Selasa, 15 Agustus 2017

MERDEKA



Merdeka adalah ketika perempuan menjadi tak sembarang perempuan

Yang ketika ia memilili kartu kredit

Ia tak keakuan bisa membeli seluruh dunia

Rendah hati meski sebenarnya Ia mampu



Adalah ketika perempuan menjadi tak sembarang perempuan

Yang pandai memasak dan merapihkan lemari kamarnya

Karena berkeringat setelah melakukan pekerjaan rumah

Adalah kebahagiaannya



Adalah ketika perempuan menjadi tak sembarang perempuan

Yang pandai merangkai caption aduhai bijaksana di foto media sosial

Kemudian menerapkannya dalam hidupnya



Adalah ketika perempuan menjadi tak sembarang perempuan

Menyelesaikan hal-hal dengan segera

Mencintai pekerjaan atau jurusan sekolahnya

Tanpa menumpuk lalu menyebutkan itu adalah ‘jebakan batman’



Adalah ketika perempuan menjadi tak sembarang perempuan

Yang jika Ia pergi dekat maupun jauh

Seisi rumah takkan mengkhawatirkan Ia ke mana

Ia bijaksana pada dirinya sendiri dan kembali dengan kabar baik



Adalah ketika perempuan menjadi tak sembarang perempuan

Yang ketika Ia terjatuh, Ia tak berkoar bahwa ia jatuh

Ia akan mengandalkan air terjun, sungai, dan pantai sebagai penawar

Sehingga Ia sadar bahwa jatuhnya tak seberapa





Adalah ketika perempuan menjadi tak sembarang perempuan
Memakai tubuhnya sendiri
Memakai pikirannya sendiri
Dengan bijaksana
Di manapun Ia berada

Gili Trawangan, 16 Agustus 2017
09.23 PM



Jumat, 28 Juli 2017

Yi Dok Gong Dok dan Mungil yang Lincah


Saya memang mungil, tapi saya lincah. I’m nimble in loving and forgetting. Even if loving is short and forgetting so long, karena terkadang sebagian ruang ataupun kekasih (maksud:luas) layak untuk ditinggalkan.

Hidup setelah petir menyambarmu kadang tak mudah, tapi percayalah, jika kita meneruskannya dengan kesibukan sendiri itu akan berganti nikmat. Seperti yang pernah seorang katakan Tahun 2013 pada saya di Mercusuar kota lama Ampenan, sebutlah kekasih lama, walau (tak) secara simbolik, dia berkata bahwa “YI DOK GONG DOK—penawar bisa ular itu ada pada ular itu juga”. Ngena gak maksudnya? Berhenti menyalahkan orang lain, karena diri kita sendiri yang hanya bisa menyembuhkannya. Isn’t right? Inilah yang membuat kita hidup, kita perlu berbagai rasa agar menyadarkan bahwa kita masih hidup. Alam butuh hujan besar dan petir menyambar agar pelangi indah muncul setelahnya.

Setiap ruang yang saya singgahi pasti memberi saya sepaket kesan; bahagia dan luka. Bagi saya itu adalah mutlak satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Contoh, ketika saya sedang merangkai tugas akhir skripsi di perkuliahan. Orang lain menanggap itu berjalan ‘lempeng’ (bahasa; mulus/lurus). But who knows saya harus terkikis agar bisa melalui itu semua. Banyak ungkapan Pembimbing saya yang menyakitkan (namun mendidik) agar saya mengkualitaskan kecepatan yang saya targetkan. Saat itu, untuk ukuran anak berusia 20 tahun  sangat-sangat-sangat-sangat-sangat meruntuhkan. Kedua, di kegiatan lapangan, banyak hal yang membuat saya runtuh kembali karena hasil analisis yang pointless, ya mau gamau saya harus berulang kali turun ke Perusahaan tempat saya penelitian. Ketiga, ke dua orang tua saya bercerai, even ketika saya tak ada semangat apapun, mereka yang saya andalkan juga runtuh. Anyway, saya cerita sampai sini agar kalian memahami secara kaffah bagaimana kondisi saya saat itu, karena saya benci disotoy-kan orang.

Saat itu saya mengunjungi Perpustakaan Daerah, tempat favorit saya belajar yang mengingatkan saya pada kalimat ‘Yi Dok Gong Dok’. Dan memang benar, penawar keruntuhan saya pada waktu itu adalah ada pada diri saya sendiri. Saya merangkak dan kembali menata semuanya dengan sisa-sisa pola yang saya rangkai sebelumnya, walau sebagian terpecah belah. Saya yakin, kelak akan ada pelangi indah yang hadir.
Karena terkadang menikmati lara adalah nikmat, there’s no reason to stop, no reason to return. 
Tiga bulan setelahnya saya benar-benar selesai dan melengkapi Ujian Skripsi di Bulan Maret 2017. Oh masa-masa kelam. Setelah Ujian Skripsi berlangsung, saya mencoba melamar kerja ke sana- ke sini (saat itu belum ada SKL ataupun fotokopi ijazah). Dan hebatnya kuasa Tuhan, Ia mengirim saya ke Pulau favorit saya ketika kecil, untuk meliburkan lelah saya dan memperkerjakan kemampuan saya. Waktu saya terisi dengan produktif bersama lingkungan baru. And well, saya bekerja di perusahaan jasa pariwisata swasta milik orang luar. Di ruang kerja saya duduk bersama manager bule dari Swedia, tidak rasis dan sangat toleran. Berbagai kemudahan dan fasilitas Tuhan kirimkan melalui mereka, even pada saat itu saya masih fresh graduate yang tidak ada pengalaman apapun, namun mereka toleran membimbing saya hingga saya lincah pada bulan ke dua setelahnya. Berkah ini adalah ruang agar saya lupa terhadap lelah-lelah di tempo bulan ke belakang. Ini adalah bagaimana adilnya Tuhan saya, pada saya.  




Lincahlah dalam hal berjalan ketika kakimu terluka, meski kamu mungil. ‘Cause when all is well, you're going to look back on this period of your life and be so glad that you never gave up. – Haruki Murakami

Senin, 17 Juli 2017

Lombok and The Reason It Choosed


Seorang teman lama bertanya pada saya, bagaimana cara menguatkan diri untuk tinggal atau bekerja di kota/pulau yang asing bagi kita, terlebih dengan sebatang kara. Lalu kita harus berpisah jarak dengan keluarga dekat, harus rela melepaskan ‘permintaan’ yang ingin mengisi separuh dari kita, demi alasan yang kita sendiri tidak tahu mengapa kita memilihnya.

Tentunya, masing-masing manusia punya kondisi yang berbeda. Tapi saya yakin (apalagi untuk perempuan) ini bukanlah hal yang mudah. Tidak harus pergi ke pulau seberang saja sudah aduhai berat. Tapi saya selalu bangga kepada mereka (terlebih perempuan) yang berani meninggalkan zona nyamannya (untuk menderita), mengasah diri dan berkumpul ilmu. Bagi saya, menderita itu ASYIK.

Kenapa? – karena saat kita menderita, fokus kita lebih terarah, kita tidak lupa diri, dan lebih pintar menitipkan diri.

Bagi saya, setiap kota adalah adalah tempat asyik untuk belajar. Belajar bagaimana uniknya berbudaya, berbahasa, bertatakrama, dan tentu, bagaimana saya belajar untuk berteman. Saya lahir dan dibesarkan oleh keluarga yang sangat hebat di Kuningan Jawa Barat. Semenjak kecil, tatakrama di keluarga saya sangat kental sekental-kentalnya. Tapi, mereka tak mengikat harus ke mana saya ketika besar. Hampir seluruhnya (kecuali Mamah dan ke dua Tante perempuan saya), mengisi di seluruh wilayah Indonesia bahkan Luar Negeri, dari Jakarta-Solo-Surabaya-Lombok- hingga—Papua – Hingga daratan Eropa. Jadi, bagi keluarga saya, pergi sejauh mana pun adalah enteng, ketika berpegangan dengan kukuh.

Hingga pada Tahun 2013 setelah saya lulus SMA, saya menentukan Lombok untuk tempat saya belajar dan menemukan sesuatu yang ingin saya temukan. Lombok adalah kota yang spesial bagi saya (walau saya tidak lahir dan besar di sini). Suasana Lombok sangat sesuai dengan hobi saya yang GILA JALAN dan tentu Lombok juga surganya kuliner pedas yang yahud. Dari Lombok saya banyak belajar mengenai hal baru dalam hidup saya. Even ketika saya harus jatuh sakit dan meringkuk di kosan, sangat jauh dari keluarga, terkadang Lombok lah yang menghibur dan menjadi perantara mengobatinya.

Tentu, telah banyak sekali pahit-manis yang sudah terlalui. I DID AND EVERYTHING HEALS BY ITSELF. Ketika kuliah bahkan ketika saya telah bekerja. Ya kuliah saya gitu-gitu aja, standar lah. Saya juga bekerja gitu-gitu aja, masih dalam standar. Tapi dengan standar yang sangat sederhana inilah saya mampu merangkainya dengan corak saya sendiri. Kadang tak mudah menghasilkan corak di tempat yang sangat asing seperti ini.

Hingga tiba waktu saya telah lulus kuliah, dan hingga tiba waktu juga keluarga saya follow up saya agar pulang ke Kuningan, at least, di sekitar Jawa Barat/Tengah/Timur, tidak harus seberang menyeberang. Meski saat itu saya harus mengecewakan Mama dengan menunda permintaannya. Hingga saya memilih bekerja di Perusahaan Swasta di Lombok, tetap LOMBOK. Terlebih perusahaan ini adalah perusahaan jasa pariwisata di pulau yang sangat terkenal bagi traveler dunia. Tempat saya bekerja saat ini berbeda pulau dengan kota saya kuliah sebelumnya, meski masih di Provinsi yang sama. Tentu, TEMPAT BARU. Saya harus belajar dari nol tentang kesederhanaan yang menjadi corak saya. Awalnya, saya ragu saya bisa bertahan lama di Perusahaan ini, until times conveys certainty, karena ada betah saat kita ingin arah. Saya perlu arah untuk belajar bahasa, bisnis, suasana, pertemanan, dan tentu saya masih perlu waktu lama berada di sini. Itulah mengapa saya bertahan bekerja di tempat sangat jauh dan sangat berisiko seperti ini. But really, I have everything good around me. Friends and job that I love.




Saya ingin tinggal lebih lama, untuk alasan yang hanya rahasia saya dan Tuhan saja.

Saya ingin tinggal lebih lama. 


Selasa, 11 Juli 2017

Yo No Tengo Prisa. Yo Me Quiero Das El Viaje.


“Yo no tengo prisa, yo me quiero das el viaje”. Saya tidak terburu-buru, saya ingin melakukan perjalanan. – Despacito by Luis Fonsi-Daddy Yankee.




Perlahan.

Seorang pujangga pada masanya pernah berkata bahwa ‘perlahan’ luka dan bahagia akan ada hadir di manapun kau ada, dan dengan sendirinya mereka akan mewarnai, entah di tempatmu saat itu, atau kau p(indah) ke tempat baru yang lebih menyegarkan dengan ‘merantau’.

Merantau.

Suatu aktivitas menyenangkan untuk penyembuhan dan tentu, penemuan-penemuan hal baru dalam sejarah masing-masing pelakunya. Dalam merantau, bisa jadi kita menemukan nilai yang tak semua orang dapati, karena tidak semua orang mampu pergi sejauh yang kita lakukan. Dalam merantau, bisa jadi kita mendapati ramuan bahan untuk membuat bangga orang tua kita. Dalam merantau, bisa jadi kita menemui sesosok dari bermilyar kemungkinan untuk tinggal. Dalam merantau, pun bisa jadi kita hancur karena keliru dalam keputusan.

Merantau tak harus pergi jauh, ke Ibukota, luar pulau atau bahkan luar negeri. Merantau adalah niat merubah diri, menjadi sosok lebih baik, atau sebaliknya. Kemudian pulang membawa apa yang kampung halaman titipkan.

Terlalu banyak kemungkinan bagi Perantau untuk menentukan keputusan, “Where do I begin?”.

I know, exactly, ‘cause I ever knew and felt.

Bahkan, dalam menjawabnya saya terombang-ambing dalam ratusan ribu sketsa alur pikiran yang harus saya tarik benang merahnya. Adalah untung saya kuat, jika tidak, MUNGKIN, bisa pegat dan masuk rumah sakit jiwa :D

The point is “Yo no tengo prisa” and “Be Kind”, jangan terburu-buru dan jadilah baik. Kita punya Iman, maka libatkanlah dalam kehidupan. Itulah mengapa Iman (Agama) sangat-SANGAT penting dalam hidup. Jangan pergi sendirian tanpa iman pada Tuhan, karena nanti akan ripuh. 
Adalah hal yang sangat nikmat, ketika dalam perjalanan kau ada pegangan.