Jumat, 29 November 2013

Penulis itu.

A: Tadi saya di gubuk

B: Lalu?

A: Saat itu saya haus dan ingin minum

B: Lantas?

A: Saya menemukan gelas yang cantik dan saya ambil air mata dari gunung itu

B: Lalu kau minum?

A: Tidak,saya lupa cara minum air dalam gelas, air itu selalu tumpah dan tumpah lagi.

B: Kenapa?

A: Karena kamu tidak ada disisi saya saat itu, semuanya terasa kacau karena kamu jauh

B: Hal kecil yang berdampak besar dan hal kecil yang berarti besar, "Itu yang saya tangkap dari perkataanmu"


- - -


Kata-kata saya kala itu belum sempurna,
karena saya bukanlah seorang penulis,
Saya hanya seolang calon arsitek yang mencoba untuk mencurahkan isi hatinya lewat tulisan, bukan lewat gambar seperti biasanya.

Karena dengan kata-kata lah yang bisa membuat dia paham,
karena dia seorang penulis.


Bandung, 30 November 2013.
01.30 WIB

Semusim Bersemi Bunga

"Bandung, 30 November 2013.

Saya hanya merasa aneh, teramat begitu menyiksa diri saya sendiri.
Saya baru menyadari bahwa kau memang begitu berarti,
Kau berbeda dengan wanita lainnya yang saya kenal,

Waktu singkat ini lah yang menjawab,
Hanya beberapa bulan hidup saya terasa unik,
Butuh waktu yang lama untuk bisa memahami,
Dan butuh waktu yang lama untuk menyadarinya.


Saya harap,
Bunga itu bisa bersemi setiap hari,
Setiap bulan,
Bahkan setiap tahun,
tidak hanya semusim..

Tetapi saya sadar,
Bunga tidak seperti itu
Dia hanya bisa bertahan pada waktu musimnya
Tidak bisa bertahan dengan musim yang lain


Indahnya bunga
Manjanya bunga
Uniknya bunga
Manisnya bunga
Sakitnya bunga

Kembalilah......
Kembalilah pada pemuda ini,
pemuda yang bahkan pernah menyia-nyiakan ketika kau hendak mekar dengan kelopak bungamu yang berwarna indah.

Kembalilah....."

Gelas Yang Kau Pecahkan Petang Itu

Petang itu,
Dipinggir tegalan padi menguning
Jingganya mentari sore
Angin yang mendesah pelah
Dan suara-suara burung kecil

Bersama dengan perempuan yang cantik nan jelita
Kau datang dengan sebuah mobil jazz berwarna merah
Aku yang kala itu terlihat begitu culun, lugu, bodoh
Tampak berbeda dengan perempuan yang kau gandeng

Rambutnya panjang terurai
Dengan sedikit warna pirang
Kulitnya yang putih
Dibalut dengan gaun silver berbunga

Tampak berbeda denganku
Yang kala itu hanya memakai kaos oblong
Dengan rok selutut
Dan rambut yang diikat dua
Seperti gadis desa yang sedang jadi penonton raja dan ratu didepannya.


Kau,,
Adam,,
Teman kecilku,,
Cinta pertamaku,,

Malam sebelumnya
Sebelum kau hendak pergi ke kota lagi
Aku memberikan sepucuk surat beramplopkan merah muda berbunga
Diakhir surat itu aku tuliskan "Untuk jawabanmu, aku tunggu kau di tepi sawah yang dahulu sering kita lewati bersama ketika berangkat sekolah"


Dan esok sorenya,
Kau datang,
Benar-benar datang,
Kau datang dengan jawabanmu,
Bahwa kau lebih mencintai perempuan bergaun silver itu
Dibandingkan untuk mencintaiku (lagi), cinta pertamamu.

“PAYUNG MERAH MUDA UNTUK MAURA”

“PAYUNG MERAH MUDA UNTUK MAURA”

1)   Pertemuan Singkat bersama nyonya Wina dan Putranya.

Disuatu gerimis pada senja akhir pekan di taman stroberi di daerah utara kota Lombok, pandangan wanita berjilbab pashmina merah muda tertuju pada sebentuk buah indah diseberang pohon itu. Buah berwarna merah terang dengan bentuk yang menarik, yang membuat langkah kakinya menyusuri tak peduli akan buah demi buah yang lainnya. Dari kejauhan ia sudah menginginkan untuk memetik buah yang bentuknya berbeda dengan buah stroberi lainnya.
Namun,diarah barat daya yang berlawanan tepat didepan buah yang hendak akan ia petik, disana berdiri seorang pria bersweater biru tua, berarloji hitam yang mengkilat jika cahaya memantulkan. Lelaki tampan yang terlihat modis juga memancarkan aura berkelas. Sorot matanya kecil, namun tajam. Bayang-bayang lesung dikedua pipinya membuat ia tampak mempertegas aura ketampanannya. Potongan rambutnya seperti actor favorit film zaman kecilnya dulu. Ya, Fernando Hose Alta Mirano Del Kastinyo difilm Mexico yang berjudul “Rossalinda” pada awal tahun 2004.

“Maaf, saya sudah terlebih dahulu hendak memetik buah ini” Perkataan yang tiba-tiba terlontarkan dari mulut perempuan berkerudung pashmina merah muda itu. Namanya Maura Hallimatuzahra, wanita berkacamata dan berkulit putih yang terlihat begitu cantik nan anggun.
“Maaf juga, saya juga sudah terlebih dahulu akan memetik buah ini dari satu minggu yang lalu.” Jawab pria gagah itu, Muhammad Azhar Heryan.

“Sungguh bukankah seorang pria yang bijaksana bisa mengalah pada wanita? Di taman ini begitu banyak buah stroberi lainnya, kenapa kau bersikeras untuk tidak mau memberiku ruang untuk memetik buah ini?” Lontaran Maura yang memancarkan binar mata yang cukup kecewa kepada pemuda itu.
“Baik, kau bisa lihat sosok wanita di kursi roda di arah jam 3 di arloji mu?” Azhar bertanya pada Maura.
“Kau! Apa maksudnya dengan wanita itu?” Maura kembali bertanya.
“Dia ibu saya, saya dan beliau menanam buah yang hendak kamu ingin petik ini sekitar satu minggu yang lalu, dia terkena stroke, sebelum seluruh organ tubuhnya tak bisa bekerja lagi kami sering datang ke kebun ini setiap akhir pekan, dia pencinta tanaman stroberi. Jadi, jika bukan karena Ibu saya alasannya, pasti saya beri padamu semua buah merah terang ini” Ujar Azhar dengan begitu lembutnya caranya berbicara.
“Boleh saya memetiknya sekarang dan memberikannya langsung untuk ibumu?” Rona wajah Maura yang berubah 180 derajat, binar matanya kini berubah menjadi pancaran lemah nan lembut. Wajarlah, dia begitu lemah jika berhadapan dengan seorang ‘Ibu’.

“Tentu” Senyuman Azhar terpancar dari bayang-bayang biru pipinya.

Yaa..
Maura memang hidup dipanti asuhan sejak ia masih sangat kecil, untuk sekedar tahu bentuk muka orangtua kandungnya pun dia tak mampu, seumur hidupnya mungkin ia terlahir untuk tidak akan bertemu mereka yang menjadi perantara ia dilahirkan dimuka bumi ini. Dia tinggal di panti asuhan didaerah Provinsi Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Disana ia dibesarkan dan di didik oleh seorang Ibu & kakak-kakak panti yang menjadikannya tumbuh menjadi wanita yang soleha, wanita yang berbeda dari wanita lain pada umumnya, lemah lembut sikapnya, pancaran mata yang selalu kokoh tertanam dikedua bola matanya yang berwarna coklat pekat. Maura berusia 23 tahun, ia kini  duduk di semester akhir di salah satu Universitas Negeri di Provinsi ini.

“Ibu, saya petikkan buah ini untuk anda, semoga anda suka” Maura yang membungkukan badan mungilnya kepada sosok wanita paruh baya di kursi roda itu.
Didalam kedua bola mata wanita paruh baya itu dia mengamati rona wajah sosok wanita cantik dihadapannya, ditambah dengan garis lengkungan wajah oval yang diperindah dengan bentuk mata yang bulat berwarna coklat pekat & bulu mata yang begitu lentik yang mengingatkan dia pada seseorang di masa lalunya. Tampak Ibu Azhar itu tak bisa melepaskan pandangannya pada mata Maura yang saat itu masih terlihat begitu anggun membersihkan daun stroberi dan hendak membantu menyuapkan pada ibu Azhar. Nyonya Wina.

“Oh iya, kita belum berkenalan, nama saya Muhammad Azhar Heryan” Azhar memberikan jemari tangan kanannya kepada Maura yang masih terlihat sedang membantu menyuapi nyonya Wina.

“Syukron, nama saya Maura Halimatulzahra” Maura yang terlihat hanya mengangkat kedua tangannya kedepan dagu nya yang terlihat terbelah manis itu.

“Kau tinggal disekitar taman ini?” Tanya Azhar.
“Tidak, saya tinggal disebuah panti asuhan di Kota” Jawab Maura yang sesekali memalingkan pandangannya kepada lelaki gagah yang usianya sekitar 25 tahun itu.
“Oya? Panti asuhan didaerah mana kalau boleh saya tahu? Saya juga tinggal di Kota, lebih tepatnya saya tinggal di perumahan sekitar Taman Udayana sebelum Bandara Lama itu” Terlihat pancaran mata Azhar yang begitu antusias untuk mengetahui lebih dalam tentang perempuan indah didepan matanya itu.
“Semenjak kecil saya tinggal di panti asuhan Kasih Bunda didaerah sekitar Universitas Mataram” Jawaban Maura yang begitu singkat menggambarkan bahwa ia mempunyai sifat yang dingin. Justru disana letak keistimewaan bagi seorang Azhar untuk mengenal lebih jauh perempuan yang berkerudungkan pashmina merah muda yang sedang membelakangi tubuhnya itu.

Ketika pembicaraan yang begitu anggun dari keduanya tiba-tiba gerimis bersenandungkan kilat & petir menarungi mereka yang kala itu berada di tengah-tengah kebun stroberi yang lahannya cukup luas. Untunglah Maura yang kala itu membawa payung berukuran kecil berwarna merah muda dengan segera memberikan kepada Azhar dengan isyarat payungilah nyonya Wina yang masih terlihat begitu seksama menyelidiki rona tatapan kedua mata Maura.
“Baik, saya harus kembali ke Kota,mungkin saya sebaiknya mengambil buah-buang stroberi yang lain untuk adik-adik saya dipanti asuhan. Kau segera bawa ibumu pulang, disini akan hujan besar” Ujarnya pada Azhar.
                                                -           -           -           -


2)   Ratapan Sesal seorang wanita paruh baya dibalkon rumah yang berwarna peach.
Tampak terlihat rona wajah yang begitu kusut yang dipancarkan oleh seorang wanita paruh baya dibalkon rumah mewah berwarna peach itu. Yaa, nyonya Wina adalah salah satu pengusaha wanita yang sukses, cabang-cabang usahanya diberbagai sektor di Nusa Tenggara, Bali, bahkan sampai ke pulau-pulau lainnya. Dia membangun usahanya sejak 27 tahun yang lalu bersama adik kandungnya yang bernama Nina dan Almarhum Andi Heryan yang secara tidak langsung adalah suami dari nyonya Wina, Ayah dari Azhar.
Dia teringat ketika awal perkenalan dengan Andi. Andi adalah mantan kekasih dari adiknya sendiri yang bernama Nina. Ia tak tahu jika Nina adalah orang yang pernah begitu dicintai oleh pria yang sangat dia cintai saat itu. Hal itu ia tahu ketika usia pernikahannya menginjak 2 tahun tepat ketika Azhar masih hangat dengan tangisan bak seorang bayi pada umumnya. Wina begitu down saat mengetahui bahwa ternyata suami & adik yang dia bangga-banggakan ternyata bermain dibelakangnya, membual cerita yang begitu amat memilukan bagi seorang orang yang bernotabenkan punya intelektual yang tinggi.
Saat itu ia melihat dibibir pintu yang menghubungkan ruang makan dengan kolam renang, berdirilah dua orang anak manusia yang ditakdirkan untuk hadir menggores tinta merah di lembaran cerita dimasa itu.
“Bagaimana mungkin aku menyakiti perasaan kakak kandung aku sendiri mas? Sudah bertahun-tahun aku menutupi rahasia kita, aku mengalah untuk kebahagiaan kakakku, apakah itu belum cukup dimata mu? Sekarang kamu memintaku untuk mengatakan pernikahan siri ini kepada kak wina? Kemana arah pikiranmu??” Ucapan lirih lembut yang di ucapkan oleh wanita bertubuh mungil yang bermata coklat pekat itu.
“Nina.. Sudah saya bilang semenjak 2 tahun yang lalu sebelum kau memaksa saya untuk menikahi kakakmu itu , saya hanya mencintai kamu nina, saya hanya mencintai kamu, tapi kamu tetap bersikeras memaksaku untuk menikahi Wina. Sekarang saya kira sudah cukup, saya tidak bisa membohongi perasaan saya, satu rumah dengan kamu tetapi kita harus berpura-pura bukan menjadi suami istri.” Tangan Andi menggenggam jemari putih Nina.
“Kakak saya punya penyakit yang dulu tidak bisa sembuh sebelum kau hadir didalam hidupnya, sudah sering saya bilang ini, tolonglah mas.. Saya juga sangat mencintai kamu, tapi kebahagiaan kakak saya lebih penting saat ini” Jawab Nina yang dengan sergap melepaskan jemari Andi yang terlihat memakai cincin pernikahan Sah nya dengan Wina, kakaknya.

“Apapun yang kau katakan, aku akan tetap bilang tentang pernikahan siri kita pada Wina, bagaimanapun juga kau sekarang sedang mengandung darah dagingku, calon adik untuk Azhar.” Pancaran mata yang kokoh tertanam pada mata bulat hitam Andi.

Diarah selatan mereka, keluar suara lirih tak berdaya dari perempuan berambut sebahu dengan gaun berwarna hijau tosca dibalut dengan syall putih;
“Kenapa kalian baru berbincang akan hal ini sekarang? Kenapa kalian biarkan terlahir seorang Azhar ditengah-tengah cerita hidup keluarga ini yang begitu biadab, bagaimana dengan tumbuh kembang Azhar kelak?” Terlihat mata yang berkaca-kaca yang seolah sekerumunan air dibola mata itu ingin berlarian membasahi pipi seorang Wina yang sedang berdiri di tepi anak tangga sambil memegang dadanya.

“Maafkan aku Wina, aku keliru ketika dua tahun lalu menuruti paksaan permintaan adikmu Nina, sebenarnya kita telah menikah 3 tahun lalu jauh sebelum aku menikahimu, ketika aku dan nina sama-sama kuliah di Bogor. Tetapi baru 6 bulan usia pernikahan kita Nina mengajakku untuk pindah tugas ke Rumah Sakit di Pulau ini, sekaligus untuk merawat kakaknya yang sedang sakit parah, kamu. Tetapi ditengah jalan di awal pertemuanku denganmu yang tak sengaja di  rumah sakit itu, kau bercerita bahwa kau menyukai salah satu dokter baru yang merawatmu dirumah sakit itu kepada Nina. Nina yang pada itu posisinya amat terjepit ditengah rimbunan duri-duri hidup, dia tak mungkin mengatakan kepadamu bahwa aku adalah suaminya, tak mungkin disaat kondisimu masih sangat lemah. Hingga waktu berjalan, dan kau semakin menginginkanku, setiap hari kau bercerita pada Nina tentang pria yang sangat kau cintai yang secara tidak langsung adalah suami sahnya sendiri. Jika kau jadi Nina, bagaimana perasaanmu? Bertahun-tahun memendam rasa sakit rumah tangganya hancur, dia harus berbagi suami dengan kakak kandungnya sendiri, apakah kau merasakan perasaannya?” Suara Andi yang saat itu terasa setengah bergetar, membuat seisi rumah sunyi sepi, tiga orang dirumah mewah itu berkaca-kaca penuh haru meluapkan emosi masing-masing.

Dengan setengah berlari Nina meninggalkan mereka menuju kamarnya, dengan menutupi rasa bersalah juga rasa kecewanya, entah saat itu apakah ia harus marah atau harus merasa bersalah kepada orang-orang dirumah itu, dia menangis dan terus menangis hingga datanglah sosok laki-laki kecil tampan berbaju tidur stroberi merah terang dengan cara merangkak penuh binar tawa. Yaa dia Azhar, semenjak Azhar lahir dia diurus oleh Nina, dia yang setiap pagi memandikan dan member makanan untuk Azhar hingga malam tiba, hingga Wina pulang bekerja mengurusi bisnis besarnya. Setiap hari Wina pergi keluar kota untuk mengontrol kemajuan usaha mereka. Dan Nina, Nina lah yang berjuang mengurus seisi rumah besar itu, bagaikan ibu rumah tangga yang Andi harapkan.

Hingga hal itu berlangsung sampai rahasia mereka terbongkar, setelah kejadian itu Nina pergi dari rumah Wina dan Andi, tanpa mereka tahu kemana Nina pergi.
Nina pergi bersama janin dikandungannya yang berusia 4 bulan setelah 3 tahun menikah dengan Andi. Dia pergi ke sebuah Panti Asuhan milik sahabat kecilnya Ani Mulya Dewi di daerah Kota Mataram, disana dia bekerja tanpa digaji untuk mengurus anak-anak yatim piatu, dia begitu suka dengan anak kecil.
Hal itu berlangsung bertahun-tahun sampai dia melahirkan bayi perempuan yang cantik nan jelita yang mewariskan anugerah bola mata yang coklat pekat nan tajam. Bayi perempuan darah daging dari seorang Pria yang begitu dia sayangi & cintai, Andi Heryan.

3)   Lamunan yang enggan Wina ingat lagi.
Pikiran yang jauh melayang ke masa lalu yang sudah berlalu berpuluh-puluh tahun itu membuat hati wina sakit kembali, dia teringat lagi tentang sosok Nina dimasa lalunya, dia tidak tahu dimana Nina dan anaknya sekarang. Semenjak kejadian Nina yang pergi meninggalkan kehidupannya bersama Andi dan Azhar, Andi yang menjadi salah satu dokter spesialis penyakit jantung pun menjadi frustasi dan akhirnya hilang kesadarannya, semenjak Azhar berumur 4 tahun Andi berubah menjadi Orang gila yang siap menyelakai orang-orang yang berada didekatnya. Setiap ada siapapun perempuan disekitar dia, dia langsung menerkam, mencekik dan menampar perempuan itu, dia pasti berteriak “Dimana Nina, kau sembunyikan dimana Nina? Nina Istriku, Nina dia sedang mengandung anakku”

Hingga sudah sekitar 20 tahun Andi dirawat di Rumah Sakit Jiwa di daerah Lombok Barat. Setiap akhir pekan Azhar pasti datang menjenguk Ayahnya bersama nyonya Wina, semenjak ia kecil ia tak pernah melihat Ayahnya senyum sempurna kepadanya, anak kandungnya. Tapi ia percaya suatu hari nanti Ayahnya akan sembuh, begitupun dengan Ibunya. Mereka akan tinggal bahagia bersama istana mereka.

Azhar kini bekerja sebagai direktur utama diperusahaan property milik orang tuanya. Hingga saat ini belum sempat dia memikirkan kehidupan pribadinya untuk lebih mengenal wanita lebih dalam karena terlalu sibuknya dia mengurus perusahaan besar milik orangtuanya dan mengurus Ayah dan Ibunya yang sama-sama sakit parah, padahal jika dilihat dari segi kematangan usianya, Azhar telah cukup pantas untuk memulai kehidupan baru bersama wanita pilihannya.

4)   Maura, Bolehkah Azhar melamarmu??
Sore itu, dengan rasa yang bercampur aduk menjadi satu, Azhar memberanikan diri untuk datang ke salah satu Panti Asuhan yang Maura katakan ketika pertemuan pertama mereka ditaman stroberi bulan lalu. Sesampainya Azhar dibibir pintu gerbang, diseberang taman halaman panti terlihat sosok wanita berkulit putih berjilbab hitam panjang sedang mengajari adik-adik kecil membuat lipatan dari kertas origami. Terlihat cantik nan anggunnya ditambah dengan senyuman yang tak lepas dari binar bayang-bayang merah muda rona pipinya. Perlahan Azhar menghampiri Maura, lalu dengan langsung dia membantu Maura member contoh lipatan burung kecil dari kertas origami.

Adik-adik panti terlihat begitu bahagia dengan rona senyum yang terpancarkan disetiap mereka menatap sepasang Raja dan Ratu seperti dicerita-cerita dongeng mereka sebelum tidur.
“Nah adik-adik kakak yang manis-manis, latihan membuat hasta karyanya cukup sampai disini ya, besok sore kita lanjutkan lagi, jangan lupa nanti dikamar masing-masing belajar lagi membuat bunga matahari yang kakak ajarkan tadi” Lemah lembut bicara Maura kepada adik-adik kecil itu.

“Kak Maura, siapa pemuda itu? Pemuda itu pasti yang suka kakak ceritakan pada bunda Ani kan? Yang bertemu di kebun stroberi itu?? Hehehehe” Celotehan anak berumur sekitar 7 tahunan yang suka menguping cerita dia pada bunda Ani.

Naufaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaal!!!!!!! Ayo adik-adik boleh pergi kekamar masing-masing” Salang tingkah Maura yang terlihat dari wajahnya yang memerah seperti tomat yang sudah masak.

“Kau…. Ternyata kau…” Goda Azhar pada Maura.
“Mas Muhammad Azhar Heryan, berbicaranya jangan disini, mari kita keruang tamu panti” Tatapan menunduk Maura yang langkahnya lebih cepat meninggalkan Azhar.

Di ruang tamu panti, Maura beserta bunda Ani datang menghampiri Azhar yang sedang duduk menunggu pujaan hatinya duduk untuk diarah utara dikursi itu.  Dan ternyata dugaannya tepat, dengan membawakan secangkir the hijau hangat untuknya, Maura duduk tepat di kursi arah utara, tepat diarah jam 12 arlojinya itu. Dengan tatapan yang menunduk Maura hanya dapat mencuri-curi pandangan sesaat, begitupun dengan Azhar.

“Ada keperluan apa anak muda datang kemari? Apakah bunda bisa membantumu nak?” Bunda Ani membuka percakapan ditengah saling curi tatap sepasang anak muda disamping kanan dan kirinya itu.
“Saya ingin melamar Adinda Maura, jika bunda mengizinkan saya untuk menikahinya” Ucapan Azhar yang tak ia sangka-sangka keluar dari vita suaranya.
“Anak muda… Anda adalah orang yang kesekian kali yang datang untuk melamar adinda Maura, tapi bunda sendiri tidak paham yang seperti apa yang Maura inginkan, bagaimana dengan nak Muhammad Azhar Heryan ini, kau mau menerima lamarannya nak?” Tanya bunda Ani pada Maura.

Maura memberikan respon positif kepada Bunda Ani dan Azhar, dia hanya tersenyum menunduk mengisyaratkan bahwa ia menerima lamaran Azhar.



5)   Ibu…. Saya akan menikahi wanita berpayung merah muda itu, Maura.
Pagi itu suasana rumah mewah Azhar tampak ramai dengan orang yang berhilir mudik memasangkan berbagai dekorasi tatanan untuk hari pernikahannya minggu depan. Ibunya yang duduk tak bisa berkata apa-apa dikursi roda hanya mampu melihat rona kebahagiaan putra semata wayangnya itu. Azhar terlihat tak tersiratkan lelah diwajahnya, dengan bersemangat dia menunjuk kesana kemari mengubah tatanan yang tak sesuai dengan keinginannya.
Azhar pun menghampiri wanita setengah paruh baya dikursi roda sudut ruangan.
“Ibu.. Sebentar lagi aku akan mempunyai keluargaku, mudah-mudahan ibu bisa cepat sembuh dengan hadirnya sosok daging yang bernafas kelak” Tatapan mata Azhar yang terlihat berkaca-kaca yang ia transferkan pada mata lelah ibunya.
Didalam hati nyonya Wina, tersirat prasangka buruk pada wanita berpayung merah muda yang dia temui di kebun stroberi dahulu. Maura, mata Maura tak berbeda jauh seperti tatapan mata Nina adik kandungnya yang hilang sejak kejadian 24 tahun silam. Namun ia tak bisa berkata sepatah katapun pada Azhar, dia tak mampu hanya sekedar menulis atau memberikan isyarat tatapan pada Azhar. Dia takut dugaannya benar, bahwa Maura adalah adik satu darah dengan Azhar, anak dari Andi dan Nina, sang suami dan adik kandungnya sendiri.



6)   Payung Merah Muda Itu Berbicara

Pernikahan pun tinggal menghitung jari, tak terasa besok lusa waktu dimana Azhar merasakan indahnya keluarga. Dikamar atas, terdapat sosok tuan Andi Heryan yang sedang terlihat duduk melamun didepan cermin yang terlapisi perak ukiran kayu yang ditempeli beberapa Kristal.


Di kota Mataram, panti asuhan terasa begitu ramai lebih dari biasanya. Hari ini adalah hari pernikahan Maura dengan Azhar. Mobil  yang mengangkut  rombongan keluarga Panti pun satu demi satu berjalan pelan kearah bandara lama, perumahan elit yang dimiliki oleh perusahaan property milik keluarga Azhar. Tak terkecuali rombongan mobil  adik-adik panti, mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba mogok ditepi jalan didepan jalan Majapahit. Yang menyebabkan bunda Ani harus berpindah haluan berada dirombongan ini. Dimobil yang berlawanan duduklah pengantin cantik bergaunkan sutera & payet berwarna putih gold duduk dimobil Nissan hitam itu, dibelakangnya duduk 2 orang sahabat yang menggantikan Bunda Ani yang seharusnya ada disampingnya.











7)   Senyuman Terakhir Maura di Lampu Merah Rembiga.

06, 05, 03, 02, 01… Dan lampu hijau pun menyala.
Lalu mobil Nisaan berwarna hitam yang berada pada barisan paling depan pun menancapkan gas dengan kecepatan sedangnya.
Namun tak disadari, dari arah selatan ada mobil truk berwarna kuning yang dengan kecepatan tinggi menerobos lampu yang sudah memerah, denga supir yang terlihat sedang mabuk, mobil yang ugal-ugalan itupun menabrak dengan kencang mobil Nissan dan beberapa kendaraan didepannya. Namun yang begitu parah adalah mobil Nissan itu, tak terduga mobil yang ditumpangi oleh Maura didalamnya terseret dan terguling selama beberapa kali sejauh 15 Meter dan akhirnya menabrak pembatas jalan. Dari kecelakaan ini menyebabkan kecelakaan beruntun yang sangat parah didaerah lampu merah rembiga pada awal Januari lalu.

Hingga berita ini terdengar oleh seluruh kediaman mempelai pria beserta para tamu undangan dikawasan perumahan elit itu. Dengan begitu scock, hampir setengah pingsan Azhar membuka kembali matanya. Ia tak percaya hal ini bisa terjadi tepat dihari yang harusnya menjadi bahagia untuknya.

Diruang IGD rumah sakit umum, berpuluh-puluh orang yang terkapar tak berdaya sampai tak bernyawa yang disebabkan kecelakaan beruntun itu, termasuk didalamnya Maura. Azzhar yang dengan begitu panik menangis tersendu-sendu sekaligus mendorong kursi roda Ibunya nyonya Wina, mereka masih memakai pakaian pengantin, hingga orang-orang dirumah sakit itu melihat dengan haru kisah pilu pengantin yang tidak disetujui alam untuk bersatu itu.
Dibelakang, berjalanlah sosok tuan Andi Heryan dilorong ruang IGD, bersama kerumunan tangisan para keluarga. Dia tampak tak seperti orang gila, ia berjalan penuh langkah yakin menghampiri wanita bergaun sutera putih gold yang terkapar sudah tak bernyawa disudut ruang IGD. Tak disangka-sangka ia menangis memeluk wanita itu, dia beranggapan bahwa dia Nina, istrinya yang hilang 24 tahun silam. Dia menangis histeris hingga membuat Azhar dan ibunya datang menghampiri ayahnya.

“Ayah, apa yang ayah lakukan??” Sentak Azhar pada ayahnya
“Nak… Dia Nina, dia Nina………….” Tangis haru seorang Andi yang mulai sadar dari hilangnya pikiran jernihnya.
“Bukan. Dia bukan Nina, tapi dia Maura, calon Istri saya yang sekarang meninggalkan saya” Sentak Azhar pada ayahnya, dia meluapkan emosinya disudut IGD rumah sakit itu.












8)   Bunda Ani. Jelaskanlah siapa Maura???

Ditengah suasana haru, datanglah Bunda Ani yang hendak ingin melihat jenazah Maura dan 2 sahabatnya itu.
Didepan kedua bola matanya terlihat sosok Wina yang duduk dikursi roda dengan keadaan Stroke, dan Andi Heryan yang terlihat terlunta-lunta seperti orang gila.
“Wina? Andi?, apa yang kalian lakukan disini?” Tanya Bunda Ani pada sekeliling orang dilingkaran sana.
“Bunda kenal sama ayah dan ibu saya?” Tanya Azhar dengan nada lirih seperti tak ada suara lagi.

“Ayah? Ibu???????????????????????? Jadi kamu adalah anak dari Wina dan Andi? Katakan itu, apakah itu benar???????????” Tanya Bunda Ani kepada Azhar dengan sedikit memukul pundaknya dengan penuh emosi.

“Saya anak kandung dari mereka” Jawab Azhar dengan nada yang kembali semakin melirih.

Ditempat itu, Bunda Ani menjatuhkan badannya kelantai.
Dan nyonya Wina berteriak dengan sekencang-kencangnya didalam hati, “Perempuan itu, dia sahabat karibnya Nina yang orangtuanya mempunyai yayasan panti asuhan, kenapa dia kenal dengan Maura? Apakah Maura dititipkan pada Ani? Apakah Nina menitipkan Muara pada panti asuhan Ani? Dimana Nina sekarang?????” Jeritan yang tak bisa dikeluarkan dari dalam sanubari hati nyonya Wina.

Dan disudut IGD, masih terlihat tuan Andi Heryan memeluk dan mengusap pelipis jenazah Maura, dengan isak tangis yang semakin sendu membisingi ruang itu.





9)   Kutitipkan payung merah mudaku kepadamu, Azhar.

Dimakam itu, terlihat 4 orang anak manusia yang saling menunduk memanjatkan do’a untuk menjaga Maura dialam sana.
Azhar beserta ayah dan ibunya, dan bunda Ani.
Disana bunda Ani juga menunjuk satu makam yang bernisankan:
Nina Ayu Ratnasari
Binti H. Zaenudin
Wafat 20 Januari 1990

-         -    -

“Maura Halimatuzahra adalah nama yang dititipkan oleh Nina sebelum dia meninggal ketika melahirkan bayi cantik itu. Dia berpesan untuk saya menjaga, merawat, dan mendidik Maura menjadi wanita yang baik. Saya rawat Maura dengan sepenuh kasih sayang saya, sampai dia tumbuh menjadi wanita seperti harapan alharhum ibundanya. Perjalanan kisah orang tuamu amat begitu pilu, begitu haru untuk saya ceritakan. Maura adalah adik kandungmu sendiri, dia terlahir dari seorang wanita yang secara langsung yaitu adik kandung dari ibumu, nyonya Wina. Allah SWT tidak mungkin mengijinkan saudara satu darah untuk bersatu dalam ikatan pernikahan, mungkin itu sebabnya Maura dipanggil terlebih dahulu. Yakinlah nak, dia akan baik-baik disana, semoga amal ibadahnya bisa menolong dia dialam lain. Dia begitu menyayangi payung berwarna merah mudanya. Jagalah titipan terakhirnya itu.


Jumat, 22 November 2013

Mercusuar Pantai Ampenan pukul 11.30 WITA

Created by Dennisa Dianita
Mataram, 23 November 2013




Disamping mercusuar ditepi pantai Ampenan
Angin siang yang mendesah pelah
Seolah memintaku untuk ikut berdansa pada siang hari
Mercusuar ini dibangun dengan bangunan yang tak begitu tinggi
Juga tak begitu menakutkan bak mercusuar ditepi pantai lainnya
Begitu singkatnya aku bermanja dengan anak tangga
Berawarna peach yang begitu soft
Membuat setiap mata anak manusia enggan meninggalkannya

Lalu diarah barat dayaku
Ada pemuda yang bersweaterkan abu-abu gelap itu
Dia tersenyum dengan bermilyaran arti
Seolah menyuruhku untuk secepatnya turun dari istana bagi Kerajaan Nelayan
Dan secepatnya berlayar kelaut lepas itu
Hidup bersama ditengah indahnya suasana ombak
Bersama beribu macam ikan yang Allah SWT anugerahi


Saat itu kami tampak begitu serasi
Dengan pakaian yang berwarna senada

Dia membawakan satu kotak makanan
Yang berisi campuran sayuran lalu dibalutlah dengan saus kacang yang rasanya amat begitu gurih
Ini adalah makanan yang kesekian kalinya dia buatkan

Aku tersipu malu
Aku wanita
Padahal aku wanita
Namun ternyata dia yang lebih mampu membuat cerita kisah yang indah
Dia yang lebih pintar memasak
Menjaga
Melindungi
Menyayangi....


Dibawah Pohon yang tak berdaun juga tak berbunga ataupun berbuah
Pohon itu hanya sebatang kara
Hidup sendiri dengan batang-batang yang tak ada arti
Namun ketahuilah
Entah mengapa,
Suasana pantai saat itu begitu sejuk
Melihat arah utara terdampar sekoci para nelayan yang jauh dibawa laut lepas
Indah sekali...
Dia bercanda, "Bayangkan saja para sekoci nelayan itu bagaikan Kapal Titanic pada awal abad ke 20 lalu, betapa macetnya jalan raya dilaut ini, mungkin akan muncul sesuatu seperti lampu pengatur jalanan, andaikan saja"

Lalu dengan begitu sulitnya aku mencubit punggung tangannya, lalu kita tertawa lepas ditemani alunan merdu sang ombak dan kokohnya mercusuar itu.

Kunang-kunang Terindah

Created by 'Dennisa Dianita'
Mataram, 14 November 2013.

Kau...
Kala itu kau hadir tepat ketika petir menyambar
Kau datang tepat ketika ombak dilaut lepas itu surut
Kau datang laksana seorang tabib yang membawakanku
air segar ditengah teriknya padang pasir digurun
Aku sendiri...
Haus...
aku tak punya tempat untuk bernaung digurun sepanas ini
aku hilang arah untuk kembali pulang...

Kau....
Kau dengan begitu sabar menuntunku berjalan
tanpa sedikitpun kau menggenggam tanganku
kau hendak mengantarkanku kesuatu gerbang pembatas untuk aku kembali pulang.

Ditengah jalan,
kau laksana malaikat berbaju putih nan rupawan
yang dengan begitu hati-hati menjagaku
kau bunuh semua binatang buas yang hendak menerkamku
kau dirikan aku tenda ditengah gurun itu
hingga hujan & petir pun giliran mengiri hari
tapi, kau tak ikut berteduh didalamnya..

Hingga suatu hari,
tibalah saatnya kita dengan bersama menemukan jembatan itu
jembatan yang menghubungkan dengan sebuah gerbang
gerbang yang membatasi sebuah gurun pasir yang teramat panas dan gersang
dengan sebuah bukit hijau yang rindang dan sejuk..

Saat itu aku bertanya, "Kau mau ikut pulang bersamaku??"
Kau menjawab, " Tidak. Aku tidak bisa ikut, aku hanya ditakdirkan oleh Allah SWT untuk hidup digurun ini, bersama seorang bidadari Beliau pilihkan untuk aku, kelak."

Aku bertanya lagi, "Bidadari??????????? Dimana bidadari itu? Kenapa aku tak melihatnya disini??"
Kau dengan lembut kembali menjawab, "Bidadari itu suatu hari akan datang ditempat ini, disini, dia akan mengetuk gerbang ini untuk memanggilku. Kelak, kami akan merubah gurun ini menjadi sebuah taman & bukit yang begitu indah & sejuk yang akan tumbuh bunga & buah yang lebat."

Saat itu, aku begitu terkesima mendengarkan perkataanmu
sampai-sampai aku lupa bahwa cahaya pembatas diufuk barat akan segera terbenam
aku harus segera pulang.....

Lalu dengan pertama kalinya, kau memegang tanganku dengan hangat
kemudian aku berjalan menyusuri jembatan panjang itu, hingga kita pun saling melambaikan tangan dan tak terlihat lagi pundak masing-masing.

------






Berjalannya waktu,
aku tumbuh & semakin tumbuh menjadi aku
sendiri...
sepi....
sunyi...
hanya bertemankan dengan burung-burung ditepi pantai
hanya bertemankan cahaya diufuk timur, dan dia pulang keufuk barat lagi
setiap hari, seperti itu..

Hingga aku merasa kesendirian ini telah terlalu cukup lama mengiriku
membuatku rindu akan sosok kau digurun itu
apalah arti gunung & bukit yang indah
jika didalamnya hanya kita seorang diri??
aku terus bertanya hal itu pada cahaya senja

Hingga disuatu senja tiba,
aku saat itu duduk ditepi tanaman bakau pantai itu
ada segerombolan keluarga burung-burung, matahari, dan pelangi datang
mereka berkata, "Kau.. Kau adalah bidadari yang pemuda itu maksud, dia telah menjagamu jauh sebelum kau tersesat digurun itu, dia pun telah ditakdirkan hidup denganmu jauh sebelum kau lahir didunia ini. kehidupanmu ada disana bersamanya, gurun yang gersang itu akan berubah menjadi panorama gungung yang sejuk nan indah jika kalian tinggal bersama didalamnya... Kembalilah pada takdirmu."

Dengan perlahan matahari itu tenggelam diufuk barat
begitupun dengan pelangi yang semakin memudar ditelan gelap awan
aku menangis..
aku berlari...
aku ingin kesana lagi...

Lalu burung-burung itu menyuruhku kearah barat daya
aku berlari sekencang sekuat aku bisa pada senja itu
aku lemah, tapi hatiku lebih kuat
hingga burung-burung itu bentuknya kian memudar tersamarkan gelapnya hari
aku berteriak berulang kali memanggil matahari & pelangi
namun mereka nampaknya telah lenyap tertelan bumi
begitupun burung-burung itu, mereka sudah benar-benar tidak ada.

Aku sendiri...
bumi ini sudah benar-benar gelap
tidak ada satupun penerang
bulan dan bintang pun tak ada, benar-benar tak ada...
sepertinya mereka marah
karena aku sudah terlalu naif
aku munafik
aku pura-pura bodoh
aku terlalu membohongi perasaanku yang kala itu berkata "Aku Mencintainya"

Saat itu...
aku tak tahu harus kearah mana kubawakan langkakah kaki
untuk menemukan jembatan yang menghubungkan dengan gerbang pembatas itu

--------

Kemudian..
Diarah selatanku, datang bak seperti obor api yang begitu membara
aku takut, begitu takut..
semakin dekat, mereka semakin mendekat
---

Dan ternyata, itu bukan bola api
mereka keluarga kunang-kunang
belum pernah aku melihat kunang-kunang seterang itu
kunang-kunang seindah itu, cahayanya terang, bentunya indah..
kunang-kunang itu seolah mengajakku berdiri & berlari kembali mencari jembatan itu.

Tibalah aku ditujuan
tujuan yang hendak mempertemukanku dengan pemuda itu
tempat dimana pria itu hidup
tempat dimana pria itu menjanjikan sesuatu untukku
didalam hatiku menggebu berkata, "Aku datang... Tunggu aku... Aku datang... Bukakanlah gerbang itu!!!!!!"
lalu aku menyusuri jembatan itu dengan lari kakiku yang begitu bersemangat.



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku mengetuknya satu kali,
aku mengetuknya duakali,
aku mengetuknya tiga kali,
aku terus mengetuknya sampai empat kali,
aku kembali mengetuknya untuk kesekian kalinya,
sampai tak terasa saat itu tangaku sampai terluka cukup parah
namun aku terus mengetuknya...
aku mengetuknya lagi, namun tak kunjung kau bukakan untukku...

Aku berteriak & menangis, hingga kala itu aku tak bisa menahan emosiku
kuluapkan semuanya pada kunang-kunang itu
aku berteriak dengan kencang, "DIMANA DIA??? KATAKAN SEKARANG DIMANA DIA?? "

Memang ini salahku, keliruku
kenapa aku dulu meninggalkanmu, menjauhimu.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------







Kala itu.
Tepat dibibir jembatan
sosok sekeluarga kunang-kunang yang cahayanya menyinari aku dan alam ini
mereka terbang dengan begitu indah dan tinggi, semakin tinggi lagi..

mereka terbang tinggi
dan kembali lagi menghampiriku.

Kunang-kunang itu...........................
mereka berubah menjelma sosok "KAU"
kau, pemuda yang seumur hidup, akan aku cintai
kau, satu-satunya pemuda yang pernah memegang tanganku
kau, yang kala mampu menjagaku, menyayangi dan melindungiku.
pemuda yang pernah menjanjikan untuk menungguku digerbang ini.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seperti biasa, sama seperti dulu

kau berkata dengan lembutmu, "Sayang.. Dinda.. Begaikan berabad-abad aku menunggumu kembali, asalkan kau tahu aku menunggumu dengan setia ditempat ini, berteman pasir dan matahari, hanya mereka yang dengan setia menemani aku duduk disini. Tapi, sekarang tidak hanya gurun yang gersang dan bukit yang indah yang membedakan kita, maafkan aku dindaku sayang, tempat kita hidup kini sudah berbeda, alamku kini harus berganti, tetapi.... mencintai & menunggumu dalam diamku adalah bentuk kesempurnaan hidupku sebelum aku mati. Jangan pernah kau merasa sedih, aku akan tetap menjagamu, aku berjanji kita akan bertemu di Surga nanti. Biarkanlah alam yang akan menghadiahi perjuangan kau, perjuanganku, perjuangan kita. Aku sangat sangat mencintaimu wanitaku, kau bidadariku, jika disurga nanti Allah menyaipkan bidadari lain aku akan menolaknya, sebab yang aku tunggu hanyalah bidadari ini, adinda. Jangan pernah tinggalkan ibadahmu, jaga Agamamu adinda"

 

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------




Hingga untuk pertama kalinya
kau memeluk hangat tubuhku
sebelum kau benar-benar pergi kealam itu

Aku menangis dan terus menangis.
sungguhpun.............
aku tak sanggup melihatmu berkata hal itu tepat dihadapan mataku


Sayangku,

Priaku,

Jodohku,

Pemilik tulang rusukku,

Kini alammu sekarang lebih indah

Kau bisa dengan mudah melihatku disana

Kau masih bisa dengan mudah menjagaku disana

Dan akupun akan tetap menjagamu dengan do'aku

 

 

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -



Perlahan kemudian,
Kau terbang,
Cahaya ditubuhmu masih menerangiku yang masih menengadah melihat & melepaskanmu pergi...
Melepaskan cinta yang belum sempat aku perjuangkan,

Cinta yang belum sempat aku ataupun kau 'katakan' ketika kita masih hidup di Dunia yang sama..



 

"Kurma Pertama Dennisa"

19 November 2013 pukul 20:56
Mataram, 19 November 2013.
Created by Dennis Dianita.


- - -
Disudut taman
Diatas rerumputan yang hijau
Bersama embun yang masih terasa manja melekat pekat
Bersama suara burung-burung kecil yang seolah ikut berbincang
Kita saling menengadah bersama melihat cerahnya hari itu.

Semut-semut merah beserta keluarganya pun ikut menghadiri
Ada salah satu darinya yang dengan sengaja mengigit betisku
lalu semut-semut itu datang pada satu kotak makanan berwarna merah muda.

Aku tersipu malu
Diapun membuka kotak makanan secara perlahan.

Dia tersenyum begitu lama :(

Entah dia hendak memuji ataukah membully ini :(


Tampilan coklat yang pekat
dengan sedikit  potongan keju mozarella didalamnya

Dia lalu tersenyum lagi

Bersama keluarga semut-semut merah
Bersama embun & kesejukannya
Bersama nyanyian burung-burung pagi
Dia berkata "Kurma pertamamu,,,,,,,,,,,, Enak"

Hari itu. Ditaman Fakultas. Mataram, Rabu 13 November 2013.

SAYAPKU, Jagalah Dia!!!!!!!!!!

Created by Dennisa Dianita.
Mataram, 18 November 2013.

Sepasang mata itu berbicara
Jauh ketika saya duduk ditepi ombak..

Ada ukiran senyuman yang tak biasanya
Seakan ia tak menginginkan sesuatu..

Ada sepasang langkah kaki yang ragu untuk mendekat
Hanya sekedar mendekat untuk bermain ombak bersama..

Disana..
Setiap detik saya menangkap tatapan mata yang dipalingkan dengan sengaja..

Sungguhpun!!!!
Saya tak bisa sekedar merasakan makna getar tubuhnya..
Saya tak bisa sekedar menyimpulkan tatapannya..
Saya tak bisa sekedar membaca raut wajahnya..
Saya pun tak bisa untuk sekedar mendengar bisikan hatinya.

Kenapa?????? ----

Iya..
Saya hanya takut untuk kembali "Jatuh Cinta"
Saya hanya takut untuk kembali "Dikecewakan cinta yang saya bangga-banggakan"
Saya hanya membatasi diri untuk "TERLALU" mencintai sesuatu hal (lagi)..

MUNAFIK jika saya katakan "SAYA TIDAK BUTUH PENYEMANGAT"
MUNAFIK jika saya katakan "SAYA TIDAK INGIN JATUH CINTA LAGI"
MUNAFIK jika saya katakan "SAYA BAHAGIA DENGAN KESEPIAN"
MUNAFIK jika saya katakan "SAYA TIDAK MEMIKIRKAN INI"


Atas cerita indahmu
Saya mampu menghapuskan derita
Beban dan kisah ini..

Kau mampu, sebenarnya kau mampu mengalahkan rasa takut itu..

Tapi...
Saya ingin tetap seperti ini
Menjadi "KITA" yang berbeda dengan manusia lainnya
Menjadi "KITA" yang hanya mampu saling memandang dengan jarak

Menjadi kita....
Tetaplah seperti ini!

Simpanlah sayapku yang kau temukan jatuh & patah
Rawatlah dia baik-baik
Dan berikan kembali padaku, jika waktu itu sudah tiba.




- Dennisa Dianita.
Mataram, 18 November 2013.

"Hari Terakhir UTS dan Sunset Pertama Itu"

Matahari bau pasir
Mencium laut, perlahan
Menghirupnya dalam dalam.
Memerah tenggelam ----

Dipantai itu, ada sepasang mata yang berbicara dari radius yang tak begitu jauh dari tempat saya duduk ditepi ombak.
Kita hanya mampu tersenyum dari jarak bersama teman-teman lain.
Saya membawakannya satu kotak nasi yang berisi soup, nasi goreng, bihun dan potongan ayam balado.
Masakan saya habis dimakan teman-teman tanpa saya makan sedikitpun, saya hanya tersenyum miris kepadanya... ^_^ (Sabaaar yaaa)


Disana...
Sunset pertama bagi hidup saya.
Kita berlari dari ujung pantai ketepi villa tua itu, dipagar yang berwarna hijau saya selipkan badan kecil saya untuk melihat anugerah alam dari Tuhan saya.


Matahari senjapun lenyap. Dan kita pulang dengan hati yang berbunga-bunga setelah piknik pertama kita.



- Dennisa Dianita. Dipantai sengigi & malimbu. Mataram, 30 Oktober 2013.