Jumat, 28 Juli 2017

Yi Dok Gong Dok dan Mungil yang Lincah


Saya memang mungil, tapi saya lincah. I’m nimble in loving and forgetting. Even if loving is short and forgetting so long, karena terkadang sebagian ruang ataupun kekasih (maksud:luas) layak untuk ditinggalkan.

Hidup setelah petir menyambarmu kadang tak mudah, tapi percayalah, jika kita meneruskannya dengan kesibukan sendiri itu akan berganti nikmat. Seperti yang pernah seorang katakan Tahun 2013 pada saya di Mercusuar kota lama Ampenan, sebutlah kekasih lama, walau (tak) secara simbolik, dia berkata bahwa “YI DOK GONG DOK—penawar bisa ular itu ada pada ular itu juga”. Ngena gak maksudnya? Berhenti menyalahkan orang lain, karena diri kita sendiri yang hanya bisa menyembuhkannya. Isn’t right? Inilah yang membuat kita hidup, kita perlu berbagai rasa agar menyadarkan bahwa kita masih hidup. Alam butuh hujan besar dan petir menyambar agar pelangi indah muncul setelahnya.

Setiap ruang yang saya singgahi pasti memberi saya sepaket kesan; bahagia dan luka. Bagi saya itu adalah mutlak satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Contoh, ketika saya sedang merangkai tugas akhir skripsi di perkuliahan. Orang lain menanggap itu berjalan ‘lempeng’ (bahasa; mulus/lurus). But who knows saya harus terkikis agar bisa melalui itu semua. Banyak ungkapan Pembimbing saya yang menyakitkan (namun mendidik) agar saya mengkualitaskan kecepatan yang saya targetkan. Saat itu, untuk ukuran anak berusia 20 tahun  sangat-sangat-sangat-sangat-sangat meruntuhkan. Kedua, di kegiatan lapangan, banyak hal yang membuat saya runtuh kembali karena hasil analisis yang pointless, ya mau gamau saya harus berulang kali turun ke Perusahaan tempat saya penelitian. Ketiga, ke dua orang tua saya bercerai, even ketika saya tak ada semangat apapun, mereka yang saya andalkan juga runtuh. Anyway, saya cerita sampai sini agar kalian memahami secara kaffah bagaimana kondisi saya saat itu, karena saya benci disotoy-kan orang.

Saat itu saya mengunjungi Perpustakaan Daerah, tempat favorit saya belajar yang mengingatkan saya pada kalimat ‘Yi Dok Gong Dok’. Dan memang benar, penawar keruntuhan saya pada waktu itu adalah ada pada diri saya sendiri. Saya merangkak dan kembali menata semuanya dengan sisa-sisa pola yang saya rangkai sebelumnya, walau sebagian terpecah belah. Saya yakin, kelak akan ada pelangi indah yang hadir.
Karena terkadang menikmati lara adalah nikmat, there’s no reason to stop, no reason to return. 
Tiga bulan setelahnya saya benar-benar selesai dan melengkapi Ujian Skripsi di Bulan Maret 2017. Oh masa-masa kelam. Setelah Ujian Skripsi berlangsung, saya mencoba melamar kerja ke sana- ke sini (saat itu belum ada SKL ataupun fotokopi ijazah). Dan hebatnya kuasa Tuhan, Ia mengirim saya ke Pulau favorit saya ketika kecil, untuk meliburkan lelah saya dan memperkerjakan kemampuan saya. Waktu saya terisi dengan produktif bersama lingkungan baru. And well, saya bekerja di perusahaan jasa pariwisata swasta milik orang luar. Di ruang kerja saya duduk bersama manager bule dari Swedia, tidak rasis dan sangat toleran. Berbagai kemudahan dan fasilitas Tuhan kirimkan melalui mereka, even pada saat itu saya masih fresh graduate yang tidak ada pengalaman apapun, namun mereka toleran membimbing saya hingga saya lincah pada bulan ke dua setelahnya. Berkah ini adalah ruang agar saya lupa terhadap lelah-lelah di tempo bulan ke belakang. Ini adalah bagaimana adilnya Tuhan saya, pada saya.  




Lincahlah dalam hal berjalan ketika kakimu terluka, meski kamu mungil. ‘Cause when all is well, you're going to look back on this period of your life and be so glad that you never gave up. – Haruki Murakami

Tidak ada komentar:

Posting Komentar