adalah salah satu pengusaha wanita yang sukses, cabang-cabang usahanya diberbagai sektor di Nusa Tenggara, Bali, bahkan sampai ke pulau-pulau lainnya. Dia membangun usahanya sejak 27 tahun yang lalu bersama adik kandungnya yang bernama Nina dan Almarhum Andi Heryan yang secara tidak langsung adalah suami dari nyonya Wina, Ayah dari Azhar.
Dia teringat ketika awal perkenalan dengan Andi. Andi adalah mantan kekasih dari adiknya sendiri yang bernama Nina. Ia tak tahu jika Nina adalah orang yang pernah begitu dicintai oleh pria yang sangat dia cintai saat itu. Hal itu ia tahu ketika usia pernikahannya menginjak 2 tahun tepat ketika Azhar masih hangat dengan tangisan bak seorang bayi pada umumnya. Wina begitu down saat mengetahui bahwa ternyata suami & adik yang dia bangga-banggakan ternyata bermain dibelakangnya, membual cerita yang begitu amat memilukan bagi seorang orang yang bernotabenkan punya intelektual yang tinggi.
Saat itu ia melihat dibibir pintu yang menghubungkan ruang makan dengan kolam renang, berdirilah dua orang anak manusia yang ditakdirkan untuk hadir menggores tinta merah di lembaran cerita dimasa itu.
“Bagaimana mungkin aku menyakiti perasaan kakak kandung aku sendiri mas? Sudah bertahun-tahun aku menutupi rahasia kita, aku mengalah untuk kebahagiaan kakakku, apakah itu belum cukup dimata mu? Sekarang kamu memintaku untuk mengatakan pernikahan siri ini kepada kak wina? Kemana arah pikiranmu??” Ucapan lirih lembut yang di ucapkan oleh wanita bertubuh mungil yang bermata coklat pekat itu.
“Nina.. Sudah saya bilang semenjak 2 tahun yang lalu sebelum kau memaksa saya untuk menikahi kakakmu itu , saya hanya mencintai kamu nina, saya hanya mencintai kamu, tapi kamu tetap bersikeras memaksaku untuk menikahi Wina. Sekarang saya kira sudah cukup, saya tidak bisa membohongi perasaan saya, satu rumah dengan kamu tetapi kita harus berpura-pura bukan menjadi suami istri.” Tangan Andi menggenggam jemari putih Nina.
“Kakak saya punya penyakit yang dulu tidak bisa sembuh sebelum kau hadir didalam hidupnya, sudah sering saya bilang ini, tolonglah mas.. Saya juga sangat mencintai kamu, tapi kebahagiaan kakak saya lebih penting saat ini” Jawab Nina yang dengan sergap melepaskan jemari Andi yang terlihat memakai cincin pernikahan Sah nya dengan Wina, kakaknya.

“Apapun yang kau katakan, aku akan tetap bilang tentang pernikahan siri kita pada Wina, bagaimanapun juga kau sekarang sedang mengandung darah dagingku, calon adik untuk Azhar.” Pancaran mata yang kokoh tertanam pada mata bulat hitam Andi.

Diarah selatan mereka, keluar suara lirih tak berdaya dari perempuan berambut sebahu dengan gaun berwarna hijau tosca dibalut dengan syall putih;
“Kenapa kalian baru berbincang akan hal ini sekarang? Kenapa kalian biarkan terlahir seorang Azhar ditengah-tengah cerita hidup keluarga ini yang begitu biadab, bagaimana dengan tumbuh kembang Azhar kelak?” Terlihat mata yang berkaca-kaca yang seolah sekerumunan air dibola mata itu ingin berlarian membasahi pipi seorang Wina yang sedang berdiri di tepi anak tangga sambil memegang dadanya.

“Maafkan aku Wina, aku keliru ketika dua tahun lalu menuruti paksaan permintaan adikmu Nina, sebenarnya kita telah menikah 3 tahun lalu jauh sebelum aku menikahimu, ketika aku dan nina sama-sama kuliah di Bogor. Tetapi baru 6 bulan usia pernikahan kita Nina mengajakku untuk pindah tugas ke Rumah Sakit di Pulau ini, sekaligus untuk merawat kakaknya yang sedang sakit parah, kamu. Tetapi ditengah jalan di awal pertemuanku denganmu yang tak sengaja di  rumah sakit itu, kau bercerita bahwa kau menyukai salah satu dokter baru yang merawatmu dirumah sakit itu kepada Nina. Nina yang pada itu posisinya amat terjepit ditengah rimbunan duri-duri hidup, dia tak mungkin mengatakan kepadamu bahwa aku adalah suaminya, tak mungkin disaat kondisimu masih sangat lemah. Hingga waktu berjalan, dan kau semakin menginginkanku, setiap hari kau bercerita pada Nina tentang pria yang sangat kau cintai yang secara tidak langsung adalah suami sahnya sendiri. Jika kau jadi Nina, bagaimana perasaanmu? Bertahun-tahun memendam rasa sakit rumah tangganya hancur, dia harus berbagi suami dengan kakak kandungnya sendiri, apakah kau merasakan perasaannya?” Suara Andi yang saat itu terasa setengah bergetar, membuat seisi rumah sunyi sepi, tiga orang dirumah mewah itu berkaca-kaca penuh haru meluapkan emosi masing-masing.

Dengan setengah berlari Nina meninggalkan mereka menuju kamarnya, dengan menutupi rasa bersalah juga rasa kecewanya, entah saat itu apakah ia harus marah atau harus merasa bersalah kepada orang-orang dirumah itu, dia menangis dan terus menangis hingga datanglah sosok laki-laki kecil tampan berbaju tidur stroberi merah terang dengan cara merangkak penuh binar tawa. Yaa dia Azhar, semenjak Azhar lahir dia diurus oleh Nina, dia yang setiap pagi memandikan dan member makanan untuk Azhar hingga malam tiba, hingga Wina pulang bekerja mengurusi bisnis besarnya. Setiap hari Wina pergi keluar kota untuk mengontrol kemajuan usaha mereka. Dan Nina, Nina lah yang berjuang mengurus seisi rumah besar itu, bagaikan ibu rumah tangga yang Andi harapkan.

Hingga hal itu berlangsung sampai rahasia mereka terbongkar, setelah kejadian itu Nina pergi dari rumah Wina dan Andi, tanpa mereka tahu kemana Nina pergi.
Nina pergi bersama janin dikandungannya yang berusia 4 bulan setelah 3 tahun menikah dengan Andi. Dia pergi ke sebuah Panti Asuhan milik sahabat kecilnya Ani Mulya Dewi di daerah Kota Mataram, disana dia bekerja tanpa digaji untuk mengurus anak-anak yatim piatu, dia begitu suka dengan anak kecil.
Hal itu berlangsung bertahun-tahun sampai dia melahirkan bayi perempuan yang cantik nan jelita yang mewariskan anugerah bola mata yang coklat pekat nan tajam. Bayi perempuan darah daging dari seorang Pria yang begitu dia sayangi & cintai, Andi Heryan.

3)   Lamunan yang enggan Wina ingat lagi.
Pikiran yang jauh melayang ke masa lalu yang sudah berlalu berpuluh-puluh tahun itu membuat hati wina sakit kembali, dia teringat lagi tentang sosok Nina dimasa lalunya, dia tidak tahu dimana Nina dan anaknya sekarang. Semenjak kejadian Nina yang pergi meninggalkan kehidupannya bersama Andi dan Azhar, Andi yang menjadi salah satu dokter spesialis penyakit jantung pun menjadi frustasi dan akhirnya hilang kesadarannya, semenjak Azhar berumur 4 tahun Andi berubah menjadi Orang gila yang siap menyelakai orang-orang yang berada didekatnya. Setiap ada siapapun perempuan disekitar dia, dia langsung menerkam, mencekik dan menampar perempuan itu, dia pasti berteriak “Dimana Nina, kau sembunyikan dimana Nina? Nina Istriku, Nina dia sedang mengandung anakku”

Hingga sudah sekitar 20 tahun Andi dirawat di Rumah Sakit Jiwa di daerah Lombok Barat. Setiap akhir pekan Azhar pasti datang menjenguk Ayahnya bersama nyonya Wina, semenjak ia kecil ia tak pernah melihat Ayahnya senyum sempurna kepadanya, anak kandungnya. Tapi ia percaya suatu hari nanti Ayahnya akan sembuh, begitupun dengan Ibunya. Mereka akan tinggal bahagia bersama istana mereka.

Azhar kini bekerja sebagai direktur utama diperusahaan property milik orang tuanya. Hingga saat ini belum sempat dia memikirkan kehidupan pribadinya untuk lebih mengenal wanita lebih dalam karena terlalu sibuknya dia mengurus perusahaan besar milik orangtuanya dan mengurus Ayah dan Ibunya yang sama-sama sakit parah, padahal jika dilihat dari segi kematangan usianya, Azhar telah cukup pantas untuk memulai kehidupan baru bersama wanita pilihannya.

4)   Maura, Bolehkah Azhar melamarmu??
Sore itu, dengan rasa yang bercampur aduk menjadi satu, Azhar memberanikan diri untuk datang ke salah satu Panti Asuhan yang Maura katakan ketika pertemuan pertama mereka ditaman stroberi bulan lalu. Sesampainya Azhar dibibir pintu gerbang, diseberang taman halaman panti terlihat sosok wanita berkulit putih berjilbab hitam panjang sedang mengajari adik-adik kecil membuat lipatan dari kertas origami. Terlihat cantik nan anggunnya ditambah dengan senyuman yang tak lepas dari binar bayang-bayang merah muda rona pipinya. Perlahan Azhar menghampiri Maura, lalu dengan langsung dia membantu Maura member contoh lipatan burung kecil dari kertas origami.

Adik-adik panti terlihat begitu bahagia dengan rona senyum yang terpancarkan disetiap mereka menatap sepasang Raja dan Ratu seperti dicerita-cerita dongeng mereka sebelum tidur.
“Nah adik-adik kakak yang manis-manis, latihan membuat hasta karyanya cukup sampai disini ya, besok sore kita lanjutkan lagi, jangan lupa nanti dikamar masing-masing belajar lagi membuat bunga matahari yang kakak ajarkan tadi” Lemah lembut bicara Maura kepada adik-adik kecil itu.

“Kak Maura, siapa pemuda itu? Pemuda itu pasti yang suka kakak ceritakan pada bunda Ani kan? Yang bertemu di kebun stroberi itu?? Hehehehe” Celotehan anak berumur sekitar 7 tahunan yang suka menguping cerita dia pada bunda Ani.

Naufaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaal!!!!!!! Ayo adik-adik boleh pergi kekamar masing-masing” Salang tingkah Maura yang terlihat dari wajahnya yang memerah seperti tomat yang sudah masak.

“Kau…. Ternyata kau…” Goda Azhar pada Maura.
“Mas Muhammad Azhar Heryan, berbicaranya jangan disini, mari kita keruang tamu panti” Tatapan menunduk Maura yang langkahnya lebih cepat meninggalkan Azhar.

Di ruang tamu panti, Maura beserta bunda Ani datang menghampiri Azhar yang sedang duduk menunggu pujaan hatinya duduk untuk diarah utara dikursi itu.  Dan ternyata dugaannya tepat, dengan membawakan secangkir the hijau hangat untuknya, Maura duduk tepat di kursi arah utara, tepat diarah jam 12 arlojinya itu. Dengan tatapan yang menunduk Maura hanya dapat mencuri-curi pandangan sesaat, begitupun dengan Azhar.

“Ada keperluan apa anak muda datang kemari? Apakah bunda bisa membantumu nak?” Bunda Ani membuka percakapan ditengah saling curi tatap sepasang anak muda disamping kanan dan kirinya itu.
“Saya ingin melamar Adinda Maura, jika bunda mengizinkan saya untuk menikahinya” Ucapan Azhar yang tak ia sangka-sangka keluar dari vita suaranya.
“Anak muda… Anda adalah orang yang kesekian kali yang datang untuk melamar adinda Maura, tapi bunda sendiri tidak paham yang seperti apa yang Maura inginkan, bagaimana dengan nak Muhammad Azhar Heryan ini, kau mau menerima lamarannya nak?” Tanya bunda Ani pada Maura.

Maura memberikan respon positif kepada Bunda Ani dan Azhar, dia hanya tersenyum menunduk mengisyaratkan bahwa ia menerima lamaran Azhar.



5)   Ibu…. Saya akan menikahi wanita berpayung merah muda itu, Maura.
Pagi itu suasana rumah mewah Azhar tampak ramai dengan orang yang berhilir mudik memasangkan berbagai dekorasi tatanan untuk hari pernikahannya minggu depan. Ibunya yang duduk tak bisa berkata apa-apa dikursi roda hanya mampu melihat rona kebahagiaan putra semata wayangnya itu. Azhar terlihat tak tersiratkan lelah diwajahnya, dengan bersemangat dia menunjuk kesana kemari mengubah tatanan yang tak sesuai dengan keinginannya.
Azhar pun menghampiri wanita setengah paruh baya dikursi roda sudut ruangan.
“Ibu.. Sebentar lagi aku akan mempunyai keluargaku, mudah-mudahan ibu bisa cepat sembuh dengan hadirnya sosok daging yang bernafas kelak” Tatapan mata Azhar yang terlihat berkaca-kaca yang ia transferkan pada mata lelah ibunya.
Didalam hati nyonya Wina, tersirat prasangka buruk pada wanita berpayung merah muda yang dia temui di kebun stroberi dahulu. Maura, mata Maura tak berbeda jauh seperti tatapan mata Nina adik kandungnya yang hilang sejak kejadian 24 tahun silam. Namun ia tak bisa berkata sepatah katapun pada Azhar, dia tak mampu hanya sekedar menulis atau memberikan isyarat tatapan pada Azhar. Dia takut dugaannya benar, bahwa Maura adalah adik satu darah dengan Azhar, anak dari Andi dan Nina, sang suami dan adik kandungnya sendiri.



6)   Payung Merah Muda Itu Berbicara

Pernikahan pun tinggal menghitung jari, tak terasa besok lusa waktu dimana Azhar merasakan indahnya keluarga. Dikamar atas, terdapat sosok tuan Andi Heryan yang sedang terlihat duduk melamun didepan cermin yang terlapisi perak ukiran kayu yang ditempeli beberapa Kristal.


Di kota Mataram, panti asuhan terasa begitu ramai lebih dari biasanya. Hari ini adalah hari pernikahan Maura dengan Azhar. Mobil  yang mengangkut  rombongan keluarga Panti pun satu demi satu berjalan pelan kearah bandara lama, perumahan elit yang dimiliki oleh perusahaan property milik keluarga Azhar. Tak terkecuali rombongan mobil  adik-adik panti, mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba mogok ditepi jalan didepan jalan Majapahit. Yang menyebabkan bunda Ani harus berpindah haluan berada dirombongan ini. Dimobil yang berlawanan duduklah pengantin cantik bergaunkan sutera & payet berwarna putih gold duduk dimobil Nissan hitam itu, dibelakangnya duduk 2 orang sahabat yang menggantikan Bunda Ani yang seharusnya ada disampingnya.











7)   Senyuman Terakhir Maura di Lampu Merah Rembiga.

06, 05, 03, 02, 01… Dan lampu hijau pun menyala.
Lalu mobil Nisaan berwarna hitam yang berada pada barisan paling depan pun menancapkan gas dengan kecepatan sedangnya.
Namun tak disadari, dari arah selatan ada mobil truk berwarna kuning yang dengan kecepatan tinggi menerobos lampu yang sudah memerah, denga supir yang terlihat sedang mabuk, mobil yang ugal-ugalan itupun menabrak dengan kencang mobil Nissan dan beberapa kendaraan didepannya. Namun yang begitu parah adalah mobil Nissan itu, tak terduga mobil yang ditumpangi oleh Maura didalamnya terseret dan terguling selama beberapa kali sejauh 15 Meter dan akhirnya menabrak pembatas jalan. Dari kecelakaan ini menyebabkan kecelakaan beruntun yang sangat parah didaerah lampu merah rembiga pada awal Januari lalu.

Hingga berita ini terdengar oleh seluruh kediaman mempelai pria beserta para tamu undangan dikawasan perumahan elit itu. Dengan begitu scock, hampir setengah pingsan Azhar membuka kembali matanya. Ia tak percaya hal ini bisa terjadi tepat dihari yang harusnya menjadi bahagia untuknya.

Diruang IGD rumah sakit umum, berpuluh-puluh orang yang terkapar tak berdaya sampai tak bernyawa yang disebabkan kecelakaan beruntun itu, termasuk didalamnya Maura. Azzhar yang dengan begitu panik menangis tersendu-sendu sekaligus mendorong kursi roda Ibunya nyonya Wina, mereka masih memakai pakaian pengantin, hingga orang-orang dirumah sakit itu melihat dengan haru kisah pilu pengantin yang tidak disetujui alam untuk bersatu itu.
Dibelakang, berjalanlah sosok tuan Andi Heryan dilorong ruang IGD, bersama kerumunan tangisan para keluarga. Dia tampak tak seperti orang gila, ia berjalan penuh langkah yakin menghampiri wanita bergaun sutera putih gold yang terkapar sudah tak bernyawa disudut ruang IGD. Tak disangka-sangka ia menangis memeluk wanita itu, dia beranggapan bahwa dia Nina, istrinya yang hilang 24 tahun silam. Dia menangis histeris hingga membuat Azhar dan ibunya datang menghampiri ayahnya.

“Ayah, apa yang ayah lakukan??” Sentak Azhar pada ayahnya
“Nak… Dia Nina, dia Nina………….” Tangis haru seorang Andi yang mulai sadar dari hilangnya pikiran jernihnya.
“Bukan. Dia bukan Nina, tapi dia Maura, calon Istri saya yang sekarang meninggalkan saya” Sentak Azhar pada ayahnya, dia meluapkan emosinya disudut IGD rumah sakit itu.












8)   Bunda Ani. Jelaskanlah siapa Maura???

Ditengah suasana haru, datanglah Bunda Ani yang hendak ingin melihat jenazah Maura dan 2 sahabatnya itu.
Didepan kedua bola matanya terlihat sosok Wina yang duduk dikursi roda dengan keadaan Stroke, dan Andi Heryan yang terlihat terlunta-lunta seperti orang gila.
“Wina? Andi?, apa yang kalian lakukan disini?” Tanya Bunda Ani pada sekeliling orang dilingkaran sana.
“Bunda kenal sama ayah dan ibu saya?” Tanya Azhar dengan nada lirih seperti tak ada suara lagi.

“Ayah? Ibu???????????????????????? Jadi kamu adalah anak dari Wina dan Andi? Katakan itu, apakah itu benar???????????” Tanya Bunda Ani kepada Azhar dengan sedikit memukul pundaknya dengan penuh emosi.

“Saya anak kandung dari mereka” Jawab Azhar dengan nada yang kembali semakin melirih.

Ditempat itu, Bunda Ani menjatuhkan badannya kelantai.
Dan nyonya Wina berteriak dengan sekencang-kencangnya didalam hati, “Perempuan itu, dia sahabat karibnya Nina yang orangtuanya mempunyai yayasan panti asuhan, kenapa dia kenal dengan Maura? Apakah Maura dititipkan pada Ani? Apakah Nina menitipkan Muara pada panti asuhan Ani? Dimana Nina sekarang?????” Jeritan yang tak bisa dikeluarkan dari dalam sanubari hati nyonya Wina.

Dan disudut IGD, masih terlihat tuan Andi Heryan memeluk dan mengusap pelipis jenazah Maura, dengan isak tangis yang semakin sendu membisingi ruang itu.





9)   Kutitipkan payung merah mudaku kepadamu, Azhar.

Dimakam itu, terlihat 4 orang anak manusia yang saling menunduk memanjatkan do’a untuk menjaga Maura dialam sana.
Azhar beserta ayah dan ibunya, dan bunda Ani.
Disana bunda Ani juga menunjuk satu makam yang bernisankan:
Nina Ayu Ratnasari
Binti H. Zaenudin
Wafat 20 Januari 1990

-         -    -

“Maura Halimatuzahra adalah nama yang dititipkan oleh Nina sebelum dia meninggal ketika melahirkan bayi cantik itu. Dia berpesan untuk saya menjaga, merawat, dan mendidik Maura menjadi wanita yang baik. Saya rawat Maura dengan sepenuh kasih sayang saya, sampai dia tumbuh menjadi wanita seperti harapan alharhum ibundanya. Perjalanan kisah orang tuamu amat begitu pilu, begitu haru untuk saya ceritakan. Maura adalah adik kandungmu sendiri, dia terlahir dari seorang wanita yang secara langsung yaitu adik kandung dari ibumu, nyonya Wina. Allah SWT tidak mungkin mengijinkan saudara satu darah untuk bersatu dalam ikatan pernikahan, mungkin itu sebabnya Maura dipanggil terlebih dahulu. Yakinlah nak, dia akan baik-baik disana, semoga amal ibadahnya bisa menolong dia dialam lain. Dia begitu menyayangi payung berwarna merah mudanya. Jagalah titipan terakhirnya itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar