Saya memang mungil, tapi saya lincah.
I’m nimble in loving and forgetting.
Even if loving is short and forgetting so long, karena terkadang sebagian ruang ataupun kekasih (maksud:luas) layak untuk
ditinggalkan.
Hidup setelah petir menyambarmu kadang tak
mudah, tapi percayalah, jika kita meneruskannya dengan kesibukan sendiri itu
akan berganti nikmat. Seperti yang pernah seorang katakan Tahun 2013 pada saya
di Mercusuar kota lama Ampenan, sebutlah kekasih lama, walau (tak) secara simbolik,
dia berkata bahwa “YI DOK GONG DOK—penawar bisa ular itu ada pada ular itu juga”. Ngena gak maksudnya? Berhenti
menyalahkan orang lain, karena diri kita sendiri yang hanya bisa
menyembuhkannya. Isn’t right? Inilah yang membuat kita hidup, kita perlu
berbagai rasa agar menyadarkan bahwa kita masih hidup. Alam butuh hujan besar
dan petir menyambar agar pelangi indah muncul setelahnya.
Setiap ruang yang saya
singgahi pasti memberi saya sepaket kesan; bahagia dan luka. Bagi saya itu
adalah mutlak satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Contoh, ketika saya sedang
merangkai tugas akhir skripsi di perkuliahan. Orang lain menanggap itu berjalan
‘lempeng’ (bahasa; mulus/lurus). But who
knows saya harus terkikis agar bisa melalui itu semua. Banyak ungkapan Pembimbing
saya yang menyakitkan (namun mendidik) agar saya mengkualitaskan kecepatan yang
saya targetkan. Saat itu, untuk ukuran anak berusia 20
tahun sangat-sangat-sangat-sangat-sangat
meruntuhkan. Kedua, di kegiatan lapangan, banyak hal yang membuat saya runtuh
kembali karena hasil analisis yang pointless,
ya mau gamau saya harus berulang kali turun ke Perusahaan
tempat saya penelitian. Ketiga, ke dua orang tua saya bercerai, even ketika
saya tak ada semangat apapun, mereka yang saya andalkan juga runtuh. Anyway, saya cerita sampai sini agar kalian memahami
secara kaffah bagaimana kondisi saya saat itu, karena saya benci disotoy-kan
orang.
Saat
itu saya mengunjungi Perpustakaan Daerah, tempat favorit saya belajar yang
mengingatkan saya pada kalimat ‘Yi Dok Gong Dok’. Dan memang benar, penawar
keruntuhan saya pada waktu itu adalah ada pada diri saya sendiri. Saya
merangkak dan kembali menata semuanya dengan sisa-sisa pola yang saya rangkai
sebelumnya, walau sebagian terpecah belah. Saya yakin, kelak akan ada pelangi
indah yang hadir.
Karena terkadang menikmati lara adalah nikmat, there’s no reason to stop, no reason to return.
Tiga
bulan setelahnya saya benar-benar selesai dan melengkapi Ujian Skripsi di Bulan
Maret 2017. Oh masa-masa kelam. Setelah Ujian Skripsi berlangsung, saya mencoba
melamar kerja ke sana- ke sini (saat itu belum ada SKL ataupun fotokopi
ijazah). Dan hebatnya kuasa Tuhan, Ia mengirim saya ke Pulau favorit saya
ketika kecil, untuk meliburkan lelah saya dan memperkerjakan kemampuan saya.
Waktu saya terisi dengan produktif bersama lingkungan baru. And well, saya
bekerja di perusahaan jasa pariwisata swasta milik orang luar. Di ruang kerja
saya duduk bersama manager bule dari Swedia, tidak rasis dan sangat toleran. Berbagai
kemudahan dan fasilitas Tuhan kirimkan melalui mereka, even pada saat itu saya
masih fresh graduate yang tidak ada
pengalaman apapun, namun mereka toleran membimbing saya hingga saya lincah pada
bulan ke dua setelahnya. Berkah ini adalah ruang agar saya lupa terhadap
lelah-lelah di tempo bulan ke belakang. Ini adalah bagaimana adilnya Tuhan
saya, pada saya.
Lincahlah dalam hal berjalan ketika kakimu terluka, meski kamu mungil. ‘Cause when all is well, you're going to look back on this period of your life and be so glad that you never gave up. – Haruki Murakami