Senin, 17 Juli 2017

Lombok and The Reason It Choosed


Seorang teman lama bertanya pada saya, bagaimana cara menguatkan diri untuk tinggal atau bekerja di kota/pulau yang asing bagi kita, terlebih dengan sebatang kara. Lalu kita harus berpisah jarak dengan keluarga dekat, harus rela melepaskan ‘permintaan’ yang ingin mengisi separuh dari kita, demi alasan yang kita sendiri tidak tahu mengapa kita memilihnya.

Tentunya, masing-masing manusia punya kondisi yang berbeda. Tapi saya yakin (apalagi untuk perempuan) ini bukanlah hal yang mudah. Tidak harus pergi ke pulau seberang saja sudah aduhai berat. Tapi saya selalu bangga kepada mereka (terlebih perempuan) yang berani meninggalkan zona nyamannya (untuk menderita), mengasah diri dan berkumpul ilmu. Bagi saya, menderita itu ASYIK.

Kenapa? – karena saat kita menderita, fokus kita lebih terarah, kita tidak lupa diri, dan lebih pintar menitipkan diri.

Bagi saya, setiap kota adalah adalah tempat asyik untuk belajar. Belajar bagaimana uniknya berbudaya, berbahasa, bertatakrama, dan tentu, bagaimana saya belajar untuk berteman. Saya lahir dan dibesarkan oleh keluarga yang sangat hebat di Kuningan Jawa Barat. Semenjak kecil, tatakrama di keluarga saya sangat kental sekental-kentalnya. Tapi, mereka tak mengikat harus ke mana saya ketika besar. Hampir seluruhnya (kecuali Mamah dan ke dua Tante perempuan saya), mengisi di seluruh wilayah Indonesia bahkan Luar Negeri, dari Jakarta-Solo-Surabaya-Lombok- hingga—Papua – Hingga daratan Eropa. Jadi, bagi keluarga saya, pergi sejauh mana pun adalah enteng, ketika berpegangan dengan kukuh.

Hingga pada Tahun 2013 setelah saya lulus SMA, saya menentukan Lombok untuk tempat saya belajar dan menemukan sesuatu yang ingin saya temukan. Lombok adalah kota yang spesial bagi saya (walau saya tidak lahir dan besar di sini). Suasana Lombok sangat sesuai dengan hobi saya yang GILA JALAN dan tentu Lombok juga surganya kuliner pedas yang yahud. Dari Lombok saya banyak belajar mengenai hal baru dalam hidup saya. Even ketika saya harus jatuh sakit dan meringkuk di kosan, sangat jauh dari keluarga, terkadang Lombok lah yang menghibur dan menjadi perantara mengobatinya.

Tentu, telah banyak sekali pahit-manis yang sudah terlalui. I DID AND EVERYTHING HEALS BY ITSELF. Ketika kuliah bahkan ketika saya telah bekerja. Ya kuliah saya gitu-gitu aja, standar lah. Saya juga bekerja gitu-gitu aja, masih dalam standar. Tapi dengan standar yang sangat sederhana inilah saya mampu merangkainya dengan corak saya sendiri. Kadang tak mudah menghasilkan corak di tempat yang sangat asing seperti ini.

Hingga tiba waktu saya telah lulus kuliah, dan hingga tiba waktu juga keluarga saya follow up saya agar pulang ke Kuningan, at least, di sekitar Jawa Barat/Tengah/Timur, tidak harus seberang menyeberang. Meski saat itu saya harus mengecewakan Mama dengan menunda permintaannya. Hingga saya memilih bekerja di Perusahaan Swasta di Lombok, tetap LOMBOK. Terlebih perusahaan ini adalah perusahaan jasa pariwisata di pulau yang sangat terkenal bagi traveler dunia. Tempat saya bekerja saat ini berbeda pulau dengan kota saya kuliah sebelumnya, meski masih di Provinsi yang sama. Tentu, TEMPAT BARU. Saya harus belajar dari nol tentang kesederhanaan yang menjadi corak saya. Awalnya, saya ragu saya bisa bertahan lama di Perusahaan ini, until times conveys certainty, karena ada betah saat kita ingin arah. Saya perlu arah untuk belajar bahasa, bisnis, suasana, pertemanan, dan tentu saya masih perlu waktu lama berada di sini. Itulah mengapa saya bertahan bekerja di tempat sangat jauh dan sangat berisiko seperti ini. But really, I have everything good around me. Friends and job that I love.




Saya ingin tinggal lebih lama, untuk alasan yang hanya rahasia saya dan Tuhan saja.

Saya ingin tinggal lebih lama. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar